3L3W Lotus Step 1
Chapter 5 part 2
Tian
Bu mencernanya lama sekali sebelum menerima kenyataan bahwa Yang Mulia
benar-benar mengangkat saudara di dunia fana.
Sungguh
luar biasa bahwa Yang Mulia Pangeran Ketiga dapat berbicara lebih dari dua
patah kata kepada manusia. Hari ini ia benar-benar berbicara banyak dengan anak
muda ini, kebanyakan dari omongannya adalah kata-kata yang membosankan, yang
mengejutkan Tian Bu.
Ia
berpikir, apakah karena pemuda ini tampan? Namun dalam kesan Tian Bu selama
sepuluh ribu tahun terakhir, Yang Mulia Ketiga bukanlah orang yang dangkal. Bai
Qian, wanita tercantik legendaris di Klan Dewa, dan saudara laki-lakinya Bai
Zhen, secara logika, mungkin lebih rupawan dari pemuda ini, namun ia belum
pernah melihat Yang Mulia berhubungan dengan Bai Zhen.
Pikiran
Tian Bu pun berkelana lagi.
Ketika
perhatiannya teralihkan, mereka berdua sudah hampir selesai makan. Mereka
pernah berbicara sesekali sebelumnya, tetapi Tian Bu tidak mendengarnya dengan
jelas.
Pada
saat ini, ia tiba-tiba mendengar Yang Mulia berkata secara tiba-tiba: "Aku
punya banyak waktu luang hari ini."
Kelopak
mata Tian Bu berkedut dan ia menyangkal dalam hatinya: "Yang Mulia, Anda
tidak menganggur hari ini. Ada satu meja penuh dokumen di ruang kerja yang
harus Anda tangani. Guru Kekaisaran menyerahkan pesan yang mengatakan bahwa ia
akan datang untuk berkunjung pada sore hari. Putri Yan Lan juga mengatakan
bahwa ada beberapa lukisan yang akan ditunjukkannya pada Anda sore ini
...." Meskipun ia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka berdua
katakan sebelumnya, ia merasa bahwa ia paham betul maksud dari ucapan Yang
Mulia Pangeran Ketiga.
Cheng
Yu juga memahami maksud Yang Mulia Ketiga. Ia berkedip dan berpikir bahwa yang
dimaksud Lian San adalah ia tidak melakukan apa-apa hari ini, jadi ia harus
menemaninya sepanjang hari. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Toh, makanan
ini diundang tiga kali berturut-turut, dan ia menikmatinya dengan penuh suka
cita. Sebagai manusia, ia harus selalu menunjukkan rasa terima kasih dan
membalas kebaikan. Tetapi satu-satunya masalah adalah ia hanya membawa sepuluh
tael perak. Hiburan apa yang bisa ia cari dengan menghabiskan sepuluh tael
perak?
Ia
berkata, "Lalu ...." untuk sesaat dan kemudian menyarankan,
"Kalau begitu, ayo kita dengar-dengar soal buku nanti?"
Lian
San meminum sup itu perlahan tanpa berkomentar apa pun.
“Menonton
pertunjukan?”
Lian
San masih belum mengutarakan pendapatnya.
“Chui Wan?”
(T/N:
捶丸 Chuí wán - Chuiwan adalah
sebuah permainan di Tiongkok kuno. Aturannya mengingatkan pada golf modern.
Buku Dongxuan lu, yang ditulis oleh Wei Tai dari dinasti Song, mendeskripsikan
bagimana seorang pejabat Tang selatan mengajari putrinya untuk memainkannya.
Permainan tersebut menjadi populer pada zaman dinasti Song. Contohnya.)
"Mu She?"
(T/N:
木射 Mù shè - Permainan mirip
bowling versi zaman dulu, 15 pinnya terbuat dari bambu dengan ditulisi beberapa
kata, 10 ditulis dengan huruf merah, 5 dengan huruf hitam. Jika pemain
melemparkan bola dan mengenai huruf hitam, mereka kalah. Sebaliknya jika
mengenai huruf merah, mereka terhitung menang. Contoh gambarnya.)
