Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 367

Consort of A Thousand Faces

Chapter 367 : Di Taman Kekaisaran


Pei Qian Hao menundukkan kepalanya, bernapas di sebelah telinga Su Xi-er. "Dulunya Bei Min hanya menghargai prestasi militer, tetapi perlahan-lahan, sedang mempelajari untuk menghargai sastra sama tingginya. Posisi Guru Agung Kong terus meningkat karena hal ini. Sebagai putri angkatnya, statusmu bisa diterima."

"Pangeran Hao, biarpun Anda telah mengatur agar hamba memiliki status, darah yang mengalir dalam diriku ...." Sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, Pei Qian Hao mencubit pinggangnya.

"Kau tidak diizinkan untuk menyebutkan apa-apa tentang garis keturunan rendahan. Apabila mereka sungguh ingin membahas secara spesifik tentang kelahiran seseorang, Pangeran ini sama sekali bukan bangsawan." Kilat dingin melintas di matanya sebelum ekspresinya kembali normal.

"Hamba akan pergi ke Taman Kekaisaran sore ini. Pangeran Hao, apakah Anda akan mengumumkan secara resmi bahwa Anda akan menikahi hamba?" Su Xi-er mendongakkan kepala untuk menatapnya.

Sudut mulut Pei Qian Hao melengkung ke atas sementara nada bicara dalam suaranya meninggi. "Tidak sabar lagi? Jangan khawatir, tentunya Pangeran ini sudah merencanakannya."

Di saat inilah, ada seseorang yang mengetuk pintu, dan suara Chao Mu terdengar. "Su Xi-er, keluar dan makan siang. Kita bisa pergi ke Taman Kekaisaran untuk menonton pertunjukan opera empat jam lagi."

Su Xi-er menyodoknya. "Pangeran Hao, sembunyikan diri Anda." Ia mulai berjalan menuju ke pintu, tidak menyadari bahwa ia sudah mengatakan sesuatu yang salah.

Namun, sebelum ia bisa melangkah, ia ditarik kembali oleh Pei Qian Hao. "Mengapa Pangeran ini harus bersembunyi? Apa kau takut terlihat oleh orang lain? Apakah Pangeran ini tak pantas dilihat?"

Ketidaksenangannya diperjelas dengan tiga pertanyaan beruntunnya.

Menatapnya, Su Xi-er tidak tahan untuk merasa seakan-akan ia sedang berurusan dengan anak kecil yang ditinggalkan tanpa permen; ia hanya bisa mencoba membujuknya. "Jika orang lain melihat Anda di sebuah pondok di dalam Dapur Kekaisaran, istana kekaisaran bakal gempar."

"Hari ini, istana kekaisaran akan kacau-balau, cepat atau lambat." Pei Qian Hao tidak melepaskan Su Xi-er, malahan memeluknya lebih erat lagi sewaktu ia mendorongnya ke dinding.

Pintunya diketuk lagi, dan Su Xi-er dapat mengetahui ketidaksabaran dalam suara Chao Mu. Apabila aku masih tidak membuka pintunya, dengan kepribadiannya, Chao Mu bisa saja menerobos masuk.

"Takut?" Pei Qian Hao menekannya, manik mata hitam legamnya tampak menyedot jiwa orang dengan daya pikat mereka.

"Tidak takut." Su Xi-er menggelengkan kepalanya dan menjawab lembut.

"Karena kau tidak takut, tidak ada yang perlu dicemaskan jika ia menerobos masuk?" Pei Qian Hao menenangkan dengan suara dalamnya selagi ia menyisir rambut Su Xi-er dengan jemarinya.

Su Xi-er terus memerhatikan ke pintu. "Pangeran Hao, Anda akan mengumumkan pada semua orang bahwa Anda akan menikahi hamba. Meski jika kekacauan akan terjadi, itu seharusnya setelah Anda membuat pengumuman tersebut."

"Su Xi-er,  tidak ada yang bisa menghentikan Pangeran ini melakukan apa yang kuinginkan." Tetapi ia masih membebaskannya dari cengkeramannya sebelum mundur beberapa langkah.

"Ketika kau pergi ke Taman Kekaisaran untuk mendengarkan opera sore ini, kau bisa santai dan menikmati pertunjukannya. Kembali saja ke Perpustakaan Kekaisaran setelahnya." Pei Qian Hao menyarankan sebelum berjalan menuju ke pintu.

Saat ia membukanya, satu-satunya orang yang ada di sana, menunggu dengan hormat, adalah Wu Ling. Namun, ia menjadi panik seketika sewaktu ia berjalan menghampiri Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Tuan Pei dan Commandery Prince Xie sudah makan di Taman Kekaisaran, dan pejabat lainnya juga sudah tiba. Kami hanya kekurangan Anda."

Pei Qian Hao mengangguk dan menuju ke Taman Kekaisaran.

***

Setelah Su Xi-er meninggalkan pondok itu, ia berjalan ke area dimana para dayang istana dari Dapur Kekaisaran makan. Letaknya di halaman belakang, dan hanya beberapa ratus meter jauhnya.

Setelah sampai, ia langsung melihat Chao Mu dan Tan Ge.

Chao Mu sudah menempati satu tempat dan mengambilkan semangkuk nasi untuknya. "Kemana kau pergi? Kau tidak berada di pondok kecil itu? Aku pergi mencarimu barusan ini, tetapi tidak ada jawaban."

"Mmm, aku keluar untuk jalan-jalan sebentar." Su Xi-er menjawab sembari tersenyum, dan mulai menyantap makanannya.

