Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 365

Consort of A Thousand Faces

Chapter 365 : Titik Balik Matahari Musim Dingin


Su Xi-er memakai mutiara putih itu di lehernya sembari memandangi Guru Agung Kong, memanggil lembut, "Ayah Angkat."

Guru Agung Kong mengangguk, dan ekspresinya menjadi serius. "Kau masih harus memanggilku 'Guru Agung' di depan yang lainnya. Kita tetap harus menghormati peraturan istana, mengerti?"

"Tentu saja. Jangan cemas, Ayah Angkat."

Guru Agung Kong melambaikan tangannya. "Mulai dari sekarang, bukan hanya kau adalah seorang court lady di Perpustakaan Kekaisaran, kau juga adalah putri angkat orang tua ini. Aku sudah melaporkan ini ke Departemen Rumah Tangga Kekaisaran dan Menteri Pendapatan; kau tidak akan lagi dianggap sebagai seorang dayang istana rendahan. Kalau tidak ada yang lainnya; kau boleh teruskan pekerjaanmu."

Su Xi-er mengangguk dan berjalan keluar dari aula utama. Guru Agung Kong menghilang cukup lama setelah mendapatkan informasi kelahiranku. Ternyata, ia harus pergi mengurusi masalah logistik menyangkut status baruku.

Chao Mu sudah menunggunya di halaman. Ia langsung maju ke depan untuk mempertanyakan Su Xi-er ketika ia melihatnya. "Apa yang diinginkan Guru Agung Kong?"

"Tidak banyak. Guru Agung Kong sudah mendengar tentang apa yang terjadi di Taman Kekaisaran kemarin, sehingga ia menasihatiku agar menahan diri, dan jangan membuat keributan." Su Xi-er menyembunyikan kenyataannya dari Chao Mu.

Lalu, ia melihat Tan Ge, yang tatapannya juga tertuju padanya. Mereka berdua bertukar senyuman, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Itu saja?! Mengapa ia harus melakukan hal semacam itu?!" Chao Mu mendengus sebelum menyadari benang merah di leher Su Xi-er. Mutiara yang tergantung di benang itu tertutup oleh pakaiannya.

"Su Xi-er mengapa kau memakai benang merah?"

Su Xi-er tersenyum. "Usiaku 15 tahun ini, ketika seorang wanita akhirnya dewasa. Baru-baru ini, aku membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa kita harus memakai sesuatu yang berwarna merah ketika kita dewasa sehingga itu akan menjadi keberuntungan."

"Begitu. Aku juga mau memakai benang merah saat aku berusia 15 tahun." Chao Mu tertawa terpingkal-pingkal. Namun, ia tidak mengetahui bahwa hari seperti itu tak akan pernah tiba.

"Ayo, kita bertiga akan pergi ke Dapur Kekaisaran untuk membawa air dan membelah kayu bakar hari ini." Meski mereka ditugaskan untuk melakukan pekerjaan kasar, Chao Mu masih bersemangat tinggi.

Bei Min akan sibuk dengan perjamuan selama perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin istana. Itu akan digelar di Taman Kekaisaran, dari makan siang hingga makan malam. Selama masa itu, para dayang istana bisa pergi ke Taman Kekaisaran untuk menonton pertunjukan opera, meski dari jauh.

Chao Mu bergandengan dengan Su Xi-er dengan tangan kirinya, dan Tan Ge di tangan kanannya, secara kebetulan menarik tangan kirinya.

Ketika mereka baru saja meninggalkan Perpustakaan Kekaisaran, Chao Mu menyadari alis Tan Ge yang agak mengerut.

"Ada apa? Apa kau merasa tidak nyaman?" Chao Mu bertanya dengan cemas.

Tan Ge menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tidur nyenyak semalam. Aku baik-baik saja, ayo kita pergi."

"Ingatlah untuk istirahat yang cukup." Su Xi-er menjawab perhatian.

Tan Ge dapat mendengar perhatian dalam suara mereka, menyebabkan hatinya sakit. Ia mengikuti Chao Mu selagi mereka maju ke depan, tetapi tak lagi mengutarakan sepatah kata pun hingga mereka mencapai Dapur Kekaisaran.

Setelah sampai, Su Xi-er melihat bahwa banyak dayang istana yang sedang menyibukkan diri dengan berbagai tugas: mencuci sayuran dan piring, menyapu lantai, membelah kayu bakar, dan menimba air sumur ....

Seorang juru masak gemuk keluar untuk terus menugaskan orang-orang pekerjaan sebelum ia melihat kelompok Su Xi-er. "Kalian bertiga tampak ceria. Siapa nama kalian? Biar kulihat daftar tugas kemarin." Tugas masing-masing dayang istana sudah diputuskan beberapa hari yang lalu.

Setelah kelompok Su Xi-er memberikan nama mereka, juru masak wanita itu memberi mereka masing-masing satu tugas, Su Xi-er diberikan tugas untuk menimba air sumur, Chao Mu mencuci sayuran, dan Tan Ge mencuci piring.

"Lanjutkan pekerjaan kalian sendiri." Juru masak wanita itu kemudian buru-buru pergi dikarenakan Dapur Kekaisaran yang sangat sibuk hari ini.

Chao Mu dan Tan Ge pergi ke satu arah sementara Su Xi-er menuju ke sumur.

Sumur itu terletak di halaman belakang Dapur Kekaisaran. Lubang sumurnya sangat besar, dengan ember-ember yang sesuai.

Tepat selagi Su Xi-er membungkuk untuk mengambil sebuah ember sumur, ia mendengar orang yang diam-diam bergosip di belakangnya.