Ia
bahkan terpikirkan sesuatu, "Ayunan?"
Lian
San meletakkan mangkuknya dan memandangnya seolah-olah ia adalah seseorang
dengan keterbelakangan mental.
Cheng
Yu menggaruk kepalanya dan tanpa sengaja melepas pelindung keningnya, lalu
buru-buru mengikatnya kembali. Sambil mengikatnya, ia berkata: "Karena kau
tidak menyukai hal-hal ini," ia berpikir sejenak: "Kalau begitu aku
akan membawamu ke tempat yang baru." Ia melengkungkan matanya selagi
mengenang, "Meskipun Kakak Lian San sangat pemilih, kau mungkin tidak akan
pilih-pilih tentang tempat itu, kau pasti akan menyukainya!"
Setelah
selesai makan di Que Lai Lou, Tian Bu dikirim kembali ke kediamannya oleh Yang
Mulia-nya sendiri, sementara Yang Mulia-nya dikirim oleh Cheng Yu untuk tinggal
di kereta Kediaman Lian.
Cheng
Yu memerhatikan selagi tirai kereta diturunkan, lalu berbelok ke toko obat
secara diagonal di seberang Que Lai Lou. Ia buru-buru memesan setengah kilogram
bubuk realgar, beberapa siung bawang putih dan beberapa potong kain kasa, dan
berjongkok di sana untuk mengotak-atik sebentar, membuat beberapa bola kain
kasa seukuran kepalan tangan.
Ketika
situasinya mendadak berubah, Cheng Yu memasukkan beberapa bola kain kasa ke
dalam kantong kertas tebal dari Tong You
segar dan membawanya keluar pintu.
(T/N:
桐油 tóng yóu - minyak sayur
pengering terbaik yang berasal dari pohon Tong, memiliki karakterisstik yang
cepat kering, ringan, tahan panas, tahan asam dll.)
Ketika
ia melihat orang-orang melarikan diri di jalan, ia tidak tahu apa yang terjadi.
Lalu, ia melihat kios pemerah pipi dan kios perhiasan dirobohkan satu demi
satu. Oh, ia tahu apa yang sedang terjadi.
Keamanan
publik di ibu kota hampir selalu baik, tetapi ada banyak pesolek di bawah kaki
sang Kaisar. Dalam sepuluh hingga setengah bulan, semua orang akan berebut
hal-hal seperti sabung ayam dan antek-antek yang menculik para gadis. Suara
bentrokan pedang mencapai telinga Cheng Yu, dan ia berpikir, 'Wow, mereka
melakukan pekerjaan yang cukup besar hari ini, bahkan menggunakan pedang.'.
Alhasil,
saat massa kabur dan meninggalkan arena pertarungan dalam keadaan tunggang-langgang,
ia melihat pertarungan di hadapannya bukanlah perkara kecil: di tengah jalan
puluhan langkah jauhnya, sekelompok pria bertopeng sedang menyerang seorang
pemuda berpakaian hitam dengan pedang. Pemuda itu juga membawa serta seorang
wanita berpakaian putih yang tidak bisa seni bela diri.
Ada
tujuh atau delapan pria bertopeng, setiap gerakannya sangat kejam dan tanpa
ampun. Setiap gerakan ditujukan untuk membunuh seseorang. Untungnya, pemuda
berbaju hitam itu sangat terampil, dan sambil melindungi wanita itu,
memanfaatkan pagar di sampingnya, ia mampu mengalahkan tujuh atau delapan
orang, dan ia masih berada di atas angin. Sosok dan gerakan pedang pemuda itu
menjadi sangat cepat, Cheng Yu tidak bisa melihat dengan jelas penampilan
pemuda itu, dan ia tidak berniat menyaksikan kericuhan itu.
Tuan
Muda Yu dapat melakukan segalanya mulai dari menunggang kuda hingga memanah dan
menendang Cu ju, tetapi Tuan Muda Yu
tidak tahu seni bela diri. Ia tahu nilainya sendiri. Begitu ia mengerti bahwa
ini adalah kisah pembunuhan di jalan, ia segera berbalik dan merangkak ke dalam
toko obat, mengambil posisi di sebelah pemuda di dalam toko obat dan
bersembunyi dengan tulus.
