Consort of A Thousand Faces
Chapter 343 : Terseret Akibat Petasan Sendiri
Xie Yun berjalan ke halaman sebelum menginstruksikan seorang pengawal
terdekat. "Awasi Commandery Princess selama beberapa hari
ke depan; jangan biarkan ia meninggalkan kediaman."
Pengawal itu membungkuk. "Bawahan ini menerima perintah."
Xie Yun mengangguk, dan berjalan menuju ke halamannya sendiri. Ia tidak
menyangka kalau Pei Qian Hao sungguh akan mencari Xie Liu Li. Pernikahan
ini tidak boleh gagal begitu saja seperti ini. Kuncinya di sini adalah Pei Zheng.
Dengan seberapa kuatnya Pei Qian Hao berkembang, ayah angkatnya pasti jadi semakin cemas bahwa Kediaman Pei tidak akan
sanggup mengendalikannya lagi.
Kalau itu kasusnya, aku harus bertemu dengan Pei Zheng. Xie Yun berbalik ke arah lain, sampai di ruang baca sebelum ia
mulai menyiapkan tinta dan kuas.
***
Sementara itu, Feng Chang Qing sudah menyusup masuk ke dalam istana
kekaisaran, dan sedang menuju ke Istana Kedamaian Penuh Kasih. Ketika ia
memikirkan tentang pria berbaju hitam yang pernah ditemuinya sebelumnya, ia
mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia harus lebih berhati-hati kali ini.
***
Hanya Pei Ya Ran dan Pei An Ru yang berada di aula utama Istana
Kedamaian Penuh Kasih selagi orang itu mengeluarkan satu botol berisi bubuk pembuat
cacat itu dari lengan bajunya.
"Ibu Suri, sebotol bubuk obat ini unik. Itu akan langsung
menyebabkan kulit di area yang terkena membusuk. Itu tidak akan menyebabkan
kematian, tetapi serangan pada penampilannya akan fatal." Ia menjelaskan
sewaktu ia menyerahkan botol tersebut kepada Pei Ya Ran.
Pei Ya Ran tidak mengambilnya, dan hanya melirik ke arah si botol
porselen kecil. "Mengapa kau membiarkan Ibu Suri ini melihatnya? Jangan
bilang padaku bahwa kau berencana untuk membuat Ibu Suri ini menjalankan ide
yang kau pikirkan?"
"Ibu Suri, aku tidak punya kesempatan untuk mendekati Su Xi-er.
Jika Anda menurunkan titah agar ia datang ke Istana Kedamaian Penuh Kasih, maka
aku bisa mencari kesempatan untuk beraksi."
Namun, Pei An Ru tidak mengira bahwa rencana yang ia pikir tak bercela
itu akan membuat Ibu Suri terkekeh.
"Mengapa kau harus bergerak di Istana Kedamaian Penuh Kasih?
Bukankah itu sama saja dengan melemparkan semua kesalahan kepada Ibu Suri
ini?"
Pei An Ru bingung. "Ibu Suri, mohon beritahu aku, kalau begitu apa
yang harus kita perbuat?"
"Ibu Suri ini sudah gagal beberapa kali terakhir, tepatnya karena
aku membawanya ke Istana Kedamaian Penuh Kasih sebelum beraksi. Kau harus
bergerak segera setelah kau melihatnya; apa kau mengerti?"
Pei An Ru akhirnya memahami nada berlebih dalam kata-katanya. "Ibu
Suri, dimana Su Xi-er sekarang ini?"
Pei Ya Ran menggelengkan kepalanya. "Ia sangat licik, naik ke
jabatan di Perpustakaan Kekaisaran padahal sebelumnya ia berada di Istana
Samping. Akan tetapi, saat ini ia tidak ada di sana, dan Ibu Suri ini juga
tidak tahu kapan ia akan kembali."
"Apa! Seorang dayang istana bisa meninggalkan istana sesuka
hati?" Mata Pei An Ru membelalak dengan eskpresi tak percaya.
"Yang tidak mungkin akan jadi mungkin saat itu tentang Su Xi-er. Kalau
kau tidak menanganinya sekarang, Su Xi-er akan menggunakan statusnya untuk
menekanmu setelah ia menjadi Hao Wang Fei." Pei Ya Ran semakin
membujuk Pei An Ru.
