Consort of A Thousand Faces
Chapter 366 : Melihatnya
Semua
dayang istana mulai bekerja lebih cepat, menyebabkan jumlah orang yang
berdatangan ke sumur untuk memenuhi baskom kayu mereka dengan air pun
bertambah. Tak lama kemudian, Su Xi-er sudah tidak tahu lagi berapa ember air
sumur yang ditimbanya, tangannya memerah sementara tubuhnya jadi panas.
Ketika
Chao Mu datang, ia melihat kalau tangan Su Xi-er dipenuhi dengan guratan tanda
merah akibat menarik tali sumur dan segera menawarkan, "Kau bisa
membantuku mencuci perlengkapan makan; aku akan menggantikanmu mengambil air
sumur."
Kemudian,
ia bangkit berdiri dan mencoba merebut ember yang sedang dipegang Su Xi-er.
Akan
tetapi, tepat sewaktu ia melakukannya, salah satu dari dayang istana itu
diam-diam mengulurkan tangan dan mencubit betis Chao Mu.
Chao
Mu menjerit kesakitan sementara kakinya ditarik secara refleks, membuatnya
tidak sanggup menjaga keseimbangannya selagi ia terlempar menuju ke arah Su
Xi-er.
Tatapan
Su Xi-er dengan cepat menyapu sekelilingnya, melihat seorang dayang istana yang
berdiri di sebelah tempat Chao Mu tadi. Dayang istana ini adalah yang
kubuat basah kuyup tadi. Sepertinya, ia berhasil berganti ke pakaian kering.
Melingkarkan
satu tangan di sekitar pinggang Chao Mu, dengan gerakan cekatan dari
pergelangan tangan Su Xi-er, ia melemparkan ember di tangannya ke kepala dayang
istana itu.
Tidak
menyangka Su Xi-er menjadi begitu tegas, dayang istana itu lengah saat ember
sumur itu terbang di udara. Ember itu tepat mengenai targetnya, menyebabkan
luka di keningnya yang segera mulai berdarah dan membengkak.
Dayang
istana lainnya berteriak, "Ia sungguh berani untuk melukai
seseorang!" Banyak dayang yang mengacungkan jari mereka pada Su Xi-er,
menyatakan bahwa ia dengan sengaja menargetkan kepala dayang istana lainnya.
Chao
Mu hampir tidak bisa berdiri tanpa bantuan Su Xi-er. Di saat ia berhasil
berdiri tegak, ia sudah marah besar terhadap dayang istana lainnya. "Siapa
bilang kalau ia memukul seseorang? Orang itu jelas-jelas mencubit kakiku dengan
sengaja! Su Xi-er secara tak sengaja kehilangan kendali atas ember sumur
itu!"
Dayang
istana yang terluka itu menopang kepalanya sementara ia menatap Chao Mu
ketakutan. "Kapan aku mencubit kakimu? Tiba-tiba saja kepalaku di pukul,
tetapi sekarang kau memfitnahku!" Ia membalas sambil melirik ke arah para
dayang istana di sekitarnya; jelas bahwa mereka adalah teman dekat.
"Kau
berani bersikap sesombong itu setelah melukai seseorang? Ayo cari seorang
dayang istana senior untuk mengadilinya!" Seorang teman baik dari dayang
istana itu berteriak dan pergi ke halaman depan untuk mencari si dayang istana
senior.
Tan
Ge berjalan ke sebelah Chao Mu. "Kau tidak apa-apa? Apakah kakimu masih
sakit?"
Su
Xi-er melihat ke arah Tan Ge. "Kau juga melihat kalau dayang istana yang
terluka itu mencubit kaki Chao Mu?"
"Iya,"
Tan Ge menjawab pelan.
Chao
Mu mendengus dingin pada si dayang istana yang terluka. "Kau dengar itu?