Separuh
pejalan kaki di jalan panjang itu dengan cepat dibersihkan, dan separuh lainnya
yang tidak bisa berlari cepat masih berteriak dan melarikan diri. Di tengah
kerumunan, seorang wanita tua terdorong-dorong hingga terjatuh di depan toko
obat. Jalanan sangat kacau, jika dua pria muda dan kuat tidak sengaja
menginjaknya, wanita tua ini akan mati.
Faktanya,
Cheng Yu sedikit takut dengan kilatan pedang, tetapi ketika ia melihat wanita
tua itu, ia tidak tahan. Ia pun menghela napas, menjatuhkan kantong kertas ke
tanah, dan berlari keluar. Akibatnya, begitu ia membantu wanita tua itu berdiri
dan berencana untuk setengah membantu dan setengah menyeretnya ke toko obat, ia
melihat sebuah pedang besar berputar ke arahnya.
Cheng
Yu terperanjat.
Saat
matanya melewati Cheng Yu, Ji Ming Feng terkejut. Kemudian ia melihat pedang
yang mengarah ke arah Cheng Yu. Sebelum ia mengucapkan kata
"menghindar", pedang tajam di tangannya telah dilepaskan dan ia
mengejarnya.
Awalnya,
tujuh pria berbaju hitam hampir dihabisi oleh Ji Ming Feng. Tiga tewas dan
empat luka parah. Orang yang paling mampu bertarung mengambil napas terakhirnya
di depan tanah dan menancapkan senjatanya ke Qin Su Mei, yang bersembunyi di
sampingnya. Ketika ia berbalik dan mengibaskan pedangnya, ia tidak menyangka
ada seseorang yang berdiri di sisi tempat pedang itu terbang. Di sana
berdirilah Cheng Yu.
Ji
Ming Feng tahu bahwa Cheng Yu pintar. Ia hampir menjadi gadis terpintar yang
dikenalnya, tetapi hari ini ketika bahayanya begitu besar, Cheng Yu melihat
pedang panjang itu terbang melewatinya dan berdiri di sana tanpa bergerak.
Tidak peduli seberapa cepat pedang pengejarnya, ia tidak dapat mengejar pedang
panjang yang selangkah lebih maju, dan Ji Ming Feng merasa dingin sekujur tubuhnya.
Melihat
ujung pedangnya hanya berjarak dua atau tiga kaki dari Cheng Yu, sebuah kipas
lipat yang tertutup tiba-tiba terbang keluar dari sudut yang rumit.
Kipas
lipatnya berwarna hitam seluruhnya kecuali ada sedikit cahaya merah di bagian
bawah kipas, entah apa itu. Tepat ketika ujung pedangnya berada sekitar dua
kaki dari Cheng Yu, kipas tersebut mengenai bilahnya dengan akurat, menimbulkan
suara dentang, terlihat jelas bahwa tulang kipas tersebut terbuat dari logam.
Seluruh pedang panjang itu dibelokkan dengan tajam. Tetapi biarpun seluruh
kipasnya terbuat dari logam hitam, itu pasti benda ringan yang tidak bisa
menghalangi kekuatan pedang panjang. Biarpun itu adalah benda yang sangat
ringan, akan tetapi kipas itu menjatuhkan si pedang panjang yang beratnya dua
puluh atau tiga puluh pound dan terbang secara diagonal.
Sebuah
bait terukir di pintu toko obat tempat Cheng Yu baru saja bersembunyi,
berbunyi, "Tidak ada obat ajaib di gunung makhluk abadi, tetapi ada resep
yang luar biasa di pasaran." Pedang panjang menakutkan yang dijatuhkan
oleh kipas lipat itu ujungnya menancap ke dalam kata "Qi" dan
menembus tiga inci ke dalam kayunya, menunjukkan keterampilan luar biasa dari
si pelempar kipas.
