Consort of A Thousand Faces
Chapter 371 : Berumur Pendek
(T/N : Judul chapter ini juga membuat pelesetan dari nama Chao Mu,
karena frasa yang tadinya digunakan di judulnya terdiri dari huruf nama Chao
Mu.)
•
•
•
"Tan Ge, kau harus berbahagia. Pukul sembilan malam ini, kau bisa mengambil
pangsit dari Dapur Kekaisaran. Selama Titik Balik Matahari Musim Dingin ... kau
harus makan pangsit, sehingga akan ada keberuntungan tahun depan." Wajah
Chao Mu menjadi sangat merah, dan ia merasa sekujur tubuhnya terbakar.
Napasnya menjadi cepat dan tidak stabil, sewaktu ia berusaha untuk
meraih sesuatu dengan satu tangan yang terangkat, pada akhirnya jatuh ke dalam
keheningan yang mematikan.
Tan Ge menyaksikan tak berdaya selagi Chao Mu yang tadinya hidup dan
ceria berbaring dalam diam di tangannya. Ia tidak sanggup menghentikan air
matanya berhamburan menuruni wajahnya selagi ia membungkuk untuk berbisik
pelan, "Chao Mu, jangan mati. Kumohon, jangan mati."
Ratapan sedihnya menggema di sekelilingnya, dan ia bahkan tidak
mengetahui berapa lama waktu berlalu sebelum ia berhenti menangis. Baru ketika
itulah, ia bisa merasakan angin dingin meniup tubuhnya, membekukan hatinya
seiring dengan itu.
Tiba-tiba saja, suara jelas seorang pria dapat terdengar. "Tan Ge,
apa yang kau lakukan di kamar Su Xi-er?"
Itu tak lain adalah Shu Xian. Ia baru saja kembali dari Akademi
Kekaisaran, dan sedang memegang sekeranjang pangsit yang didapatkannya dari
juru masak di sana.
Tan Ge menoleh, menatapnya dengan mata yang membengkak. "Shu Xian ...." Suaranya masih terdengar seperti terisak.
Shu Xian melihat ke arah Tan Ge, hanya untuk melihat Chao Mu yang tak
bergerak, berbaring di tangannya dengan pipi yang memerah.
Ia langsung merasa jantungnya tenggelam. Keranjang yang sedang
dipegangnya pun terjatuh ke lantai, pangsit-pangsit putih besar berguling di
lantai yang berdebu dan jadi berselimut debu.
Shu Xian berjongkok dengan mata yang terbelalak. Ia dengan hati-hati
mengulurkan tangan guna memeriksa pernapasan Chao Mu sewaktu ia mempertanyakan.
"Ini ... apa yang terjadi? Mengapa Chao Mu ...."
Suaranya menghilang karena tidak percaya, dan ia pun jatuh ke tanah
dengan tatapan kosong di matanya. Seolah-olah jiwanya telah meninggalkan
tubuhnya. Aku hanya pergi ke Akademi Kekaisaran selama beberapa hari,
tetapi kini, Chao Mu ....
Tan Ge merasa hatinya tersiksa oleh rasa sakit. "Sebelum Chao Mu
meninggal, ia memberitahuku bahwa ada racun di dalam tekonya, dan bahwa
seseorang ingin mencelakai Su Xi-er."
(T/N : ya elu itu Tan Ge. Greget bener sama nih cewe sebiji.)
Shu Xian dilanda emosi. Akhirnya, ia merebut Chao Mu dari Tan Ge dan
memeluknya. Tubuhnya masih hangat, seolah ia hanya tertidur diam-diam.
"Chao Mu, bangunlah. Kau bisa memarahiku sesukamu dan aku tidak
akan melawan. Jangan tidur setenang ini. Aku tidak terbiasa." Shu Xian
terus bergumam selagi ia mengelus rambutnya. Namun, tak peduli bagaimana ia
memanggilnya, satu-satunya tanggapan yang didapatinya adalah keheningan, dan
rasa dari tubuh Chao Mu yang menjadi semakin dingin.
Tiba-tiba saja Shu Xian tertawa, membawa Chao Mu dalam pelukannya
sementara ia berjalan pergi. Tan Ge masih mengakar di tempat selagi ia memerhatikan
Shu Xian dengan mata merah dan membengkaknya, tidak pernah berpaling hingga ia
menghilang di dalam malam. Aku ingin tahu, kemana ia akan pergi.
Beberapa saat setelahnya, hati Tan Ge melonjak. Ada sesuatu yang
sangat aneh dengan ekspresi Shu Xian. Jangan katakan padaku bahwa ia berencana
untuk mengikuti Chao Mu setelah melihat kalau ia sudah meninggal?
Pemikiran akan kemungkinan ini membuat Tan Ge segera berlari keluar. Ia
baru berhasil beberapa langkah ketika ia melihat pintu dari tempat penyimpanan
buku dibuka dari dalam.
Dengan bantuan dari sinar bulan, ia melihat Su Xi-er dan Pei Qian Hao
yang berjalan keluar. Orang itu sedang memeluk Su Xi-er, seolah-olah ia takut
kalau gadis itu akan kedinginan.
Su Xi-er mengabaikan tubuhnya yang sakit dan bertanya, "Ada apa
sebenarnya dengan Anda? Di tempat penyimpanan buku, Anda terang-terangan ...." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia merasa apa yang
baru saja mereka lakukan terlalu memalukan.