"Ialah orang yang berusaha merangkak naik dengan menempeli Pangeran Hao, tetapi pada akhirnya, Pangeran Hao akan menikahi Commandery Princess Xie. Lihat, sekarang ia di sini untuk melakukan pekerjaan kasar seperti kita semua."

"Ia terus bermimpi untuk meningkatkan statusnya dan menjadi seekor burung phoenix, tetapi ia harusnya berkaca dulu."

Kedua orang yang bergosip itu tidak begitu jauh dari Su Xi-er, tetapi ia tidak memedulikan mereka. Kebetulan, mataharinya muncul hari ini, tetapi angin yang bertiup masih membuatnya sangat dingin.

Su Xi-er mengangkat seember air sumur, tetapi tidak langsung menuangkannya ke dalam baskom yang besar. Malahan, ia sengaja berpura-pura ceroboh dan mencipratkan air itu kepada dua dayang istana yang sedang bergosip tentangnya barusan ini.

Segera saja, kedua dayang istana itu tampak menyedihkan, basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mereka berdua langsung mengamuk, tetapi mulai menggigil dan bersin-bersin karena dinginnya.

"Aku minta maaf, ini pertama kalinya aku membawa ember sebesar ini, dan aku tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Kalian harus cepat-cepat pergi dan berganti pakaian kering supaya tidak terserang flu."

Kedua dayang istana itu terus menggigil sementara mereka memelototinya dengan galak.

Tan Ge kemudian muncul sembari memegang satu mangkuk dan sepasang sumpit. Saat ia melihat dua dayang istana yang menggigil bergegas pergi, mau tak mau, ia pun memberi tatapan bingung pada Su Xi-er.

Sudut mulut Su Xi-er terangkat selagi ia melihat ke arah Tan Ge. "Aku akan menimba air sumur, dan kau mencuci perlengkapan makan."

Tan Ge mengangguk. Ia berjongkok dan menggulung lengan bajunya, terhenti di sikunya untuk menyembunyikan dimana Xie Yun telah menuangkan bubuk pembuat cacat itu di tangannya.

Dengan setengah ember air sumur, baskom air itu jadi penuh, dan Tan Ge mulai mencuci perlengkapan makan. Karena berada di bawah tanah, air sumur itu berhasil mempertahankan suhu yang sama sepanjang tahunnya, membuatnya terasa sejuk di musim panas, dan hangat di musim dingin.

Su Xi-er berjongkok. "Ada banyak mangkuk dan sumpit. Biar kubantu." Ia mulai mencuci sebelum tawaran itu bahkan sepenuhnya meninggalkan mulutnya, tidak memberi Tan Ge kesempatan untuk menolaknya.

"Su Xi-er, kapan kau masuk istana?" tanya Tan Ge.

"Saat aku masih sangat kecil; saking mudanya hingga aku lupa kapan tepatnya."

"Apa kau masih ingat orang tuamu?"

Tatapan Su Xi-er jadi jauh. Tentu saja, aku ingat orang tuaku. Hari-hariku diisi dengan kenangan manis saat Ibunda Permaisuri masih hidup, tetapi hanya ada rasa sakit setelah ia wafat.

Tan Ge berpikir kalau ia telah membuat Su Xi-er teringat akan kenangan sedihnya, sehingga ia cepat-cepat mengubah topik. "Jangan memikirkan tentang itu lagi jika kau tidak bisa mengingatnya."

"Mengapa kau tiba-tiba menanyakanku ini? Apakah orang tuamu tidak memperlakukanmu dengan baik?" Su Xi-er berusaha mengujinya.

Tan Ge tertawa. "Tentu saja orang tuaku memperlakukanku dengan sangat baik, tetapi aku tak punya pilihan selain masuk istana setelah Kediaman Tan merosot. Semua orang mempunyai tanggung jawab yang tak dapat mereka elakkan."

"Semua orang memang mempunyai tanggung jawab mereka masing-masing, tetapi mereka yang memilih untuk memikirkan diri mereka sendiri, bisa mengesampingkan tanggung jawab itu, dan menjalani kehidupan mereka sendiri." Wajah Su Xi-er dihiasi senyuman.

"Su Xi-er, bagaimana kau tetap ramah dan bebas dari kekejaman walaupun sudah masuk istana untuk waktu yang sangat lama?"

Su Xi-er tertawa kecil. "Semua orang punya batasan bawah mereka sendiri-sendiri. Apabila seseorang memprovokasiku dan melewati batasan itu, tentu saja aku akan membalas. Kedua dayang istana yang kuberi pelajaran barusan adalah salah satu contohnya."

Tan Ge tercengang. Bagaimana pelajaran semacam ini dianggap kejam? Ia memandangi Su Xi-er, melihat wajahnya yang tersenyum. Su Xi-er, maafkan aku. Aku tidak punya pilihan; tidak ada jalan keluar bagiku. Aku tidak ingin menyakitimu.

"Semuanya, cuci lebih cepat! Kita bisa menonton opera di sore hari! Empat jam lagi, banyak menteri mahkamah dan para bangsawan yang akan tiba!" Pengumuman itu berasal dari seorang dayang istana mengenakan pakaian berwarna cokelat muda; sepertinya ia punya kedudukan.

"Katanya, anak-anak dari banyak pejabat mahkamah akan datang, termasuk Commandery Princess Xie, dan tuan-tuan muda dari para menteri. Aku dengar bahwa, beberapa dari mereka lumayan tampan!"

"Itu hebat! Ayo cepat lakukan pekerjaan kita dan menontonnya di sore hari!" 

0 comments:

Posting Komentar