Minggu, 03 Mei 2026

CTF - Chapter 353

Consort of A Thousand Faces

Chapter 353 : Dibunuh


Situ Lin mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja boleh; naiklah." Kemudian ia menarik tirai yang menutupi pintu masuk kereta kuda ke samping.

Dengan cepat Su Xi-er naik, dan tak lama, keretanya dalam perjalanan kembali ke istana kekaisaran.

Di dalam kereta kuda, Situ Lin tertawa riang. "Cantik, mengapa kau mendadak ingin bertemu dengan Dayang Senior Liu? Kaisar ini sudah lama sekali tidak melihatnya, tetapi aku akan ikut serta sekarang karena kau sudah mengingatkanku."

Situ Lin yang sekarang ini, tidak mengetahui kalau Dayang Senior Liu sudah meninggal.

Jika ia mengetahui kalau ibu pengasuhnya telah meninggal dunia .... Su Xi-er meratapi dalam hati selagi ia melihat ekspresi senangnya.

Tidak, seorang penguasa harus mempelajari bagaimana caranya mengatasi emosi, dan bukannya kami bisa menyembunyikan masalah ini untuk waktu yang lama juga.

"Yang Mulia, Dayang Senior Liu sudah meninggal dunia," ujar Su Xi-er pelan. Senyuman menghilang seketika dari raut muka Situ Lin, digantikan dengan keseriusan dan keraguan.

"Bagaimana kau mengetahui tentang ini sementara tinggal di Kediaman Pangeran Hao? Dayang Senior Liu selalu dalam keadaan yang sehat. Kaisar ini tidak percaya bahwa mungkin baginya meninggal secara begitu tiba-tiba."

"Dayang Senior Liu memperlakukan hamba dengan sangat baik, dan hamba selalu mengingat segala kebaikan dan kasih sayangnya. Komandan Wu baru saja memberitahukan hamba, itulah mengapa aku terburu-buru pergi ke istana." Su Xi-er menjelaskan secara perlahan. Ketika ia menerima kabar tentang meninggalnya Dayang Senior Liu, ia merasa seolah ada batu yang menimpa hatinya.

Baru beberapa hari semenjak Dayang Senior Liu membawakan barang-barangku ke Perpustakaan Kekaisaran, tetapi kini ia telah tiada.

Situ Lin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, masih tidak bersedia untuk menerima kenyataan bahwa Dayang Senior Liu sudah meninggal. "Tidak mungkin, Kaisar ini akan pergi sendiri dan melihatnya dengan mataku sendiri." Kemudian ia menginstruksikan pengawal kekaisaran yang sedang mengendarai kereta kudanya, "Percepat, dan langsung menuju ke Istana Samping."

Segera setelah itu, perjalanannya jadi lebih bergelombang setelah dipercepat. Sementara untuk Situ Lin, wajahnya tak lagi membawa sisa-sisa dari ekspresi ceria sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari satu jam, kereta kuda itu melaju di jalan setapak istana kekaisaran, menuju ke Istana Samping.

Semua dayang istana dan kasim yang lewat pun memberi jalan. Berani secara sembrono berkeliling di dalam istana kekaisaran, orang yang ada di dalam kereta pasti membawa pengaruh yang cukup besar.

Jalan istana ke Istana Samping menjadi semakin sempit, pada akhirnya memaksa keretanya berhenti. "Yang Mulia, kereta kuda tidak bisa pergi lebih jauh lagi."

Situ Lin mengangkat tirai dan turun dengan cepat. "Mundur." Kemudian, ia melangkah ke Istana Samping.

Mengikuti tepat di belakangnya, Su Xi-er merasa bahwa Situ Lin akhirnya mulai memancarkan aura mantap dan mengesankan seorang Kaisar.

Saat mereka memasuki Istana Samping, mereka melihat para dayang berderet menjadi dua barisan di halaman. Mereka gemetar ketakutan selagi mereka menyaksikan sederet pengawal kekaisaran dan tabib-tabib yang keluar-masuk.

