Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 370

Consort of A Thousand Faces

Chapter 370 : Benar-benar Berbau Alkohol

 

Sewaktu malam turun, lampion-lampion merah besar tergantung di sepanjang jalur istana. Dapur Kekaisaran akan membagikan pangsit kepada dayang istana dan kasim mulai dari pukul sembilan hingga sebelas malam.

Su Xi-er sedang menyusun buku di tempat penyimpanan buku, karena mereka akan berdebu jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama.

Di saat ia selesai mengelap buku dan raknya, dua jam telah berlalu. Angin sudah bertiup di ruang penyimpanan, menyebabkan pintu dan jendelanya berderak ketika anginnya berhembus.

Dengan selesainya perjamuan di Taman Kekaisaran, banyak menteri mahkamah yang diantarkan kembali menuju ke kediaman mereka masing-masing oleh para pengawal. Sementara untuk Xie Yun dan adiknya, mereka menaiki kereta kuda mereka sendiri dan meninggalkan istana.

Saat mereka melewati satu jalan, tiba-tiba saja kereta kuda itu berhenti di jalurnya. Xie Liu Li memandangi Xie Yun kebingungan, dan mengulurkan tangan untuk memegangnya ketika ia melihat Xie Yun akan turun dari kereta. "Kakak, apakah kau akan masuk ke dalam istana? Aku sudah melepaskan pertunangan itu. Mengapa kau masih bersikeras berpegang pada itu? Apakah kepentingan keluarga sepenting itu?"

Xie Yun mengibaskan tangannya, tetapi kemudian ia melihat ekspresi sedihnya, ia hanya bisa mengatakan, "Jika mereka tidak penting, Ibu dan Ayah tidak akan meninggal. Liu Li, cukup tinggal di kediaman dan jangan bertanya tentang yang lainnya. Penampilanmu di perjamuan istana tadi sangat buruk."

Dengan itu, Xie Yun turun dari kereta dan melirik ke arah pengawal, memberi sinyal agar mereka kembali ke kediaman sesegera mungkin.

Memahami perintahnya, pengawal kekaisaran itu naik ke atas kereta kuda dan melecut cemetinya. Saat Xie Liu Li merasakan kereta kuda bergerak dengan cepat, ia mengangkat tirai jendela dan tidak memedulikan angin yang meniup rambutnya selagi ia berteriak, "Kakak, mengalah selangkah akan lebih baik!"

Akan tetapi, sosok Xie Yun sudah menghilang dari pandangannya, meninggalkan Xie Liu Li menatap lesu dinding keretanya.

***

Setelah memasuki istana kekaisaran, diam-diam Xie Yun berjalan ke Perpustakaan Kekaisaran. Saat ia tiba, kebetulan ia melihat Tan Ge meninggalkan kamar Su Xi-er. Tampaknya, ia sudah bertindak.

Angin yang dingin menyebabkan Tan Ge menggigil selagi dengan panik ia memeriksa keadaan seikitarnya, hanya untuk melihat Xie Yun tersenyum padanya dari kejauhan.

Matanya dipenuhi kengerian, dan ia terus mundur ke belakang hingga menumbur tubuh yang empuk.

Su Xi-er menahannya dari belakang dan menganjurkan, "Tan Ge, kembali ke kamarmu dan istirahat dengan baik jika kau merasa tidak enak badan."

Ekspresi Tan Ge langsung kembali normal sewaktu ia mengangguk. "Belakangan ini aku mimpi buruk, dan aku memimpikan seorang setan yang melecehkanku. Aku kira, aku melihat satu sosok hitam di kejauhan, tetapi mataku pasti menipuku."

"Sosok hitam?" Su Xi-er melihat sekitar, tetapi tidak ada seorang pun yang terlihat.

"Aku akan kembali untuk istirahat. Kau juga." Tan Ge kemudian berjalan ke kamarnya, tangannya menggenggam erat secarik kertas berwarna kuning.

Tepat setelah Tan Ge mengurung diri di kamarnya, ia merosot ke tanah. Tanpa memedulikan lantai yang sedingin es, ia merapatkan lututnya dan melihat ke kertas kuning itu, menggumam pelan, "Su Xi-er, maafkan aku."

Setelah mengamati Su Xi-er selama beberapa hari, Tan Ge sudah mengakrabkan diri dengan kebiasaan sebelum tidur orang itu. Ia mengetahui bahwa Su Xi-er akan selalu meminum semangkuk air hangat untuk menghangatkan tubuhnya sebelum pergi tidur. Di dalam teko berisi air panas itulah, Tan Ge sudah menuangkan racun itu barusan ini.

Ketika Su Xi-er kembali ke kamarnya, ia mengambil tekonya dan menuangkan air. Saat ia baru saja akan menyesapnya, ia teringat kalau ia belum menutup pintu ke tempat penyimpanan buku.

Angin akan meniup semua buku-buku itu jatuh ke tanah dengan betapa kencangnya angin malam ini.

Su Xi-er meletakkan mangkuknya dan langsung pergi ke tempat penyimpanan.

Setelah Xie Yun melihatnya pergi, ia memasuki kamarnya dan berjalan ke samping meja. Ia mengangkat tutup teko itu, dan melihat jejak dari bubuk putih di pinggirannya. Tan Ge memang sudah bertindak. Tersenyum sendiri, Xie Yun menghapus semua jejak dari bubuk putih itu.

Segera setelahnya, dengan cepat ia berjalan keluar dari Perpustakaan Kekaisaran dan menghilang di dalam malam.

