Minggu, 03 Mei 2026

CTF - Chapter 355

Consort of A Thousand Faces

Chapter 355 : Mengancam


Chao Mu berjalan ke samping Tan Ge dan menatapnya cemas. "Ada masalah apa? Kau sudah bersikap aneh semenjak kita kembali dari Taman Kekaisaran. Apa kau merindukan keluargamu? Itu hal yang biasa, kesulitan untuk beradaptasi setelah kau memasuki istana kekaisaran, tetapi kau akan terbiasa."

Tan Ge merasa kehilangan saat ia mendengar kata 'keluarga'. Kediaman Tan yang sekarang ini sama sekali tidak seperti sebuah keluarga; itu hanya tanpa perasaan, mempergunakanku sebagai alat. Aku tidak merasa hangat sama sekali; hanya ada dingin yang menusuk tulang.

Tan Ge tertawa. "Chao Mu, aku baik-baik saja. Sebenarnya, Pangeran Hao melakukan ini untuk melindungi Su Xi-er. Ia mengumumkan pada semuanya bahwa Su Xi-er bersamanya, dan bahwa siapa pun yang berani menyentuhnya akan menjadi musuhnya."

Mata Chao Mu berbinar. "Dulu, aku membenci Pangeran Hao karena memperlakukan wanita seperti pakaian, mengganti mereka kapan saja yang diinginkannya. Tampaknya, aku juga terlalu berprasangka buruk padanya; aku tidak tahu ia akan memperlakukan wanita dengan sangat baik."

"Chao Mu, kita harus memberikan Su Xi-er restu kita." Tan Ge tersenyum samar dan terus menyapu jalan setapak istana.

Namun, tepat selagi ia mulai, ia mendengar suara langkah kaki. Pemandangan seorang pria dengan sulaman perak di bajunya pun memasuki pandangan mereka, menyebabkan Tan Ge terdiam. Itu dia. Ia sudah datang ....

Chao Mu juga berhenti menyapu dan membungkuk dengan hormat. "Hamba memberi hormat pada Commandery Prince Xie."

Xie Yun melambaikan tangannya agar ia bangkit sebelum mengalihkan tatapannya pada Tan Ge. "Surat dari ayahmu."

Tan Ge menerima surat tersebut. "Terima kasih banyak karena mengantarkannya secara pribadi, Commandery Prince Xie. Hamba benar-benar berterima kasih."

Xie Yun mengangguk dan melihat ke arah Chao Mu, mendorong orang itu untuk membungkuk dengan sengaja selagi ia mundur.

Di bawah tatapan Xie Yun, Tan Ge membuka surat itu, dan hanya membaca sekilas beberapa baris pertama sebelum memahami tentang apakah itu. Tangan yang tadinya digunakan untuk memegangi suratnya bergetar sebelum akhirnya ia kalah akan emosinya, mundur beberapa langkah ke belakang.

Ibu ... sudah meninggal dunia ....

Ketika aku masih muda, Ibu memperlakukanku dengan sangat baik. Ia akan memeriksa bagaimana keadaanku, dan memperlakukanku seolah aku adalah harta berharganya. Tetapi semenjak Kediaman Tan mulai merosot, Ibu akan selalu terlihat kesusahan, dan beban yang ditanggungnya meningkat dari hari ke hari. Semenjak saat itu, Ibu akan memperlakukanku dengan dingin, dan tiap kali aku berbicara dengannya, ia akan memberitahuku, "Kau adalah harapan Kediaman Tan. Kau harus bekerja keras untuk membuktikan dirimu sendiri."

Tetapi, tak peduli seberapa banyak ia berubah, ia tetaplah ibuku, orang yang melalui kesakitan luar biasa untuk melahirkanku.

"Commandery Prince Xie, bisakah Anda mengatur agar hamba meninggalkan istana?" Tan Ge tidak bisa menahan matanya yang memerah selagi ia mendongak padanya dengan ekspresi merindukan.

"Baiklah," ia menyetujui dengan lembut.

Tan Ge langsung membungkuk. "Terima kasih banyak, Commandery Prince. Hamba benar-benar berterima kasih."

Tetapi, segera setelah ia berbicara, Xie Yun langsung mendekat sebelum memelankan suaranya. "Tan Ge, kau menyatakan kalau kau berterima kasih pada Pangeran ini, tetapi Pangeran ini tidak melihat ketulusanmu."

Tan Ge memahami apa yang disiratkannya dengan 'ketulusan'. Aku tahu, tetapi aku tidak sanggup melakukannya. Aku benar-benar tidak bisa.

Oleh sebab itu, ia mengerutkan bibirnya, dan berbicara seolah-olah setiap kata melemahkan kekuatannya. "Commandery Prince Xie, hamba tidak sanggup melakukannya. Bisakah Anda mengubahnya menjadi sesuatu yang lain?"

"Kalau begitu masalahnya, kau tidak perlu kembali ke istana. Pangeran ini akan menyuruh seseorang untuk mengantarkanmu kembali ke Kediaman Tan." Xie Yun memutar tumitnya, bersiap untuk pergi.

Panik, Tan Ge mengulurkan tangannya dan dengan berani menarik lengan baju Xie Yun. "Commandery Prince Xie, mohon ampuni hamba." Ada penderitaan baik dalam suara dan matanya.

Xie Yun tidak berbalik, tetapi hanya mengibaskan lengan bajunya. "Kau cukup pintar untuk mengetahui apa yang Pangeran ini mau kau lakukan."

"Haruskah seperti itu?" Tan Ge bertanya lagi. Apakah aku hanya punya satu jalan?

