Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 374

Consort of A Thousand Faces

Chapter 374 : Aura Hao Wang Fei


Su Xi-er tahu siapa yang berbicara segera setelah ia mendengar suaranya. Ia berbalik dan membungkuk. "Hamba memberi hormat kepada Ibu Suri." Biarpun itu hanyalah formalitas, aku masih harus menunjukkan pada yang lain bahwa aku 'menghormati' Ibu Suri.

"Mengapa kau tidak mengingat statusmu sebagai seorang pelayan ketika kau menyatakan dirimu sebagai calon Hao Wang Fei?" Pei Ya Ran berjalan mendekat, berhenti tiga langkah jauhnya. Mata phoenixnya dipenuhi dengan penghinaan selagi ia menaksir Su Xi-er.

Pei Ya Ran dapat membedakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Su Xi-er. Warna kulitnya memerah, dan matanya berkilauan dengan binar yang seolah bergerak. Mengapa aku merasa bahwa Su Xi-er yang sekarang ini sangat berbeda dari yang sebelumnya? Selain dari fakta bahwa ia masih cantik, kini ia juga memiliki daya pikat dari seorang wanita dewasa.

Karena Pei Ya Ran masih perawan, ia tidak mengetahui bahwa melakukan perbuatan itu dapat mengubah seorang wanita. Ia hanya bisa mengetahui bahwa Su Xi-er jadi berbeda.

"Ibu Suri, hamba hanya menyatakan fakta sesuai kenyataannya. Mendiang Kaisar juga dalam kondisi kesehatan yang buruk sebelum beliau mangkat, jadi aku yakin bahwa Anda pastinya juga merasa sangat cemas. Perasaan hamba saat ini, sama persis dengan yang Anda miliki dulu." Su Xi-er menyatakan perlahan, tanpa sengaja menusuk hati Pei Ya Ran.

Aku memang cemas ketika mendiang Kaisar jatuh sakit, tetapi bukan dia yang kucemaskan. Aku mencemaskan tentang keluarga Pei, masa depanku, dan karir masa depan Pei Qian Hao di jabatan resmi!

Su XI-er tidak memedulikan ekspresi Pei Ya Ran dan berbalik kepada si pengawal. "Kalau kau bersikeras untuk menghalangiku, aku akan memaksa masuk." Kemudian, ia maju ke depan, mengabaikan tombak panjang si pengawal yang menghadang jalannya.

Apabila ia maju selangkah lagi, ujung tajam tombak itu akan menusuk kulitnya, tetapi langkah kakinya tidak menunjukkan keraguan selagi ia berdiri tegak lurus dan terus maju dengan ekspresi yang serius.

Pengawal itu pun hanya bisa merinding ketika berhadapan dengan auranya yang mengesankan. Pada akhirnya, mereka menyerah di bawah tekanan dan menurunkan tombak mereka.

Pei Ya Ran mengamuk dan mencaci-maki dengan kasar, "Lancang! Bagaimana bisa Su Xi-er, seorang dayang rendahan, memasuki Istana Naga Langit?"

Pengawal itu merasakan detak jantungnya berdebar dengan kencang ketika ia mendengar nama Su Xi-er. Jadi, wanita itu adalah Su Xi-er! Sulit dipercaya, aku sungguh menghadangnya untuk menjenguk Pangeran Hao! Seharusnya aku sudah bisa menebak ketika ia menyatakan dirinya sebagai calon Hao Wang Fei! Tampaknya, karena begitu banyak hal yang terjadi malam ini, sampai-sampai otakku jadi tidak berguna!

Ketika Pei Ya Ran melihat pengawal itu masih bengong, kemarahan kembali menyelimuti dirinya. Namun, ia tahu bahwa sekarang bukanlah waktunya untuk marah-marah kepada para pengawal.

Akhirnya, ia mengibaskan lengan jubahnya dan dengan cepat berjalan masuk ke Istana Naga Langit. Tepat selagi Guru Agung Kong tiba di luar aula istana, ia secara kebetulan melihat Pei Ya Ran mendengus marah selagi buru-buru masuk.

***

Su Xi-er sudah melupakan tentang pahanya yang sakit sementara dengan gesit melesat ke dalam aula samping Istana Naga Langit.

Sekarang ini, Situ Lin sedang menunggu di luar aula samping dengan gelisah, dan ia terkejut ketika ia melihat Su Xi-er. "Bagaimana kau bisa masuk?!"

Menurut peraturan istana, seorang dayang istana yang menerobos masuk secara paksa ke dalam Istana Naga Langit akan dipenggal! Su Xi-er, kau terlalu bernyali!

"Aku berjalan masuk," jawabnya. Ia melirik Situ Lin sebelum matanya melayang menuju ke aula bagian dalam.

Bahkan tanpa berpikir, ia melangkah masuk tanpa memberikan Situ Lin kesempatan untuk menghentikannya. Paman Kekaisaran berada di dalam sana, untuk mencabut anak panah dari dirinya. Bagaimana bisa ia masuk dan mengalihkan tabib kekaisaran?!

Setelah memasuki aula bagian dalam, Su Xi-er disambut oleh pemandangan dari seorang tabib kekaisaran yang sedang mencuci saputangan dengan air panas.

"Siapa di sana!" Tuntut suara yang dingin. Segera setelahnya, ia melihat sepasang mata yang setajam mata elang, berkedip dengan kilau yang dingin.

Namun, mata itu segera berubah jadi lebih hangat ketika pemiliknya menyadari siapakah itu.

Su Xi-er maju ke depan dengan cepat dan memandangi panah yang menancap di sisi kiri dada Pei Qian Hao.