Kematian tiba-tiba Dayang Senior Liu di dalam kamarnya sangatlah aneh. Ia selalu dalam keadaan yang baik, dan belakangan ini ia juga tidak jatuh sakit. Semua orang terkejut dan kebingungan mendengar kematiannya.

Saat pengawal kekaisaran melihat Situ Lin, mereka membungkuk dan menyampaikan hormat mereka berturut-turut.

Situ Lin melambaikan tangannya dan langsung masuk ke dalam kamar.

Su Xi-er mengikutinya, tetapi dihentikan oleh seorang pengawal kekaisaran. "Kau tidak boleh masuk." Pengawal itu belum pernah melihat Su Xi-er sebelumnya, dan pakaiannya juga tidak terlihat seperti apa yang akan dikenakan oleh seorang nona dari keluarga bangsawan.

Dayang istana lainnya melebarkan mata mereka setelah mengenali Su Xi-er. Bukankah seharusnya ia berada di Perpustakaan Kekaisaran? Tetapi baju yang dikenakannya bukanlah seragam court lady dari Perpustakaan Kekaisaran. Bukan hanya itu, itu mungkin bukan kualitas terbaik, tetapi gaun itu jelas-jelas terbuat dari sutra!

Dengan para pengawal di sekitar mereka, para dayang tidak berani bergosip, dan hanya bisa menekan keraguan mereka.

Su Xi-er langsung melemparkan tatapan tajamnya pada si pengawal. Pengawal itu merasa jantungnya berdebar, dan tangannya berkedut selagi ia merasa ada belati yang sedang diarahkan ke tenggorokannya. Tatapan wanita ini dingin sekali.

"Hamba tadinya adalah seorang dayang di Istana Samping, tetapi kini aku bekerja di Perpustakaan Kekaisaran. Aku dengar bahwa Dayang Senior Liu meninggal dunia, dan segera kembali ke Istana Samping untuk melihatnya untuk yang terakhir kalinya." Suaranya tenang, tetapi tidak ada yang akan salah mengira otoritas di dalamnya. Mengabaikan si pengawal yang sekarang terdiam, Su Xi-er menerobos masuk dengan paksa.

Memerhatikannya lewat, alis si pengawal pun mengerut. Apa-apaan wanita ini?

Teman penjaganya berbisik padanya, "Wanita itulah orang yang meningkat dari Istana Samping, menjadi seorang court lady di Perpustakaan Kekaisaran, Su Xi-er. Kau belum pernah mendengar tentang dia?"

"Tidak, siapa dia? Walaupun ia adalah seorang court lady dari Perpustakaan Kekaisaran, tidak semestinya dia sesombong ini."

"Apa kau sudah berubah jadi tolol? Su Xi-er adalah kesukaan Pangeran Hao. Bahkan, Komandan Pasukan Tentara Kekaisaran harus bersikap sopan terhadapnya. Mengapa kau tidak mencoba untuk menghalanginya lagi?"

Mata si pengawal pun membelalak setelah menerima peringatan dari temannya. "Ia adalah Su Xi-er? Pantas saja auranya berbeda. Pasti itu karena ia terbiasa melayani Pangeran Hao. Faktanya, satu-satunya kata yang bisa kugunakan untuk menggambarkannya adalah dingin!"

"Tidak masalah selama kau mengetahuinya. Cukup bersikap lebih sopanlah jika kau bertemu dengannya lain kali. Dulunya ia adalah seorang dayang istana, tetapi sekarang ia adalah seorang court lady; siapa tahu, kalau ia akan terbang hingga ke atas di masa depan?"

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah tiba di sisi Dayang Senior Liu. Tubuh orang itu sudah dibaringkan di atas tandu bambu, dan ditutupi dengan kain putih.

Kami berbicara beberapa hari yang lalu, tetapi sekarang ia berbaring tak bergerak di lantai.

Beberapa tabib kekaisaran membungkuk ketika melihat sang Kaisar. "Pejabat rendahan ini memberi hormat kepada Yang Mulia."