Dengan
kekuatan yang begitu kuat, masuk akal jika pedang panjang tersebut akan
menghasilkan gaya reaksi setelah terkena kipas lipat, dan tidak akan mampu
mendorongnya kembali ke jalur semula. Tetapi untuk beberapa alasan, setelah
kipas hitam bertabrakan dengan pedang panjang, itu benar-benar bergerak di
jalur yang sama. Kipas itu terbang kembali ke arah kedatangannya, dan tujuannya
sepertinya adalah kereta mewah yang diparkir di seberang jalan.
Saat
kipas lipat mendekat, sebuah tangan terulur dari balik tirai kereta. Sebuah
tangan yang cantik dan ramping terlihat dari bagian bawah lengan berwarna putih
keperakannya, memancarkan keanggunan yang tak terlukiskan di bawah sinar
matahari yang cerah. Itu adalah tangan seorang pria. Kipas lipat hitam itu
jatuh ke tangan pria itu, tangan itu membelai gagang kipas dengan santai,
sebelum mengambilnya kembali.
Di
bawah terik matahari, ketika pedang panjang itu mengarah ke wajahnya, Cheng Yu
merasa tidak memikirkan apa pun saat itu.
Ia
tidak memikirkan apa pun, tetapi bayangan pedang sporadis di makam kuno
Kerajaan Nan Ran tiba-tiba terlintas kembali di benaknya seperti hantu, dan
suara wanita yang baik hati berbisik di telinganya: "Jangan takut, Putri.
Jangan takut." Saat suara wanita itu terdengar, pandangannya menjadi
kabur, dan Cheng Yu merasa linglung sejenak.
Si
wanita tua, yang setengah dipapah oleh Cheng Yu ketika pedang panjang itu
menyerang, tidak melihat adegan mengejutkan ini karena punggungnya menghadap ke
area pertarungan. Ketika pisau itu menusuk huruf di bait toko obat, ia tidak
tahu apa yang terjadi. Tetapi ia baru saja melihat Cheng Yu yang tidak bergerak
dan menariknya. Untung saja pemuda yang sedang meminum obat di toko itu agak
berani, ia segera berlari keluar dan membantu wanita tua itu masuk ke toko,
lalu berbalik dan pergi membantu Cheng Yu.
Baru
kemudian Cheng Yu bereaksi dengan linglung, tetapi pandangannya masih kabur. Ia
melihat sekeliling dengan pandangan kosong dan menemukan bahwa tidak ada orang
di jalan, hanya menyisakan dirinya dan seorang pemuda berpakaian hitam sekitar
sepuluh langkah jauhnya. Gadis berbaju putih berdiri lebih jauh.
Matanya
masih kabur, dan ia hanya bisa melihat gambaran kasar sosok manusia. Ia tahu di
dalam hatinya bahwa kedua orang ini pastilah pria dan wanita yang baru saja
dikepung oleh pria bertopeng. Ia tidak mengerti situasi saat ini, jadi ia mengucek
matanya dengan lengan bajunya.
Ketika
Cheng Yu mengucek matanya, Ji Ming Feng mengambil satu langkah ke depan, tetapi
tidak mendekat. Ia menatapnya dari jarak itu tanpa mengucapkan sepatah kata
pun.
Lian
Song awalnya membuka tirai kereta untuk melihat apakah Cheng Yu ketakutan,
tetapi tatapan Ji Ming Feng tertuju pada Cheng Yu dan pendekatannya yang tidak
disengaja itu jatuh ke matanya. Ia mengangkat tirai kereta dan menggantungnya
di kait batu giok hitam di dalamnya, lalu mengambil buku yang barusan
dibolak-baliknya dengan santai sembari menunggu Cheng Yu, tetapi ia tidak
berniat membaliknya, dan hanya menggulungnya di tangannya. Ia duduk di kereta
dan memandang kedua orang itu. Matanya datar, dan buku di tangan kanannya menepuk
lututnya satu per satu.
Ketika
Cheng Yu sudah mengucek matanya, ia merasakan seseorang sedang menatapnya.
