Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 366

Consort of A Thousand Faces

Chapter 366 : Melihatnya


Semua dayang istana mulai bekerja lebih cepat, menyebabkan jumlah orang yang berdatangan ke sumur untuk memenuhi baskom kayu mereka dengan air pun bertambah. Tak lama kemudian, Su Xi-er sudah tidak tahu lagi berapa ember air sumur yang ditimbanya, tangannya memerah sementara tubuhnya jadi panas.

Ketika Chao Mu datang, ia melihat kalau tangan Su Xi-er dipenuhi dengan guratan tanda merah akibat menarik tali sumur dan segera menawarkan, "Kau bisa membantuku mencuci perlengkapan makan; aku akan menggantikanmu mengambil air sumur."

Kemudian, ia bangkit berdiri dan mencoba merebut ember yang sedang dipegang Su Xi-er.

Akan tetapi, tepat sewaktu ia melakukannya, salah satu dari dayang istana itu diam-diam mengulurkan tangan dan mencubit betis Chao Mu.

Chao Mu menjerit kesakitan sementara kakinya ditarik secara refleks, membuatnya tidak sanggup menjaga keseimbangannya selagi ia terlempar menuju ke arah Su Xi-er.

Tatapan Su Xi-er dengan cepat menyapu sekelilingnya, melihat seorang dayang istana yang berdiri di sebelah tempat Chao Mu tadi. Dayang istana ini adalah yang kubuat basah kuyup tadi. Sepertinya, ia berhasil berganti ke pakaian kering.

Melingkarkan satu tangan di sekitar pinggang Chao Mu, dengan gerakan cekatan dari pergelangan tangan Su Xi-er, ia melemparkan ember di tangannya ke kepala dayang istana itu.

Tidak menyangka Su Xi-er menjadi begitu tegas, dayang istana itu lengah saat ember sumur itu terbang di udara. Ember itu tepat mengenai targetnya, menyebabkan luka di keningnya yang segera mulai berdarah dan membengkak.

Dayang istana lainnya berteriak, "Ia sungguh berani untuk melukai seseorang!" Banyak dayang yang mengacungkan jari mereka pada Su Xi-er, menyatakan bahwa ia dengan sengaja menargetkan kepala dayang istana lainnya.

Chao Mu hampir tidak bisa berdiri tanpa bantuan Su Xi-er. Di saat ia berhasil berdiri tegak, ia sudah marah besar terhadap dayang istana lainnya. "Siapa bilang kalau ia memukul seseorang? Orang itu jelas-jelas mencubit kakiku dengan sengaja! Su Xi-er secara tak sengaja kehilangan kendali atas ember sumur itu!"

Dayang istana yang terluka itu menopang kepalanya sementara ia menatap Chao Mu ketakutan. "Kapan aku mencubit kakimu? Tiba-tiba saja kepalaku di pukul, tetapi sekarang kau memfitnahku!" Ia membalas sambil melirik ke arah para dayang istana di sekitarnya; jelas bahwa mereka adalah teman dekat.

"Kau berani bersikap sesombong itu setelah melukai seseorang? Ayo cari seorang dayang istana senior untuk mengadilinya!" Seorang teman baik dari dayang istana itu berteriak dan pergi ke halaman depan untuk mencari si dayang istana senior.

Tan Ge berjalan ke sebelah Chao Mu. "Kau tidak apa-apa? Apakah kakimu masih sakit?"

Su Xi-er melihat ke arah Tan Ge. "Kau juga melihat kalau dayang istana yang terluka itu mencubit kaki Chao Mu?"

"Iya," Tan Ge menjawab pelan.

Chao Mu mendengus dingin pada si dayang istana yang terluka. "Kau dengar itu? Ia melihat kalau kau yang pertama mencubitku. Kau melemparkan uang bagus setelah yang jelek, setelah memberikan istrimu, kau juga kehilangan prajuritmu! Rasakan!"

Walaupun dayang istana itu tidak pernah belajar, ia masih bisa mengartikan makna dari 'setelah memberikan istrimu, kau juga kehilangan prajuritmu'. Dengan marah ia menatap Chao Mu. "Aku tidak akan bicara denganmu. Kita akan menunggu dayang istana senior untuk datang dan menilai."

Chao Mu masih ingin melanjutkan, tetapi dihentikan dengan tatapan penuh makna dari Su Xi-er. Memahami tujuan Su Xi-er, ia hanya bisa menahan amarah dalam hatinya dan menutup mulutnya.

Tak lama setelahnya, juru masak wanita yang menugaskan pekerjaan semua orang pun datang ke sana dan menyapukan matanya kepada seluruh dayang istana. "Selain dari dayang istana yang menyebabkan masalah, sisanya meneruskan pekerjaan mereka sendiri." Lalu, ia mengalihkan tatapannya kepada Su Xi-er, Chao Mu, dan dayang istana yang terluka sebelum melambaikan tangannya. "Kalian bertiga, ikuti aku."

Tan Ge menarik lengan baju Su Xi-er. "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, kan?"

"Jangan cemas, kami akan segera kembali." Su Xi-er menjawab dengan suara rendah. Kemudian, ia pergi ke halaman belakang bersama Chao Mu dan mengikuti si juru masak wanita itu ke sebuah pondok kecil.

Juru masak wanita itu menatap Su Xi-er. "Kau tidak terlihat seperti seseorang yang akan membuat masalah. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"

Sebelum Su Xi-er dapat menjelaskan, dayang istana yang terluka cepat-cepat menyela. "Dayang Istana Senior, ia mendadak melemparkan sebuah ember ke keningku tanpa alasan."