***

Saat Su Xi-er sampai di tempat penyimpanan buku, ia melihat ada beberapa buku yang sudah berjatuhan ke lantai. Ia membungkuk untuk merapikan mereka, dan di saat ia selesai, sudah hampir jam sembilan malam. Tepat selagi ia sedang membersihkan debu dari lengan bajunya dan bersiap untuk berangkat ke kamarnya, satu lengan yang kuat melingkarkan dirinya di sekeliling pinggangnya, dan bau pekat dari anggur menyerang lubang hidungnya.

Su Xi-er cepat-cepat mengangkat tangan untuk membalas, tetapi dengan cepat menyadari bahwa orang yang sedang memeluknya adalah Pei Qian Hao.

Ia segera menurunkan tangannya, alis tipisnya mengerut. "Mengapa Anda minum begitu banyak lagi? Minum-minum akan menyebabkan seseorang membuat masalah."

Pei Qian Hao tertawa kecil dengan sedikit main-main. "Su Xi-er, aku sudah mabuk, dan terlebih lagi, aku akan membuat masalah yang kacau sekarang juga." Ia bergerak mendekat padanya dan menanamkan jejak ciuman di leher Su Xi-er.

"Su Xi-er, tubuhmu wanginya sangat enak." Tangan Pei Qian Hao berpindah dari pinggangnya menuju ke tubuhnya, mulai membuka kancing bajunya.

Tepat saat ia baru saja akan melanjutkan, angin yang dingin menyebabkan Pei Qian Hao mengerutkan alisnya. Untuk sementara, ia melepaskan Su Xi-er dan menendang pintunya hingga tertutup.

Su Xi-er bingung. Mengapa ia begitu terburu-buru hari ini? Apa yang terjadi?

"Pei Qian Hao, ada masalah apa?" Su Xi-er secara langsung memanggilnya dengan namanya, mengungkapkan keseriusan dari masalah itu.

Pei Qian Hao berjalan ke arahnya dan mengangkat tangan untuk membelai rambutnya. "Hao Wang Fei, berikanlah dirimu untukku malam ini."

Segera setelah ia mengatakan itu, tangan kirinya menarik sabuk Su Xi-er, sementara yang lainnya memegangi pinggangnya. Segera saja, seragam court lady, jubah berwarna ungu muda, pakaian dalam, dan celana dalam mendarat di lantai.

Kontras dengan angin dingin yang melolong di luar tempat penyimpanan buku, bagian dalamnya terasa seolah-olah ada api yang tengah menyala.

Tangan yang kurus mencengkeram erat kaki rak saat rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Su Xi-er berusaha keras menggigit bibirnya, tetapi akhirnya tidak bisa menahan diri mengeluarkan suara dari tenggorokannya.

Tak satu pun dari keduanya yang berada dalam keadaan untuk menyadari ada seorang wanita sedang mengendap-endap di luar pintu tempat penyimpanan buku. Saat wanita itu mendengarkan suara-suara dari dalam ruangan, ia langsung paham apa yang sedang terjadi.

Mendengarkan suara si wanita, warna wajahnya berubah pucat. Itu Su Xi-er! Ia tidak mati, tetapi malah berada di tempat penyimpanan buku. Siapakah pria itu?!

Ia mengumpulkan keberaniannya untuk sedikit membuka pintu itu. Cahaya bulan menyinari wajah pria itu, memperlihatkan jawaban dari pertanyaannya. Itu sebenarnya adalah ... Pangeran Hao!

Su Xi-er sekarang ini sedang menghadap jauh dari pintu, tetapi tepat ketika si pria baru akan mengangkat kepalanya, wanita itu langsung menghindar ketakutan ke samping.

Sewaktu ia melewati kamar Su Xi-er, ia menyadari kalau pintunya terbuka! Ia tidak tahan untuk melihat ke dalam, hanya untuk menemukan Chao Mu yang terbaring di lantai.

Wajah wanita itu diliputi keterkejutan dan kecemasan sementara ia langsung berlari masuk.

Chao Mu mengangkat tangan kanannya guna meraih tangan wanita itu. Dengan lemah, ia bergumam, seolah nyawanya semakin menjauh tiap detiknya, "Tan Ge ... ada racun di dalam airnya. Seseorang ingin mencelakai Su Xi-er."

Benak Tan Ge dipenuhi dengan tawa hangat Chao Mu, dan ia segera merasakan jantungnya berkontraksi kesakitan. Rasanya begitu sakit. Sakit sekali. Air mata mengalir tak terkendali menuruni wajahnya, berjatuhan di wajah Chao Mu bagaikan untaian manik-manik dari seutas kalung yang putus.

"Tan Ge, Perpustakaan Kekaisaran tak lagi aman. Jangan menangis. Beritahukan Guru Agung Kong .... Kau dan Su Xi-er harus cepat-cepat meninggalkan ...." Wajah Chao Mu mendadak merona merah, pernapasannya menjadi semakin cepat sementara dadanya kembang-kempis.

Chao Mu mengejapkan matanya dan tersenyum. "Tan Ge, aku akan segera mati ... aku takut akan kematian. Tadinya aku berpikir bahwa kematian sangatlah menyakitkan. Tetapi kini ... sepertinya itu tidak begitu menyakitkan lagi ...." Ia terus bergumam selagi dengan erat menggenggam tangan Tan Ge. "Beritahu Shu Xian, tidak ada lagi yang akan bertengkar dengannya di masa yang akan datang. Ia bisa senang sekarang ...."

Tan Ge terus menggelengkan kepalanya dengan putus asa seakan-akan hidupnya bergantung dari itu. "Chao Mu, kau tidak akan mati. Jangan mati." 

(T/N : Chao Mu 😱😭)

0 comments:

Posting Komentar