Para dayang istana menghabiskan makanan mereka dalam waktu sekitar lima menit, dengan semua orang yang lanjut memasukkan peralatan makan mereka ke dalam ember untuk dicuci oleh para dayang istana yang bertugas.

Juru masak wanita itu kemudian menyuruh Su Xi-er pergi dan istirahat lagi, sebelum memercayakan seseorang untuk membawanya ke Taman Kekaisaran dalam empat jam lagi.

Sementara untuk Chao Mu dan Tan Ge, mereka berdua ikut dengan Su Xi-er karena mereka berasal dari Perpustakaan Kekaisaran. Segera, hanya mereka bertiga yang beristirahat di dalam pondok kecil itu.

Tan Ge tetap diam, Su Xi-er berpikir keras, dan Chao Mu terus berteriak kalau itu membosankan. Begitu saja, empat jam berlalu, dan ketiganya mengikuti seorang dayang istana yang lebih tua menuju ke Taman Kekaisaran.

Sebelum mereka masuk, Su Xi-er sudah bisa mendengar suara merdu musik bambu sutra. Itu langsung diikuti dengan suara nyaring yang merdu dari seorang pria yang sedang menyanyikan opera, kemudian beralih ke suara merdu wanita.

Para dayang istana hanya bisa berdiri dekat pintu masuk Taman Kekaisaran dan menonton dari jauh. Sekarang ini, sebuah pertunjukan tentang seorang pahlawan yang menyelamatkan seorang gadis dalam kesusahan sedang ditampilkan di atas panggung opera yang tinggi, membangkitkan kegembiraan dari para dayang istana dan kasim.

Tatapan Su Xi-er tertuju pada panggung opera sebentar, sebelum mengalihkannya untuk mencari satu sosok akrab berbaju ungu muda.

Mungkin, Pei Qian Hao yang terlalu memesona, atau Su Xi-er yang sangat familier dengannya, tetapi ia berhasil menemukannya dengan sangat cepat. Ia melihat pria itu dengan santai mengayunkan cawan anggur di tangannya. Melihat ke seberangnya, Su Xi-er melihat kalau Xie Liu Li yang duduk di seberang Pei Qian Hao.

Xie Liu Li menghadiri perjamuan dengan pakaian yang mewah. Mengenakan gaun bunga sakura berwarna merah muda, ia memakai tusuk rambut perak, dan manik-manik kaca pandora yang berkilauan, tampak menakjubkan seperti sekuntum bunga yang mekar dengan bangganya di musim dingin.

Pertunjukan opera di atas panggung mendekati klimaks, menyebabkan para dayang istana dan kasim mulai mengobrol dengan bersemangat.

"Kemampuan bertarung pria itu hebat sekali. Ia berhasil menjatuhkan harimau itu ke tanah!"

"Wanita itu bisa mendedikasikan hidupnya sebagai rasa terima kasih, kan?"

"Mana mungkin? Wanita itu terlahir dari keluarga yang kaya dan makmur, sementara si pria hanyalah seorang penebang kayu biasa. Status mereka tidak sebanding, jadi aku bertaruh kalau keduanya tidak akan bisa bersama."

"Haah, terlepas betapa mereka saling menyukai, masih tidak mungkin untuk melampaui perbedaan status."

Su Xi-er melihat ke arah panggung yang tinggi. Opera ini sengaja direncanakan agar dilihat oleh seseorang.

Dalam waktu kurang dari satu jam, opera itu sudah mencapai akhirnya. Wanita itu menikahi seseorang dengan status yang mirip, sementara pria itu menikahi wanita biasa. Keduanya jelas-jelas saling mencintai, tetapi mereka tidak bisa bersatu karena perbedaan dalam status sosial mereka.

Seorang dayang istana yang sudah menebak dengan tepat pun bangga dan merasa senang akan dirinya sendiri. Dengan santai ia menatap Su Xi-er dan berkomentar, "Lihat, seperti yang kubilang. Seseorang dengan status rendahan tidak bisa menyamai bangsawan."

Chao Mu dapat mendengar nada berlebih dalam ucapannya, dan baru saja akan membalas saat Su Xi-er memberi isyarat padanya agar tetap diam.

"Su Xi-er, orang sudah menginjak-injak kepalamu, tetapi kau masih ingin menahan diri?" Chao Mu memelankan suaranya dan cemberut dengan marah.

"Hari ini adalah perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin istana. Jika kita membuat masalah, nyawa kita akan melayang." Ancaman halus dalam suara Su Xi-er jelas sewaktu ia menyapukan pandangannya ke dayang istana yang berbicara barusan.

Ketakutan, dayang istana itu tak lagi mengatakan apa-apa. Aku tidak boleh secara sengaja mencari masalah hanya untuk kepuasaan sesaat.

Chao Mu mendengus. Su Xi-er memang pintar. Ia berhasil menurunkan ego dayang istana itu hanya dengan satu kalimat sederhana.

Setelah operanya berakhir, rombongan anggota opera pun membungkuk dan undur diri. Departemen Musik Kekaisaran kemudian naik ke atas panggung, dan tak lama sebelum melodi menyenangkan dari instrumen mereka mengalir masuk ke dalam telinga semua orang.

Su Xi-er melihat Xie Liu Li perlahan-lahan bangkit membawa satu guci anggur. Kemudian, ia berjalan ke samping Pei Qian Hao, membungkuk, dan mengatakan sesuatu padanya yang tidak dapat didengar oleh Su Xi-er dari jaraknya.

Setelah itu, ia melihat ekspresi gembira dari banyak menteri sementara mereka mengangguk.

Chao Mu bingung. "Apa yang sedang mereka lakukan? Apakah wanita itu menuangkan anggur untuk Pangeran Hao?"

0 comments:

Posting Komentar