"Apa kau membuang bungkusan obat yang kuberikan padamu?"

Tan Ge tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Iya, hamba membuangnya."

Xie Yun terkekeh dan berbalik, mengelus kepalanya dengan lembut. "Pangeran ini memberikanmu sebuah kesempatan, tetapi kau membuangnya. Apa kau tahu bahwa Pangeran ini telah memberikan uang yang cukup besar kepada Kediaman Tan, supaya bisa bertahan hingga sekarang. Apa kau ingin mengetahui apa lagi yang akan terjadi apabila kau tidak menunjukkan bahwa kau bisa membalasku?"

Tangan Tan Ge mengepal jadi tinjuan, dan matanya terbelalak. "Commandery Prince Xie, apakah Anda yang turun tangan pada ibu hamba?"

"Bukan Pangeran ini, tetapi ayahmu, Kepala Keluarga Tan." Bisik Xie Yun dan menurunkan tangannya.

"Seseorang akan segera membawamu kembali ke Kediaman Tan untuk mengantarkan ibumu pergi."

Memerhatikan sosok Xie Yun yang berlalu, bahu Tan Ge terguncang tak terkendali. Penderitaan di dalam hatinya menumpuk, menyiksanya sampai-sampai ia bahkan tidak sanggup membiarkan air matanya menetes.

Chao Mu sudah memerhatikan mereka secara diam-diam, tetapi tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan. Ia hanya mengetahui bahwa Tan Ge terlihat tertekan setelah Xie Yun pergi, mendorongnya untuk segera berjalan ke sana ....

"Tan Ge, ada apa? Jangan menakutiku." Ia menepuk pundak Tan Ge dan merasakannya gemetaran tanpa henti.

Tan Ge memegang surat itu dengan cengkeraman maut, dan dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjawab, "Ibu meninggal dunia."

Chao Mu mengerutkan alisnya. Ia tidak pernah mempunyai orang tua, dan tidak paham mengapa mereka begitu penting. Terlepas dari sudah berapa lama ia hidup, ia selalu bertanya-tanya, akan seperti apakah rasanya memiliki orang tua.

Chao Mu dapat merasakan kepedihan Tan Ge, tetapi tidak tahu bagaimana caranya menghiburnya. Tidak ada kata yang cukup untuk mengurangi kesedihannya.

"Chao Mu, bisakah kau menolongku menyapu jalur istana? Aku mau melakukan perjalanan kembali ke Kediaman Tan."

"Tentu saja. Tan Ge, semuanya tak terprediksi dan terus berubah di dunia ini. Semua orang pada akhirnya akan menua atau mati akibat penyakit."

Menjadi tua atau mati akibat penyakit. Kata-kata ini hanya menguatkan penderitaan dalam hati Tan Ge. Ibu dibunuh oleh ayah.

Bibir Tan Ge terkatup rapat selagi ia mengangguk. "Terima kasih, Chao Mu."

Di saat ini, seorang pengawal dari Kediaman Commandery Prince memasuki Perpustakaan Kekaisaran, bersiap-siap untuk mengantarkan Tan Ge dan mengurusi pemakaman Nyonya Tan atas perintah Xie Yun.

Tan Ge mengikuti pengawal itu dan menaiki kereta kuda.

Su Xi-er sudah meninggalkan Istana Samping dan sedang menuju ke Perpusatakaan Kekaisaran ketika ia secara kebetulan menangkap pemandangan Tan Ge yang sedang pergi.

Itu adalah kereta kuda biasa, dan bukannya salah satu dari istana kekaisaran. Apakah Xie Yun sedang membawanya pergi? Atau terjadi sesuatu pada Kediaman Tan yang memaksa Tan Ge untuk kembali?

Chao Mu juga melihat Su Xi-er. Ketika ia melihat orang itu sedang melihat ke arah kereta kudanya pergi, ia memanggil, "Su Xi-er."

Mendengar suara Chao Mu, Su Xi-er bertanya, "Kemana Tan Ge akan pergi?"

Chao Mu menghela napas. "Nyonya Tan meninggal dunia, sehingga Tan Ge akan kembali untuk mengurusi pemakamannya. Su Xi-er kenapa kau tiba-tiba saja kembali? Bukankah seharusnya kau sudah pergi bersama Pangeran Hao?"

"Pengawas Istana Samping, Dayang Senior Liu, meninggal dunia, jadi aku pergi memberikan hormatku."

"Su Xi-er, apa kau akan pergi ke Kediaman Pangeran Hao di masa yang akan datang? Aku dengar banyak orang mengatakan bahwa Pangeran Hao sangat menyukaimu." Chao Mu tersenyum dengan tatapan murni di matanya.

"Mmm, aku akan ke sana setelah beberapa waktu." Su Xi-er tidak menyembunyikannya dari Chao Mu. Gadis ini sangat polos; tidak semestinya aku berbohong padanya.

Chao Mu merasa gembira. "Itu hebat! Setelah kau meninggalkan istana, berdasarkan dari seberapa besarnya Pangeran Hao memanjakanmu ...." Ia dengan cepat berpindah ke sebelah Su Xi-er. "Kau mungkin bahkan bisa menjadi seorang Secondary Consort di masa yang akan datang!"

Sudah memasuki istana kekaisaran di usia yang sangat muda, Chao Mu sangat jelas tentang pentingnya garis keturunan. Setelah melonjak dari posisi seorang dayang istana di Istana Samping, menjadi Secondary Consort sudah merupakan impian yang jadi kenyataan!

0 comments:

Posting Komentar