Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 372

Consort of A Thousand Faces

Chapter 372 : Shi Mo Muncul


Lü Liu mati demi diriku. Kematian Dayang Senior Liu ada hubungannya denganku. Dan kini, Chao Mu juga mati karena diriku.

Su Xi-er mengepalkan tinjunya kuat-kuat, sinar dingin keluar dari matanya. Siapa yang menyelinap masuk ke dalam kamarku dan meracuni airnya? Aku baru saja selesai mendidihkanya ketika bersiap tidur.

Itu berarti bahwa, orang yang meracuni airnya sangat akrab dengan kebiasaanku; cukup akrab sehingga mereka bisa dengan akurat menebak kapan aku akan keluar dari kamarku. Su Xi-er sedikit menyipitkan matanya. Antara itu adalah seseorang yang menyembunyikan diri mereka sembari menunggu untuk beraksi, atau seseorang yang dekat denganku.

Seseorang yang dekat denganku .... Mungkinkah itu Tan Ge? Barangkali, Xie Yun menyuruhnya masuk Perpustakaan Kekaisaran, secara khusus untuk membunuhku.

Tetapi, Tan Ge baik dan murni. Mungkinkah ia benar-benar sanggup membuat dirinya melakukan sesuatu seperti itu?

Tiba-tiba saja, Su Xi-er merasa sangat bertentangan. Tan Ge, mungkinkah itu kau?

Sebelum ia dapat memikirkannya lebih jauh, suara keras dari mangkuk yang pecah ke lantai dapat terdengar dari luar ruangan, membelah kesunyian malam.

Su Xi-er jadi tegang, tetapi ia tidak meninggalkan kamarnya, malah memilih untuk bersembunyi di balik lemari pakaian. Ia berhasil menyembunyikan seluruh tubuhnya sementara ia menatap ke pintu dengan hati-hati.

Krek.

Seseorang membuka pintunya dari luar, dan seorang pria berjubah hitam pun muncul. Topi besar hitamnya menutupi matanya, hanya memperlihatkan hidung dan mulutnya.

Tangan Su Xi-er mengepal jadi tinjuan. Aku sudah berhadapan dengan pria ini beberapa kali sebelumnya, dan tiap kali, ia telah mencoba mengambil nyawaku. Mungkinkah ia adalah orang yang meracuni airnya?

Shi Mo mengamati bagian dalam ruangan itu dan tidak menemukan siapa-siapa. Akhirnya, tatapannya tertuju pada teko air itu, dan ia pun berkomentar pelan, "Tampaknya, Commandery Prince Xie sudah salah perhitungan lagi. Sekali lagi, kematian Chao Mu dapat menjadi peringatan bagi orang-orang tertentu ...."

Sudut mulutnya terangkat, menampilkan senyuman yang jahat. Tepat ketika seolah ia akan meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja ia berbalik dan menyerang dengan tangannya, menyerang ke arah lemari pakaian.

Boom!

Lemari pakaian itu jatuh ke belakang, memaksa Su Xi-er untuk menghindar dan memperlihatkan dirinya kepada si pria berbaju hitam.

"Aku sudah berusaha membunuhmu berkali-kali, tetapi tidak sekali pun aku berhasil. Beritahu aku, apakah aku akan berhasil kali ini?" Shi Mo bertanya dengan tenang dari tempatnya berdiri.

Su Xi-er melihat ke arah mulutnya yang terus terbuka di bawah topi besarnya. "Aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Satu-satunya cara aku akan mati adalah karena usia tua. Aku sangat penasaran, wajah macam apakah yang tersembunyi di bawah topi itu." Ia berpura-pura melakukan percakapan, menggunakan waktu untuk menarik keluar sebatang tusuk rambut kayu dari rambutnya sebelum menjentikkan pergelangan tangannya.

Tusuk rambut kayu itu terbang lurus menuju ke tenggorokan Shi Mo, tetapi orang itu berhasil mengelak ke samping bahkan tanpa menggerakkan kepalanya. Meskipun ada goresan baru di pipinya, topi besar Shi Mo masih tetap di tempatnya.

Shi Mo terkekeh pelan. "Langsung mengincar tenggorokan ... keahlianmu lumayan. Aku memandangmu dengan sudut pandang yang berbeda sekarang." Ia duduk dan menuangkan air untuk dirinya sendiri.

Ia menggoyangkan mangkuk putih itu perlahan dan mengejek dengan suara parau, "Semangkuk air mencabut nyawa Chao Mu, tetapi kau masih hidup dengan baik. Apa kau tidak merasa bersalah? Ia meninggal karena dirimu."

Kematian Chao Mu sangat menyakitkan bagi Su Xi-er, tetapi ia tidak memperlihatkan emosi-emosi itu di roman mukanya. "Apa kau merasa bersalah karena turun-tangan pada seseorang yang tak bersalah?"

"Mengabaikan orang biasa manapun, bahkan seseorang yang ahli dalam seni bela diri akan kesulitan untuk menghindari seranganmu barusan ini. Sayang sekali karena kau menggunakannya pada orang yang salah. Bukankah kau sudah tahu sejauh mana keterampilanku?"

"Keterampilanmu lumayan." Su Xi-er menjaga ketenangannya. Ia tahu bahwa tujuan pria ini adalah untuk memaksanya meminum air itu.

"Karena kau begitu pintar, biar kutanyakan ini padamu. Apa kau akan meminum ini sendiri, atau apakah aku yang harus memaksamu?" Shi Mo berdiri dua langkah jauhnya dari Su Xi-er, topinya menutupi kilatan di matanya.