Ketika matanya sudah jernih, ia pun mendongak dan bertemu dengan tatapan Ji
Ming Feng. Ia tertegun sejenak, dan kemudian wajahnya benar-benar pucat pasi
dalam sekejap.
Tangan
Ji Ming Feng yang memegang pedang mengencang dan ia memanggil namanya: "Ah
Yu."
Cheng
Yu berbisik: "Ji Gong ...." mengubah kata-katanya: "Tidak, Ji Shi
Zi." Ia berhasil menenangkan diri: "Aku tidak menyangka akan
bertemu Ji Shi Zi di sini. Bulan lalu
kudengar bahwa pangeran mengalahkan Nan Ran, dan Shi Zi menemani Wang Ye datang ke ibu kota untuk
melaporkan tugas-tugasnya."
(T/N:
世子 shì zǐ - bisa diartikan putra
mahkota/putra pertama dari kaisar dan permaisuri. Sedangkan王爷
wáng ye lebih ke sebutan untuk orang-oranag yang berpangkat sebagai pangeran
atau duke. Dan dua-duanya bisa diartikan pangeran kalo di Indonesiakan, jadi
saya pake sebutan aslinya aja ya.)
Ji
Ming Feng berkata: "Jika bisa mengalahkan Nan Ran, kau dapat berkontribusi
...."
Cheng
Yu tidak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya. Ia melihat pria bertopeng
yang tergeletak tidak jauh dari sana dan tiba-tiba mengubah topik pembicaraan
Ji Ming Feng: "Ibu kota selalu damai, tetapi aku tidak tahu mengapa Shi Zi bertemu orang-orang gila seperti
itu hari ini. Aku khawatir Shi Zi
mungkin sudah terkejut, ah, petugas patroli akan datang," ia mengerucutkan
bibirnya dan berkata, "Ji Shi Zi
masih sibuk, kurasa aku tidak akan menundanya ...."
Mata
Ji Ming Feng hampir tertuju padanya, dan ia menyela dengan paksa: "Mengapa
kau pergi diam-diam begitu saja saat itu?"
Cheng
Yu sepertinya tidak menyangka ia akan menanyakan hal ini. Ia menundukkan
kepalanya dan terdiam beberapa saat. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, ada
senyuman di bibirnya. Pipinya seputih salju, tetapi ia memiliki senyuman palsu.
Ia berkata dengan suara rendah namun jelas: "Tidakk ada yang namanya
diam-diam. Aku ingat apa yang harus ditinggalkan dan aku sudah menyerahkan
segalanya kepada Shi Zi."
Ji
Ming Feng mengatupkan bibirnya.
Ji
Ming Feng tidak berbicara, dan Cheng Yu tidak tahu harus berkata apa. Wajahnya
terlihat tenang, namun nyatanya ia benar-benar bingung. Ia tidak mengerti
kenapa ia bertemu Ji Ming Feng di sini. Ia sebenarnya tidak ingin melihat siapa
pun yang berhubungan dengan Istana Li Chuan lagi. Namun hari ini, ia melihat
dua orang pada pandangan pertama, seorang pangeran bermarga Ji. Ia melirik
wanita berpakaian putih yang masih berdiri agak jauh, sekaligus istri Shi Zi itu.
Kepalanya
mulai terasa pusing dan nyeri. Ia memegang dahinya dengan wajah pucat, ingin
segera pergi. Ia melihat ke kiri dan ke kanan sejenak, tetapi melihat Ji Ming
Feng masih tidak berbicara. Ia pun mengulangi kata-kata perpisahan yang baru
saja diucapkannya dengan suara rendah: "Ji Shi Zi masih sibuk, dan aku juga sibuk. Masih ada beberapa hal yang
harus kulakukan, jadi aku tidak akan menunda Yang Mulia." Saat ia
mengatakan ini, ia ingin mengucapkan selamat tinggal, tetapi ia ingat bahwa ia
mengenakan busana pria, jadi ia tidak menekuk lututnya. Ia hanya memaksakan
senyuman dan pindah ke toko obat terdekat. Tetapi ia sebenarnya tidak tahu apa
yang akan dilakukannya di toko obat. Kepalanya masih pusing dan sakit.