Situ Lin maju beberapa langkah dan berjongkok. Mengabaikan tabib kekaisaran, ia mengangkat kain putih itu dan memanggil, "Ibu Asuh, Kaisar ini sudah datang untuk melihatmu."

Ekspresi Dayang Senior Liu tenang, dan tidak ada tanda-tanda ketidaknyamanan di wajahnya. Itu seolah-olah ia benar-benar meninggal dengan damai.

Su Xi-er melihat ke arah Tabib Kekaisaran Zhao dan mempertanyakan, "Biarpun jika seseorang meninggal karena usia tua, roman wajah mereka tidak akan sedamai ini. Hamba curiga tentang kematian Dayang Senior Liu."

Tabib Kekaisaran Zhao melambaikan tangannya supaya tabib lainnya mundur.

Segera, hanya Situ Lin, Su Xi-er, dan Tabib Kekaisaran Zhao yang tersisa di dalam ruangan tersebut.

Tabib Kekaisaran Zhao membungkuk ke arah Situ Lin. "Yang Mulia, pejabat biasa ini curiga kalau seseorang meracuni Dayang Senior Liu. Seperti yang disebutkan oleh Court Lady Su, ada yang mencurigakan tentang kematiannya."

Situ Lin meletakkan kain putih itu kembali ke tempatnya dan bangkit beridiri dengan ekspresi yang serius. "Ibu Asuh tidak bersaing dengan siapa pun untuk kekuasaan, maupun menyinggung orang lain. Mengapa ia ditargetkan?"

"Ini ... pejabat biasa ini tidak yakin; aku hanya bisa memastikan penyebab kematiannya."

Su Xi-er menatap Situ Lin. "Yang Mulia, meski jika Dayang Senior Liu tidak bersaing dengan orang lain, bukan berarti kalau orang lain akan membiarkannya sendiri."

Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Setelah beberapa lama, Situ Lin berhasil memaksakan dirinya untuk berbicara di sela-sela gertakan giginya. "Selesaikan masalah ini, dan temukan pembunuh yang sebenarnya."

Tabib Kekaisaran Zhao bertanya, "Apabila kita menemukan mereka, apa yang akan Yang Mulia lakukan?"

Situ Lin menjawab tanpa keraguan. "Nyawa untuk nyawa. Itu akan ditangani sesuai dengan hukum."

Mendengar itu, Tabib Senior Zhao punya firasat buruk selagi ia melihat ke arah Su Xi-er.

Di waktu yang sama, Su Xi-er melihat ke arah Situ Lin. Apakah ia benar-benar akan membuat orang itu membayar dengan nyawa mereka, jika ia menemukan pelakunya? Aku tahu pasti bahwa orang yang akan menyakiti Dayang Senior Liu hanya mungkin Pei Ya Ran dan Xie Yun.

"Tabib Kekaisaran Zhao, Kaisar ini akan mendiskusikan masalah ini dengan Paman Kekaisaran. Semenjak ibunda Kaisar ini wafat lebih awal, Ibu Asuh sangat penting bagiku." Situ Lin mengepalkan tinjunya kuat-kuat, dan ada jejak dendam yang bisa dibedakan di antara kesedihan di wajahnya.

Kapan saja Situ Lin menghadapi masalah, orang pertama yang dipikirkannya adalah Pei Qian Hao. Su Xi-er berkomentar dalam hati. Di dalam hati Yang Mulia, ia takut pada Pei Qian Hao; tetapi di waktu yang bersamaan, tidak ada orang lain lagi yang lebih ia hormati dan andalkan.

Setelah memikirkan ini, Su Xi-er melihat ke Dayang Senior Liu. Kami akan menemukan pembunuh yang sebenarnya. Istirahatlah dengan tenang, dan ketahuilah bahwa aku tidak akan membiarkanmu memiliki penyesalan. Pangeran Hao tidak akan merampas kekuasaan kekaisaran; takhta Bei Min milik Situ Lin.

0 comments:

Posting Komentar