Su Xi-er sadar bahwa ia tidak punya cukup ruang untuk menghindar dengan gesit. Perbuatan yang baru saja kulakukan bersama Pei Qian Hao sudah membuat pahaku sakit, dan tempat itu juga sakit.

Daripada berusaha menghindar secara terus-menerus, mungkin lebih baik aku ikut bermain untuk sekarang.

Setelah ia memutuskan, ia tertawa dengan cara yang santai dan mengambil mangkuk putih itu. "Sepertinya, aku tidak akan bisa melarikan diri hari ini."

Shi Mo mendengus dingin. Ia sangat bijaksana hari ini. Apakah ia sedang berencana untuk memainkan sejumlah trik kecil lagi?

Su Xi-er mengambil mangkuk putih itu dan membawanya ke mulutnya, seolah ia akan meminumnya. Tepat sewaktu bibirnya baru saja akan bersentuhan dengan tepian mangkuk, ia tiba-tiba berhenti dan berpura-pura kebingungan. "Apa kau mendengar seseorang meneriakimu di luar sana?"

Mendadak berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyambung, Shi Mo hanya bisa tercengang dan teralihkan sejenak.

Mengabaikan rasa sakit di pahanya, Su Xi-er mengambil kesempatan itu untuk menendang area di antara kakinya. Setelah melakukan perbuatan itu dengan Pei Qian Hao, ia sudah pernah melihat bagian bawah pria, dan mempelajari bahwa itu merupakan tempat paling empuk dan paling rentan untuk diserang.

Setelah ditendang dengan kecepatan dan kekuatan seperti itu, Shi Mo meringis kesakitan. Ia sedikit membungkuk ke depan, mengatupkan bibirnya dengan rapat.

Su Xi-er tidak mencoba untuk segera kabur, dan malah memilih memecahkan mangkuk di tangannya. Dengan cepat ia memungut sejumlah pecahan sebelum berlari ke punggung Shi Mo, menekankan pecahan porselen itu di lehernya.

"Di antara semua gerakanku, aku paling hebat dalam mengincar bagian tenggorokan. Jika kau bergerak sedikit saja, kau tidak akan bisa mempertahankan nyawamu." Ia sengaja mengerahkan tenaga untuk menggores lehernya hingga berdarah.

Shi Mo tertawa. "Ini pertama kalinya seseorang menghentikanku. Aku merasa sepertinya, kau bahkan jauh lebih kuat daripada Xie Yun dan Pei Qian Hao. Aku sangat penasaran, mengapa seorang dayang istana biasa dari Istana Samping begitu hebat?"

"Mengapa seorang dayang dari Istana Samping tidak boleh hebat? Dari apa yang kau katakan, aku bisa mengetahui bahwa kau tidak bekerja untuk Xie Yun, kau juga bukan orang yang membunuh Chao Mu. Namun, kau mengetahui siapa yang melakukannya." Su Xi-er menyatakan secara perlahan, memancarkan aura yang mengagumkan.

Shi Mo tertawa terbahak-bahak dengan jejak kekaguman. "Aku belum mengatakan lebih dari beberapa kalimat semenjak aku memasuki kamar ini, tetapi kau masih bisa menebak dengan begitu akuratnya. Sekarang, aku merasa agak enggan untuk membunuh orang sepintar dan semenarik ini." Tiba-tiba saja ia mengangkat tangannya dan menggunakan kekuatan lengannya untuk membanting Su Xi-er.

Secara bersamaan, topi besarnya pun tergelincir, sepenuhnya memperlihatkan wajahnya.

Mau tak mau, Su Xi-er pun terbelalakIa ... seorang pria berwajah setengah! Pria berwajah setengah yang selalu hanya muncul dalam drama, kini berdiri di depan mataku sendiri.

Pria berwajah setengah dibagi menjadi dua jenis: yang satu sangat mengerikan, sementara yang lainnya sangat tampan.

Pria di depannya masuk dalam kategori selanjutnya. Sisi kiri wajahnya tampak seram. Ujung alis sebelah kirinya tipis dan terangkat, sementara matanya sipit dan memanjang, dan dipenuhi dengan tatapan jahat. Di lain pihak, sisi kanan wajahnya memberikan kesan yang tak bersalah dan tak berbahaya. Tampak lembut dan tampan, seperti pria yang berbudi luhur.

Pria berwajah setengah dianggap membawa sial. Mereka dikatakan akan mengutuk orang tua dan teman-teman mereka, dan mereka yang melihat penampilannya yang sebenarnya akan menemui malapetaka.

Sudut mulut Shi Mo agak melengkung ke atas. "Hari kematianmu sudah dekat. Sekarang, karena kau sudah melihat penampilan asliku, kau akan segera bertemu dengan malapetaka."

Ekspresi Su Xi-er kembali normal. "Kau tidak perlu menganggap desas-desus dengan seserius itu. Pria berwajah setengah dikenal memiliki kepribadian yang tak terduga, dan keberadaan yang misterius."

"Kau mengerti lumayan banyak. Apa kau sedang berencana untuk mengulur waktu?" Shi Mo memutar pergelangan tangannya, bersiap-siap untuk menyerang Su Xi-er ketika ia terdiam setelah mendengarkan apa yang dikatakan Su Xi-er selanjutnya.

 

0 comments:

Posting Komentar