Ji
Ming Feng berkata: "Kau hanya tidak mau ...."
Tiba-tiba
terdengar suara seorang laki-laki dari kereta di seberangnya: "Mau kemana?
Apa kau tidak tahu jalannya?"
Ji
Ming Feng menolehkan kepalanya dan melihat ke arah kereta itu. Baru pada saat
itulah Cheng Yu ingat untuk apa ia datang ke toko obat. Kemudian ia ingat bahwa
ada beberapa bola kasa miliknya di toko obat. Lalu ia ingat bahwa ia bukannya
menganggap enteng Ji Ming Feng sama sekali. Ia memang punya hal lain yang harus
dilakukan. Ia harus membawa Lian San ke tempat asing untuk menghilangkan
kebosanannya, dan tempat aneh itu adalah gua favoritnya.
Ia
mengambil keputusan dan menjawab sambil bergegas menuju toko obat: "Aku
tahu jalannya, hanya saja masih ada yang ketinggalan di dalam toko, jadi tunggu
aku."
Di
toko obat, ia mengeluarkan botol obat kecil yang dibawanya, menuangkan pil
penenang, mengerutkan kening ke arah pil itu sebentar, dan kemudian menelannya
begitu saja.
Ketika
Cheng Yu memasuki toko obat, petugas patroli terkemuka datang untuk menanyai Ji
Ming Feng. Dari kata-katanya, ia tahu bahwa ini adalah seorang pangeran dari
daerah perbatasan, dan beberapa salam hormat pun tidak bisa dihindari. Qin Su
Mei berdiri di samping Ji Ming Feng, dan sedikit demi sedikit, ada lebih banyak
orang di jalan.
Jalanan
yang ramai ini tidak pernah tampak sama lagi, dan kereta berukir indah di
sebelah gedung tetap stabil seperti sebelumnya, tidak peduli apakah jalanan itu
bergerak atau sepi. Tidak hanya kusir keretanya yang sangat tenang, kuda-kuda
di kereta tersebut juga tampak memiliki kemampuan spiritual dan tidak meloncat
atau melompat karena kericuhan massa.
Cheng
Yu berhenti ketika ia berlari keluar dengan kantong Tong You di pelukannya.
Sewaktu ia melihat Ji Ming Feng sedang berbicara dengan utusan itu, ia menghela
napas lega dan berbalik memutar ke kereta bak angin puyuh.
Peristiwa
besar terjadi di ibu kota. Tiga pria bertopeng tewas dan empat tidak sadarkan diri.
Pangeran dari perbatasan juga mendapat beberapa goresan di lengannya. Sungguh
peristiwa besar. Pemimpin patroli sangat teliti dalam pekerjaannya, tetapi
terkadang ia tanpa ekspresi, mengajukan beberapa pertanyaan lagi pada sang Shi Zi.
Meskipun
Ji Shi Zi menjawab semua pertanyaan,
sebagian besar perhatiannya terfokus pada kereta yang berjarak setengah jalan.
Ia
melihat Cheng Yu bergegas ke kereta seperti embusan angin, dan suara laki-laki
yang baru saja didengarnya pun terdengar lagi: "Kau berlari cukup cepat,
kakimu tidak lemas?" Suara itu dingin, tetapi tidak kedengaran dingin.
Cheng
Yu menjawab suara laki-laki itu dengan patuh: "Tadi lemas beberapa saat,
tetapi tidak lagi lemas ketika kau memanggilku ke dalam kereta."
Suara
laki-laki itu berhenti: "Apakah kau takut?"
Cheng
Yu terus menjawab dengan patuh: ".... Tidak juga."
Suara
laki-laki itu samar-samar, "Katakan yang sejujurnya."
Cheng
Yu ragu-ragu: ".... Takut."
Pria
itu tampak tersenyum: "Bilang kau itu bodoh tetapi sikapmu cukup kuat. Kau
tidak menghindari bahaya saat bahaya itu datang. Apa yang sedang kau
pikirkan?"