Pertama kali Pei An Ru memasuki istana adalah untuk memohon pada Pei
Qian Hao agar menyelamatkan ayahnya, tanpa ada rencana untuk merebut posisi Hao Wang
Fei. Namun, kini, karena ayahnya sudah meninggal, ibunya akhirnya berbicara
dari hati ke hati dengannya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sebagai
hasilnya, ia semakin menyadari pentingnya status seseorang. Keluarga
Pei ingin menarik Pei Qian Hao ke pihak mereka, dan akulah satu-satunya wanita
dengan usia yang cocok.
"Ibu Suri, Anda adalah anggota Keluarga Pei. Jika Keluarga Pei
berharap untuk mempertahankan posisi kita yang tak tergoyahkan, kita harus
menarik Pangeran Hao ke pihak kita. Karena aku adalah kandidat yang paling
sesuai, Anda harus bekerja sama denganku." Tidak mengetahui tentang
perasaan Pei Ya Ran terhadap Pei Qian Hao, Pei An Ru tidak mengetahui betapa menyakitkan telinga kata-katanya itu.
Pei Ya Ran mempertahankan ekspresi netral. "Kau benar, Ibu Suri ini
harus bekerja sama denganmu. Jujur saja, sementara belum pasti, kemungkinan
besar Su Xi-er sepertinya berada di dalam Kediaman Pangeran Hao. Bagaimana kau
berencana untuk mendapatkannya?"
"Kediaman Pangeran Hao dijaga dengan sangat ketat, jadi tidak cocok
bagi kita untuk beraksi. Aku akan menunggu Su Xi-er kembali ke istana, atau
sampai perjamuan di malam Titik Balik Matahari Musim Dingin. Ibu Suri, Anda
bisa membantuku menyusup ke dalam Kediaman Pangeran Hao."
Pei Ya Ran mengamati ekspresi serius Pei An Ru. Tidak akan
merugikan jika aku membantunya untuk menyerang Su Xi-er. "Pertama-tama,
kembali ke Kediaman Pei dan tunggu titah lisan Ibu Suri
ini."
Lalu, ia melambaikan tangannya, memberi sinyal agar Pei An Ru mundur.
Pei An Ru mengangguk dan berbalik pergi. Akan tetapi, ia tidak
mengetahui bahwa rencana yang telah dirancangnya dengan teliti akan mendadak
jadi kacau karena satu orang.
Ketika Pei An Ru sampai di jalur kecil istana, seorang pria jangkung
tiba-tiba saja muncul di hadapannya, membekap mulut dan hidungnya, selagi ia
menyeretnya masuk ke dalam hutan di sebelah jalur tersebut.
"Siapa kau?" Pei An Ru terkejut dan panik, terus-terusan
menggeliatkan tubuhnya hingga pria itu menotok titik akupuntur tidurnya,
membuatnya pingsan.
Pria ini, tak lain tak bukan adalah Feng Chang Qing. Ia membungkuk dan
menemukan satu botol porselen kecil yang berisi bubuk pencacat di dalam lengan
baju Pei An Ru.
Karena kau memiliki pemikiran sejahat itu, bagaimana kalau aku
membiarkanmu mencicipi obatmu sendiri?
Feng Chang Qing berlutut dan membuka botol itu, memerhatikan wajah gadis
itu, yang diterangi oleh sinar rembulan. Seorang gadis sepertinya
bergantung pada penampilannya; apabila itu rusak, kemungkinan hidupnya pun akan
rusak.
Tangannya terhenti ketika memikirkan untuk melakukan tindakan sejahat
itu. Namun, sewaktu ia memikirkan tentang bagaimana Pei An Ru tanpa ragu
mencoba melakukan hal yang sama pada Su Xi-er, meski masih muda, ia pun
mengubah pikirannya. Kalau ia sudah seburuk
ini sekarang, bayangkan akan jadi apa ia di masa yang akan datang!