Juru masak wanita itu memelototinya. "Apa aku mengizinkanmu untuk bicara? Kemana perginya semua peraturan istana yang kau pelajari?"

Dayang istana itu segera membungkam dirinya sendiri dan memelototi Su Xi-er penuh kebencian.

Su Xi-er melihat ke arah Chao Mu sebelum berjongkok dan menggulung celana orang itu. "Dayang Senior, lihatlah. Masih ada bekas kemerahan yang tampak; jelas bahwa tenaga yang kuat digunakan untuk mencubit betisnya."

Juru masak wanita itu menundukkan kepala untuk memeriksa, kemudian berbalik ke dayang istana tersebut. "Apa lagi yang mau kau katakan? Apakah akan ada seseorang yang sengaja mencubit betis mereka sendiri dan sengaja menuduhmu? Dendam apa yang dimilikinya denganmu?"

"Dayang Senior, Anda harus menegakkan keadilan untukku. Su Xi-er mengguyurku dengan air sebelumnya, dan sekarang memfitnahku dengan mencubit kaki temannya." Dayang istana itu mulai mengeluh bersimbah air mata, wajahnya dipenuhi kepedihan.

Su Xi-er mendengus sendiri dalam hati. Aku pernah melihat orang bodoh, tetapi tidak ada yang setolol dirinya. Dengan begitu banyaknya celah, siapa saja yang punya otak pasti bisa mengetahui kalau ia sedang berbohong.

Sesuai dugaan, juru masak wanita itu mengangkat tangannya dan menampar dayang istana tersebut. "Pelayan, seret dia keluar untuk dihukum, dan setelah itu, kurung dia supaya mengoreksi diri. Kau tidak perlu menonton opera di Taman Kekaisaran lagi sore ini!"

Segera, dua kasim masuk ke dalam ruangan dan menyeret paksa si dayang istana yang meratap itu keluar.

Juru masak wanita itu menggelengkan kepalanya dan meminta maaf pada Su Xi-er. "Court Lady Su, pelayan tua ini tidak kompeten dalam mendisiplinkan. Mohon jangan masukkan ke dalam hati."

Meliihat kalau juru masak wanita itu sangat sopan, Chao Mu juga mulai terkikik. "Dayang Senior, Anda terlalu sopan. Court Lady Su murah hati dan tidak akan menyalahkan Anda."

Juru masak wanita itu tersenyum. "Court Lady Su, kau bisa istirahat saja di pondok ini untuk sekarang. Pelayan tua ini akan mengirimkan seseorang untuk membawamu ke Taman Kekaisaran untuk menonton opera di sore hari."

Su Xi-er mengangguk dan memerhatikan selagi juru masak wanita itu berjalan keluar dari pondok sewaktu menutup pintu di belakangnya.

Chao Mu bingung. "Itu aneh sekali. Ia sama sekali tidak hormat ketika kita datang ke Taman Kekaisaran, tetapi barusan ini ia tidak bisa berhenti memanggilmu dengan 'Court Lady Su'."

"Aku juga merasa itu aneh." Su Xi-er menjawab acuh tak acuh, tetapi ia paham bahwa Pei Qian Hao kemungkinan mengutus seseorang kemari untuk menjaganya. Siapa yang tidak akan memberi Pei Qian Hao muka?

Setelah memikirkan ini, Su Xi-er merasakan kehangatan bangkit dalam hatinya.

"Kau bisa istirahat, tetapi aku tidak. Aku akan kembali bekerja." Chao Mu terkikik dan lanjut meninggalkan pondok itu, dan Su Xi-er tidak menghentikannya.

Mungkin Pei Qian Hao akan berkunjung nanti. Su Xi-er duduk di bangku dan memutuskan ia akan menunggu pria itu dengan sabar.

Satu jam kemudian, pintunya terbuka, dan seorang pria tampan berjubah ungu dengan motif ular muncul di hadapannya.

Tatapan Su Xi-er tertuju padanya. Warna ungu polos dan motif ular hitam-jahat dan berbahaya. Ia menyadari bahwa Pei Qian Hao tidak memakai jubah dengan warna selain dari hitam, ungu, dan emas.

Pei Qian Hao menutup pintu dan berjalan ke sisinya. "Kau benar-benar melamun." Ada jejak main-main dalam suaranya sementara salah satu alisnya terangkat.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pusat diskusi, Pangeran Hao, sekarang ini berada di sebuah pondok terpencil di dalam Dapur Kekaisaran.

"Pangeran Hao, Anda tampak sangat tampan dengan busana Anda hari ini." Su Xi-er bangkit berdiri dan tersenyum.

Pei Qian Hao melambaikan tangan dan dengan lembut menyentil dahinya. "Kapan Pangeran ini tidak tampan?"

Aku hanya memujinya sedikit, dan egonya sudah meroket.

"Semua orang di istana mengetahui bahwa Pangeran Hao dan Commandery Princess Xie bertunangan; beberapa bahkan berspekulasi bahwa tanggal pernikahan akan segera diputuskan." Su Xi-er mengubah topiknya dengan suara yang tenang.

"Bukan memilih tanggal; tanggalnya sudah dipilih. Bukankah aku sudah memberitahukannya padamu? Tujuh hari setelah perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin istana." Pei Qian Hao melingkarkan tangannya di pinggang langsingnya.

"Hamba sekarang adalah putri angkat Guru Agung Kong. Status yang Anda rencanakan untukku cukup bagus, Pangeran Hao." Mata Su Xi-er berbinar, dan ia tidak melepaskan diri darinya.

0 comments:

Posting Komentar