Minggu, 03 Mei 2026

CTF - Chapter 359

Consort of A Thousand Faces

Chapter 359 : Biarkan Pangeran Ini Melihatnya


Su Xi-er langsung berasumsi bahwa Pangeran Kekaisaran Ketiga sudah datang ke Perpustakaan Kekaisaran lagi, tetapi dikejutkan oleh Guru Agung Kong selagi ia menurunkan sapu di tangannya. "Hati-hati. Jangan memprovokasi Pangeran Hao."

Bukan Pangeran Kekaisaran Ketiga, tetapi Pangeran Hao?! Setelah menunggunya begitu lama semalam, ia baru muncul di siang hari.

"Ekspresi Pangeran Hao tidak tampak begitu baik. Kau harus berhati-hati." Guru Agung Kong merasa cemas dan memperingatkannya sekali lagi.

Su Xi-er mengangguk sebelum berangkat ke Paviliun Kaligrafi. "Jangan khawatir, Guru Agung Kong."

Alis halus Chao Mu terangkat lagi sementara ia menyaksikan Su Xi-er berangkat. Ia selalu merasa bahwa ada sesuatu yang misterius tentang teman-teman dayangnya, tetapi ia tidak pernah bisa menentukannya.

Itu adalah pertama kalinya Guru Agung Kong melihat ekspresi serumit itu di roman mukanya, dan ia pun tak tahan untuk menyuarakan. "Chao Mu, mengapa kau berdiri bengong di sana? Cepat selesaikan menyapu lantainya; kau masih harus mengerjakan bagian Tan Ge juga, karena ia tidak ada."

"Dimana Shu Xian? Katakan padanya untuk datang dan membantu." Chao Mu cemberut selagi ia menyapu. Ia tidak menolak untuk bekerja, tetapi ia adalah orang yang banyak bicara, sehingga ia harus mencari seseorang untuk menemaninya.

Tentu saja Guru Agung Kong memahami tujuannya. "Aku mengirimkannya untuk melakukan sesuatu yang lain hari ini, jadi kau akan menjadi satu-satunya yang menyapu hari ini. Namun, Perpustakaan Kekaisaran harus tetap tenang. Sebagai seorang gadis, kau harus mengendalikan dirimu, dan lebih pendiam dan tenang."

Chao Mu mendengus dan membalas, "Apanya yang diam dan tenang? Hanya orang mati yang diam dan tenang!"

Guru Agung Kong mengabaikannya dan hanya berjalan pergi. Kepribadian Chao Mu senaif anak-anak. Akan tetapi, Perpustakaan Kekaisaran masih bagian dari istana; yang terbaik adalah jangan bicara terlalu banyak.

Chao Mu tidak terlalu memikirkannya, dan mulai menggerutu sambil menyapu.

***

Di dalam Paviliun Kaligrafi, Su Xi-er membuka pintunya dan masuk, melihat Pei Qian Hao membolak-balikkan sebuah buku salinan Aksara Lan.

Menutup pintu di belakangnya, Su Xi-er membungkuk. "Hamba memberi hormat kepada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao menatapnya. "Tidak ada orang luar di sini, jadi kau bisa melepaskan semua formalitas. Kemarilah, ada sesuatu yang ingin Pangeran ini tanyakan padamu." Ia menurunkan buku salinan itu ke atas meja.

"Silakan," kata Su Xi-er.

"Kau mengetahui bagaimana caranya menulis dalam Aksara Lan, dan kau juga setuju untuk mengajari Pangeran Kekaisaran Ketiga bagaimana cara menulisnya?" Walaupun itu kedengaran seperti sebuah pertanyaan, nada bicaranya yakin.

Su Xi-er tidak menyangkalnya. "Hamba memang mengajarinya."

"Apa kau tidak takut kalau Pangeran ini akan merasa tidak senang?" Pei Qian Hao mengangkat alisnya.

"Pangeran Hao, apakah Anda sepicik itu? Hamba tidak banyak berinteraksi dengan Pangeran Kekaisaran Ketiga."

"Pangeran ini ingat bahwa Pangeran Kekaisaran Ketiga sangat protektif terhadapmu ketika ia mengantarkan bubuk obat." Komentar Pei Qian Hao selagi ia menggiling batu tinta.

"Pangeran Hao, mungkinkah Anda ingin mempelajari Aksara Lan? Itu sering dipelajari oleh wanita, dan selain itu, bukankah Anda membenci Ning Ru Lan?" Su Xi-er tidak tahan untuk membiarkan rasa ingin tahu menguasai dirinya.

"Kaligrafi tidak membedakan jenis kelamin. Aksara Lan sudah diterima oleh semua orang, entah mereka pria atau wanita. Mengapa Pangeran ini tidak boleh melakukan hal yang sama?" Pei Qian Hao memungut sebatang kuas, mencelupkannya ke dalam tinta, dan menuliskan huruf 'xi'.

Kata-katanya flamboyan, dan berkursif tebal. Walaupun ujung goresannya kuat, percobaan pertamanya sudah bisa dianggap lumayan bagus.

Melihat kalau Su Xi-er tidak menjawab, Pei Qian Hao meneruskan. "Sejak kapan Pangeran ini mengatakan kalau aku membenci Ning Ru Lan? Pangeran ini mengagumi bakatnya dalam pemerintahan. Sementara untuk kualitasnya yang lain, Pangeran ini tidak akan membuat evaluasi apa pun."

Itu adalah penilaian yang tulus dan tidak memihak, tanpa adanya pengaruh emosi pribadi seseorang.