"Jangan khawatir, aku tidak akan mati. Panahnya meleset satu jari dari jantungku." Bibir Pei Qian Hao agak pucat selagi ia mengangkat tangannya untuk membelai rambut Su Xi-er.

Ia terpanah di sisi kiri dadanya. Teknik ini adalah ... Panah Penembus Jantung! Pria berbaju hitam! Su Xi-er langsung menyambungkannya.

"Pangeran ini baik-baik saja." Pei Qian Hao menenangkannya, takut bahwa diamnya Su Xi-er menyiratkan bahwa ia cemas.

Tabib kekaisaran datang membawa saputangan panas. Mempertimbangkan sikap hangat Pangeran Hao terhadap wanita ini, tampaknya, ia bukan orang sembarangan. Oleh karenanya, ia memastikan agar lebih sopan dalam ucapannya.

"Nona, pejabat biasa ini akan membantu Pangeran Hao melepaskan anak panahnya. Tolong minggir ke samping."

Su Xi-er mengangguk dan berpindah beberapa langkah lebih jauh, matanya tidak pernah meninggalkan Pei Qian Hao.

Ketika Pei Qian Hao melihat tatapannya, ia langsung merasa hatinya dipenuhi kehangatan. Tidak buruk, sepadan untuk tertembak panah ini!

"Pangeran Hao, pejabat biasa ini akan memerhatikan tenagaku, dan panahnya akan tercabut dengan sangat cepat." Tabib kekaisaran itu berbicara pelan sementara ia menekankan saputangan itu di dada Pei Qian Hao, menggunakan tangannya yang lain untuk menggenggam batang anak panah itu. Tak lama, panah berlumuran darah pun muncul.

Bahkan, hingga sekarang, mata Su Xi-er masih terpaku pada Pei Qian Hao.

Demikian pula, tatapan Pei Qian Hao tidak pernah lepas darinya. Wanita cenderung takut akan darah, tetapi ia bahkan tidak mengalihkan matanya. Apakah ia sudah terlalu sering melihat darah, atau apakah karena ia menderita hal yang sama dulunya?

Alisnya pun mengerut ketika ia memikirkan ini.

Tabib kekaisaran segera meletakkan anak panahnya ke samping dan menempelkan ramuan obat yang telah ditumbuknya. Setelah diberikan segulung perban oleh Su Xi-er, tak lama sebelum ia selesai membebat luka Pei Qian Hao.

"Pangeran Hao, mohon fokus untuk memulihkan diri selama beberapa hari ke depan. Jangan terlalu banyak bergerak, dan cobalah untuk tidak memaksakan diri ...."

Pei Qian Hao mengangguk. "Pangeran ini akan mengingatnya. Kau boleh mundur."

Tabib kekaisaran menerima perintah itu dan berjalan keluar membawa kotak obatnya.

Su Xi-er langsung melesat maju dan meraih tangannya. "Apakah sakit sekali? Aku melihat alis Anda mengerut saat panahnya dicabut."

"Mengapa kau tidak takut pada darah?"

Su Xi-er agak tertegun dengan pertanyaan dadakan itu, tetapi cepat-cepat pulih. "Aku cemas karena Anda terluka. Aku baru bisa lega setelah aku melihat kalau Anda baik-baik saja."

Barulah setelahnya, Pei Qian Hao merilekskan alisnya. Ia mengangkat tangan kanannya, ingin memeluk Su Xi-er, tetapi dihentikan olehnya.

"Jangan terlalu banyak bergerak. Tunggu, tidak, jangan bergerak."

Melihat sikap Su Xi-er saat ini, ia tertawa. "Menunjukkan sikap seorang Hao Wang Fei dan mengendalikan Pangeran ini?"

"Tentunya aku harus memberitahu Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang keliru. Aku akan mengendalikan lebih banyak aspek di masa yang akan datang. Apakah Anda takut?" Su Xi-er mengeratkan genggamannya di tangan pria itu selagi ia bertanya.

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya, dan menempelkan kening mereka. "Pangeran ini akan mengikuti keinginganmu. Tetapi ...."

"Tetapi apa?"

Melihat bibirnya yang merah, jejak main-main pun muncul di mata Pei Qian Hao. "Pangeran ini ingin menciummu."

Tepat setelah ia selesai bicara, ia menundukkan kepala dan menangkap bibirnya.

Su Xi-er takut kalau ia akan mengulurkan tangannya untuk memeluknya dan merobek lukanya lagi. Karenanya, ia mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya sewaktu ia menciumnya.

Ciuman itu perlahan-lahan menjadi lebih dalam, dan napas mereka menjadi lebih berat. Pei Qian Hao langsung berhenti dan mengarahkan bibirnya ke dekat pipinya. "Su Xi-er, giliran Pangeran ini untuk bertanya padamu. Apakah sakit?"

Tatapan Pei Qian Hao segera beralih ke pahanya.

Su Xi-er langsung mengerti apa yang dimaksudkannya. Karena ia punya tenaga untuk menciumku, itu berarti ia baik-baik saja. Dengan benaknya yang tenang, ia tiba-tiba saja teringat akan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Apakah sakit sekali?" Pei Qian Hao mengeratkan genggamannya di tangan Su Xi-er. Itu pertama kalinya aku melakukan perbuatan itu, dan aku bahkan dalam pengaruh wewangian pekasih. Aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku, dan berakhir menyakitinya.

"Aku baik-baik saja, tidak sakit." Su Xi-er menahan rasa sakitnya dan tersenyum.

Tepat setelah itu, ia merasakan rasa sakit lainnya dari kakinya, bersamaan dengan rasa yang hangat.

Menundukkan kepalanya untuk melihat, ia menyadari bahwa seprainya sudah berubah merah akibat darahnya.

0 comments:

Posting Komentar