Karenanya, Feng Chang Qing tak lagi ragu-ragu, menuangkan bubuk obat itu
di leher Pei An Ru. Nyaris segera, bisul merah yang tak terhitung jumlahnya
mulai bermunculan dan membusuk.
Kurang dari lima belas menit, lehernya sudah diselimuti dengan bercak
kulit busuk. Feng Chang Qing terkejut. Bubuk obat ini benar-benar
sangat kejam! Kalau ini dibubuhkan di wajah ....
Pada akhirnya, Feng Chang Qing meletakkan botol bubuk obat itu di tanah.
Tepat ketika ia bersiap untuk meninggalkan istana kekaisaran, ia
mendengar suara serak seorang pria. "Mengapa kau hanya menuangkannya di
lehernya saja? Mengapa kau mendadak melepaskan Pei An Ru?"
Feng Chang Qing mengikuti arah suara tersebut, hanya menemukan pria yang
pernah bertarung dengannya di Istana Kedamaian Penuh Kasih.
"Aku tidak berencana untuk bertarung denganmu malam ini. Aku hanya
ingin bicara baik-baik denganmu." Pria berbaju hitam maju ke depan seraya
menyapukan pandangannya di leher Pei An Ru.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Mengapa kau mendadak melepaskan Pei An Ru? Jangan bilang padaku
kalau kau jadi berhati lembut?"
Feng Chang Qing membalas dingin. "Wanita paling memedulikan
penampilan mereka. Gadis ini bahkan masih belum dewasa, jadi aku hanya
menghancurkan sedikit kulit di lehernya untuk memberinya pelajaran."
"Apa hubunganmu dengan Su Xi-er?" Ada tatapan menyelidik di
mata pria itu.
"Kau berusaha membunuh Su Xi-er beberapa kali. Apa hubunganmu
dengannya?" Feng Chang Qing membalas.
"Tidak ada hubungan. Aku hanya menjalankan pekerjaan untuk
seseorang."
Feng Chang Qing menjawab singkat, "Maka kau boleh mengatakan kalau
aku melakukan hal yang sama."
Pria itu tersenyum. "Kau lumayan fasih. Aku penasaran, siapa
majikanmu."
"Aku tidak akan bisa memberitahukanmu itu." Kemudian, Feng
Chang Qing berbalik pergi. Kali ini, pria berbaju hitam itu tidak
menghentikannya.
Tak lama setelah Feng Chang Qing pergi, pria berbaju hitam itu
membungkuk untuk memungut botol porselen tersebut, menuangkan sisa bubuknya ke
wajah Pei An Ru. Tanpa menunggu untuk melihat hasilnya, ia pergi.
Bubuk obat itu mulai berpengaruh, dengan ganasnya membakar semua yang
menghadang jalannya. Rasa sakit yang membara itu merasuki jiwa Pei An Ru,
menyentaknya siuman.
Satu-satunya hal yang tercatat dalam benaknya adalah rasa sakit luar
biasa di wajahnya, menghapuskan segala pemikiran tentang dimana ia, atau siapa
yang membuatnya tak sadarkan diri. Tangannya yang menggaruk-garuk itu menemukan
sebuah botol porselen kosong di sebelah, di tengah rasa sakitnya yang membakar.
Pei An Ru betul-betul panik selagi ia mengangkat tangan untuk menyentuh
wajahnya. Banyaknya benjolan di wajahnya hanya menambah penderitaannya,
jantungnya hampir berdebar keluar dari dadanya.
Beberapa saat setelahnya, jeritan melengking yang diisi dengan rasa
sakit dan penderitaan pun menghancurkan keheningan malam. Para dayang istana
ketakutan ketika mereka mendengarnya, tetapi masih pergi menyelidiki apa yang
terjadi.
Ketika mereka melihat wajah mengerikan di bawah sinar bulan, semua
dayang istana ketakutan sampai-sampai darah terkuras dari wajah mereka.
"Hantu!"
Melihat para dayang istana yang kabur dalam kepanikan, Pei An Ru hanya
bisa menyentuh wajahnya lagi sementara ia pelan-pelan berjalan terhuyung menuju
ke Istana Kedamaian Penuh Kasih.
(T/N : kena azab kau nak An Ru.)

0 comments:
Posting Komentar