Su Xi-er terus menyelidiki. "Pangeran Hao, ketika Anda menyebutkan kualitasnya yang lain, apakah Anda mengacu pada gayanya menangani masalah? Atau apakah Anda mengacu pada kepribadiannya?"

"Pangeran ini mengerti bahwa ruang yang ditempati Ning Ru Lan dalam hatimu tidaklah kecil. Karakternya pantang menyerah dan mantap seperti sebuah gunung. Apabila ia seorang pria, ia akan dianggap sebagai orang yang jujur dan luar biasa. Tetapi sebagai seorang wanita? Ia kekurangan rasa kelembutan. Pria macam apa yang menginginkan seorang pasangan yang begitu sombong?" Pei Qian Hao terus menulis lagi, menuliskan nama lengkap Su Xi-er kali ini.

Tiga huruf, 'su', 'xi', dan 'er' tertulis dalam Aksara Lan.

Su Xi-er memandangi huruf-huruf itu. Tidak mungkin ia mengetahui bahwa aku sebenarnya adalah Ning Ru Lan. Tetapi pertanyaan ini .... Pria macam apa yang menginginkan seorang pasangan yang begitu sombong?

"Ada apa?" Pei Qian Hao menurunkan kuasnya dan menatapnya dengan saksama.

Tiba-tiba saja Su Xi-er bertanya, "Pangeran Hao, apa yang Anda sukai tentang hamba? Apakah karena hamba sangat lembut?"

Pei Qian Hao mengerutkan alisnya sebelum memeluknya dan menopangkan dagunya di puncak kepala Su Xi-er. "Pangeran ini sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan kata-kata manis."

Aku hanya memercayai instingku. Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti mengapa aku menyukaimu, tetapi aku menyukaimu. Ini mirip seperti perasaan takdir yang telah ditentukan sebelumnya.

Su Xi-er bersandar dalam diam di dadanya, tak lagi mengatakan apa-apa.

"Apakah luka di tanganmu sudah mendingan?" Pei Qian Hao mencoba untuk memeriksa lukanya.

"Keropengnya sudah lepas. Bekas luka kecil yang tertinggal akan menghilang setelah aku membubuhkan bubuk bunga Ling Rui. Tidak perlu cemas."

Su Xi-er mengangkat kepalanya, menatapnya. "Pangeran Hao, Tabib Kekaisaran Zhao menemukan sebuah benda di tangan Dayang Senior Liu yang ditinggalkan oleh si pembunuh. Yang aneh adalah, bukannya aroma obat-obatan yang datang dari benda itu, melainkan bau dari Bunga Ungu Harum yang berasal darinya. Mereka ...."

Pei Qian Hao tiba-tiba saja menyelanya dengan menggendongnya ala pengantin dan menurunkannya di atas sebuah meja kosong.

Alisnya melengkung membentuk senyuman, dan ada jejak main-main di matanya. "Masalah ini sudah berlalu. Mengapa kau banyak berpikir?"

Tanpa disadari, ia tidak mau Su Xi-er mengetahui tentang wewangian pekasih tersebut.

Su Xi-er dapat mengetahui bahwa Pei Qian Hao tengah menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi jika ia tidak mau membocorkan apa pun, ia tidak akan mendesak lebih jauh.

Pei Qian Hao menurunkan kepalanya dan mendekatinya. Ia sengaja meniup hidungnya dan perlahan-lahan menindihnya.

"Pangeran Hao, kita sedang berada di Paviliun Kaligrafi." Su Xi-er mengingatkannya sembari mencoba untuk mendorongnya.

"Tentu saja Pangeran ini tahu bahwa ini adalah Paviliun Kaligrafi." Ada jejak senyuman di sudut mulutnya sementara bibir hangatnya mendarat di bibir Su Xi-er dan menjeratnya dengan lembut.

Perlahan-lahan, Su Xi-er tak lagi menolaknya, bahkan mengikutinya, membuka bibir untuk menyambutnya. Pei Qian Hao mengambil kesempatan itu untuk masuk, meresapi aromanya.

Atmosfer di Pavilun Kaligrafi menjadi hangat, dan tidak jelas berapa waktu telah berlalu sebelum ia melepaskan Su Xi-er. Ia menatapnya dengan tatapan yang membara dan bertanya, "Malam itu, di hutan sebelah Istana Samping, darimana kau mendapatkan keberanian sebesar itu untuk membuat Pangeran ini tak sadarkan diri?"

Su Xi-er melirik ke arahnya karena mengungkit masa lalu. "Aku tidak mengenal Anda dulu. Selain itu, Anda begitu arogan. Secara alami hamba memberikan lebih banyak kekuatan dalam seranganku."

"Bagaimana bisa Pangeran ini arogan?" Pei Qian Hao mengangkat alisnya.

"Saat itu, Anda mabuk, dan ketika Anda melihat hamba, Anda berusaha melakukan sesuatu yang jahat. Bukan hanya Anda arogan, Anda juga ...." Su Xi-er memalingkan wajah darinya selagi tiga kata lolos dari sela bibirnya. "Tidak tahu malu."

Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao memahami mengapa ia selalu menyuruhnya mengurangi minum-minum, jangan sampai ia membuat kesalahan. Apakah ia khawatir kalau aku akan mabuk dan melakukan hal yang sama kepada wanita lainnya? Apakah ia cemburu?

Ketika ia menyadari kemungkinan ini, tiba-tiba saja ia menjadi lebih ceria. Wanita ini benar-benar mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang dirasakan hatinya. Ternyata ia sudah cemburu sejak lama.

Tetapi, walaupun aku mabuk, satu-satunya orang yang akan kulakukan hal seperti itu adalah dirinya.

0 comments:

Posting Komentar