Ia melihat kalau kau yang pertama mencubitku. Kau melemparkan uang bagus
setelah yang jelek, setelah memberikan istrimu, kau juga kehilangan prajuritmu!
Rasakan!"
Walaupun
dayang istana itu tidak pernah belajar, ia masih bisa mengartikan makna dari
'setelah memberikan istrimu, kau juga kehilangan prajuritmu'. Dengan marah ia
menatap Chao Mu. "Aku tidak akan bicara denganmu. Kita akan menunggu
dayang istana senior untuk datang dan menilai."
Chao
Mu masih ingin melanjutkan, tetapi dihentikan dengan tatapan penuh makna dari
Su Xi-er. Memahami tujuan Su Xi-er, ia hanya bisa menahan amarah dalam hatinya
dan menutup mulutnya.
Tak
lama setelahnya, juru masak wanita yang menugaskan pekerjaan semua orang pun
datang ke sana dan menyapukan matanya kepada seluruh dayang istana.
"Selain dari dayang istana yang menyebabkan masalah, sisanya meneruskan
pekerjaan mereka sendiri." Lalu, ia mengalihkan tatapannya kepada Su
Xi-er, Chao Mu, dan dayang istana yang terluka sebelum melambaikan tangannya.
"Kalian bertiga, ikuti aku."
Tan
Ge menarik lengan baju Su Xi-er. "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi,
kan?"
"Jangan
cemas, kami akan segera kembali." Su Xi-er menjawab dengan suara rendah.
Kemudian, ia pergi ke halaman belakang bersama Chao Mu dan mengikuti si juru
masak wanita itu ke sebuah pondok kecil.
Juru
masak wanita itu menatap Su Xi-er. "Kau tidak terlihat seperti seseorang
yang akan membuat masalah. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebelum
Su Xi-er dapat menjelaskan, dayang istana yang terluka cepat-cepat menyela.
"Dayang Istana Senior, ia mendadak melemparkan sebuah ember ke keningku
tanpa alasan."
Juru
masak wanita itu memelototinya. "Apa aku mengizinkanmu untuk bicara?
Kemana perginya semua peraturan istana yang kau pelajari?"
Dayang
istana itu segera membungkam dirinya sendiri dan memelototi Su Xi-er penuh
kebencian.
Su
Xi-er melihat ke arah Chao Mu sebelum berjongkok dan menggulung celana orang
itu. "Dayang Senior, lihatlah. Masih ada bekas kemerahan yang tampak;
jelas bahwa tenaga yang kuat digunakan untuk mencubit betisnya."
Juru
masak wanita itu menundukkan kepala untuk memeriksa, kemudian berbalik ke
dayang istana tersebut. "Apa lagi yang mau kau katakan? Apakah akan ada
seseorang yang sengaja mencubit betis mereka sendiri dan sengaja menuduhmu?
Dendam apa yang dimilikinya denganmu?"
"Dayang
Senior, Anda harus menegakkan keadilan untukku. Su Xi-er mengguyurku
dengan air sebelumnya, dan sekarang memfitnahku dengan mencubit kaki
temannya." Dayang istana itu mulai mengeluh bersimbah air mata, wajahnya
dipenuhi kepedihan.
Su
Xi-er mendengus sendiri dalam hati. Aku pernah melihat orang bodoh,
tetapi tidak ada yang setolol dirinya. Dengan begitu banyaknya celah, siapa
saja yang punya otak pasti bisa mengetahui kalau ia sedang berbohong.
Sesuai
dugaan, juru masak wanita itu mengangkat tangannya dan menampar dayang istana
tersebut. "Pelayan, seret dia keluar untuk dihukum, dan setelah itu,
kurung dia supaya mengoreksi diri. Kau tidak perlu menonton opera di Taman
Kekaisaran lagi sore ini!"
Segera,
dua kasim masuk ke dalam ruangan dan menyeret paksa si dayang istana yang
meratap itu keluar.