Cheng
Yu ragu-ragu: "Aku tidak bereaksi. Ada kalanya orang tidak dapat bereaksi.
Kakak Lian San, kau pasti pernah mengalami saat seperti ini. Untuk apa
memarahiku?"
Pria
itu berkata: "Aku belum pernah mengalami saat seperti itu."
Cheng
Yu pun berseru kaget.
Pria
itu menambahkan, "Pernahkah kau memikirkan apa yang akan terjadi padamu
jika aku tidak ada di sini hari ini?"
Cheng
Yu berhenti sejenak dan berbisik, ".... itu akan menyakitkan atau akan
mati."
Ji
Ming Feng mencengkeram gagang pedang di tangannya.
“Jadi
apa yang harus dilakukan ke depannya?” ucap pria itu.
Kali
ini Cheng Yu berhenti untuk waktu yang lama, dan ketika ia berbicara, suaranya
melayang: "Di masa depan ... karena aku tidak bisa melindungi diriku
sendiri, jadi mulai sekarang ... lebih baik tidak pergi berbelanja, kan?"
Hati
Ji Ming Feng tiba-tiba menyusut. Inilah yang dituntutnya agar Cheng Yu lakukan
sebelumnya. Ia selalu menyuruhnya untuk tenang, karena ia tidak bisa melindungi
dirinya sendiri. Ia tidak boleh selalu menempatkan dirinya dalam bahaya dan
menimbulkan masalah bagi orang lain. Tidak lama setelah Cheng Yu pergi, ia
menyadari bahwa kata-kata ini sebenarnya menyakitkan.
Pria
itu tertawa kaget: "Apakah kau bodoh?"
Cheng
Yu berujar pelan: "Jika kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri, kau
tidak boleh menempatkan dirimu dalam bahaya dan menimbulkan masalah bagi orang
lain. Kau tidak boleh membuat kesalahan seperti itu." Ia tampak sedikit
bingung: "Jadi aku mungkin harus sedikit mengurangi pergi berbelanja di
kemudian hari dan tidak menimbulkan masalah bagi orang lain. Bukankah ini
benar? Aku melakukan kesalahan hari ini dan menyusahkanmu, Kakak Lian San
...."
Laki-laki
itu terdiam beberapa saat lalu berkata: "Bahaya yang tidak dapat
diprediksi disebut kecelakaan. Berbelanja itu tidak berbahaya. Apa yang kau
temui di jalan hari ini, disebut kecelakaan. Kecelakaan terjadi dan itu bukan
salah siapa pun."
Cheng
Yu terkejut: “Jadi itu bukan salahku?” Tetapi ia masih bingung, seolah-olah ia
berputar dalam labirin: “Tetapi jika aku tidak memilih untuk pergi berbelanja
hari ini, aku tidak akan berada dalam bahaya, bahkan Kakak Lian San juga tidak
akan bertemu dengan bahaya."
Pria
itu mengulurkan tangannya: “Tentu saja itu bukan salahmu, dan kau tidak
menyusahkanku." Ia berhenti sejenak: "Aku hanya berharap, kau bisa
lebih waspada ketika menghadapi kecelakaan di masa depan."
Ji
Ming Feng melihat pria itu menarik Cheng Yu ke dalam kereta, dari awal sampai
akhir, ia tidak melihat penampilan pria itu. Ia juga tidak melihat ekspresi
wajah Cheng Yu setelah pria itu mengucapkan kata-kata itu.
Jari-jarinya
yang memegang gagang pedang agak kaku karena tekanan. Inspektur di depannya
masih membicarakan sesuatu, tetapi Ji Ming Feng tidak menyadarinya sama sekali,
ia tiba-tiba teringat panggilan Cheng Yu sebelumnya.
Ia
dulu memanggilnya Kakak dengan penuh kasih sayang.
Tampaknya
itu sudah lama sekali.
Ji
Ming Feng berdiri di sana untuk waktu yang lama.
- Bersambung -



0 comments:
Posting Komentar