Juru
masak wanita itu menggelengkan kepalanya dan meminta maaf pada Su Xi-er. "Court
Lady Su, pelayan tua ini tidak kompeten dalam mendisiplinkan. Mohon
jangan masukkan ke dalam hati."
Meliihat
kalau juru masak wanita itu sangat sopan, Chao Mu juga mulai terkikik.
"Dayang Senior, Anda terlalu sopan. Court Lady Su murah
hati dan tidak akan menyalahkan Anda."
Juru
masak wanita itu tersenyum. "Court Lady Su, kau bisa istirahat
saja di pondok ini untuk sekarang. Pelayan tua ini akan mengirimkan seseorang
untuk membawamu ke Taman Kekaisaran untuk menonton opera di sore hari."
Su
Xi-er mengangguk dan memerhatikan selagi juru masak wanita itu berjalan keluar
dari pondok sewaktu menutup pintu di belakangnya.
Chao
Mu bingung. "Itu aneh sekali. Ia sama sekali tidak hormat ketika kita
datang ke Taman Kekaisaran, tetapi barusan ini ia tidak bisa berhenti
memanggilmu dengan 'Court Lady Su'."
"Aku
juga merasa itu aneh." Su Xi-er menjawab acuh tak acuh, tetapi ia paham
bahwa Pei Qian Hao kemungkinan mengutus seseorang kemari untuk
menjaganya. Siapa yang tidak akan memberi Pei Qian Hao muka?
Setelah
memikirkan ini, Su Xi-er merasakan kehangatan bangkit dalam hatinya.
"Kau
bisa istirahat, tetapi aku tidak. Aku akan kembali bekerja." Chao Mu
terkikik dan lanjut meninggalkan pondok itu, dan Su Xi-er tidak
menghentikannya.
Mungkin
Pei Qian Hao akan berkunjung nanti. Su Xi-er duduk di bangku dan
memutuskan ia akan menunggu pria itu dengan sabar.
Satu
jam kemudian, pintunya terbuka, dan seorang pria tampan berjubah ungu dengan
motif ular muncul di hadapannya.
Tatapan
Su Xi-er tertuju padanya. Warna ungu polos dan motif ular hitam-jahat
dan berbahaya. Ia menyadari bahwa Pei Qian Hao tidak memakai jubah
dengan warna selain dari hitam, ungu, dan emas.
Pei
Qian Hao menutup pintu dan berjalan ke sisinya. "Kau benar-benar
melamun." Ada jejak main-main dalam suaranya sementara salah satu alisnya
terangkat.
Tidak
ada yang mengetahui bahwa pusat diskusi, Pangeran Hao, sekarang ini berada di
sebuah pondok terpencil di dalam Dapur Kekaisaran.
"Pangeran
Hao, Anda tampak sangat tampan dengan busana Anda hari ini." Su Xi-er
bangkit berdiri dan tersenyum.
Pei
Qian Hao melambaikan tangan dan dengan lembut menyentil
dahinya. "Kapan Pangeran ini tidak tampan?"
Aku
hanya memujinya sedikit, dan egonya sudah meroket.
"Semua
orang di istana mengetahui bahwa Pangeran Hao dan Commandery Princess Xie
bertunangan; beberapa bahkan berspekulasi bahwa tanggal pernikahan akan segera
diputuskan." Su Xi-er mengubah topiknya dengan suara yang tenang.
"Bukan
memilih tanggal; tanggalnya sudah dipilih. Bukankah aku sudah memberitahukannya
padamu? Tujuh hari setelah perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin
istana." Pei Qian Hao melingkarkan tangannya di pinggang langsingnya.
"Hamba
sekarang adalah putri angkat Guru Agung Kong. Status yang Anda rencanakan
untukku cukup bagus, Pangeran Hao." Mata Su Xi-er berbinar, dan ia tidak
melepaskan diri darinya.

0 comments:
Posting Komentar