"Pangeran ini berada di bawah pengaruh wewangian pekasih. Aku hanya
menciumnya sedikit, dan aku segera datang ke Perpustakaan Kekaisaran setelah
aku menyadarinya."
Alis Su Xi-er mengerut, dan ia baru saja akan bertanya apa maksudnya
ketika ia melihat Tan Ge.
Ia bisa melihat mata Tan Ge yang memerah dan membengkak, membuatnya
tampak jelas bahwa ia habis menangis.
Su Xi-er mendorong Pei Qian Hao, tetapi karena aktivitas mereka yang penuh
gairah barusan ini, ia merasa kakinya agak tidak stabil. Pei
Qian Hao menyadari ini, dan langsung maju ke depan untuk menyangganya. Itu
salahku karena tidak mengendalikan tenagaku. Aku pasti telah melukainya.
"Tan Ge, ada apa?" Su Xi-er merasakan kengerian membasuh
seluruh dirinya sementara gerutuan terus menarik hatinya.
Tan Ge kembali menangis. "Chao Mu sudah mati. Shu Xian membawanya
pergi, dan aku tidak tahu kemana ia pergi."
"Apa?" Su Xi-er meninggikan suaranya. Chao Mu sudah
mati ....
Ia teringat bahwa Chao Mu sudah memberitahunya kalau mereka akan pergi
ke Dapur Kekaisaran dari pukul sembilan hingga sebelas malam demi mengambil
pangsit. Tetapi, pukul sebelas malam sudah berlalu, dan Chao Mu sudah
mati.
Mengapa ia mati? Bagaimana ia mati?
Su Xi-er melepaskan diri dari Pei Qian Hao. "Ke arah mana perginya
Shu Xian?"
Tan Ge menunjuk ke depannya. "Ia meninggalkan Perpustakaan
Kekaisaran. Cepatlah pergi dan temukan dia. Aku khawatir kalau Shu Xian
menanggapinya terlalu keras, dan berpikir untuk bunuh diri." Tan Ge
berjalan ke depan dengan gelisah.
Aku sudah membunuh Chao Mu. Aku tidak mau membunuh Shu Xian juga.
Su Xi-er juga berlari, tetapi ia merasa kakinya lemas setelah hanya
mengambil dua langkah.
Sepasang lengan yang panjang terulur dari belakangnya dan memeluknya
sebelum ia jatuh ke tanah, dan suara dari si pemilik pun terdengar.
"Tubuhmu sedang lemah sekarang ini; kau harus berbaring di kamarmu dulu.
Pangeran ini akan menangani masalah Chao Mu."
Su Xi-er digendong ala pengantin oleh Pei Qian Hao, tidak memberikannya
kesempatan untuk menolak.
Setelah memasuki kamar, Pei Qian Hao melirik ke teko air sebelum dengan
lembut membaringkannya di atas ranjang.
Melihat kalau ia sudah akan pergi, Su Xi-er menariknya. "Kematian
Chao Mu pasti ada kaitannya denganku."
Tatapan Pei Qian Hao mendalam. "Apabila itu masalahnya, maka itu
juga ada sangkut-pautnya dengan Pangeran ini. Sudah dipastikan, di saat
Pangeran ini mengumumkan pernikahan itu, bahwa malam ini tidak akan damai.
Tinggallah di sini dengan patuh; juru masak akan datang membawakan sup kacang
merah. Pangeran ini tidak akan mengampuni siapa pun yang telah memprovokasi
orang-orangku."
Suara sedingin esnya bergema di seluruh ruangan sebelum ia pergi,
menginstruksikan Wu Ling agar berjaga di luar sana.
Sementara Su Xi-er berbaring di ranjang, ruangan yang sunyi itu sangat
kontras dengan hatinya yang bergejolak. Ia mengangkat selimut dan bersiap untuk
turun dari ranjang.
Akan tetapi, tepat saat kakinya menyentuh sepatu bersulamnya, ia
merasakan pahanya sakit.
Su Xi-er mengerutkan bibirnya. Ia mengetahui bahwa saat pertama akan
tidak nyaman, tetapi ia tidak menyangka itu akan sangat menyakitkan. Seharusnya
Pei Qian Hao bersikap lebih lembut!
Meski ia berada dalam pengaruh wewangian pekasih, itu hanya sedikit,
sehingga semestinya ia tidak sepenuhnya kehilangan kendali atas nalarnya.
Tetapi tindakannya ketika ia melakukan hal itu terlalu ... gagah dan
buas. Namun, apa yang tidak diketahui Su Xi-er adalah bahwa
efeknya dapat ditekan secara paksa.
Tetapi, bagi Pei Qian Hao, Su Xi-er lebih kuat daripada wewangian
pekasih mana
pun. Barangkali, ia punya alasan lain untuk melakukan
demikian.
Ketika Wu Ling mendengarkan pergerakan di dalam kamar, ia mengetuk
pintunya. "Nona Xi-er, jangan ragu untuk mengatakannya jika Anda
membutuhkan sesuatu."
Su Xi-er sudah memakai sepatunya dan sedang berjalan menuju ke pintu
saat tanpa disengaja, ia melirik ke dalam teko air itu.
Ketika aku pergi, teko airnya diletakkan di sebelah kanan meja, tetapi
sekarang itu sudah berpindah ke tengah—seseorang sudah menyentuh teko air ini.
Su Xi-er langsung mengambil teko air itu dan membuka tutupnya sebelum
mengangkatnya ke cahaya lilin. Sama sekali tak ada perubahan dalam warna
airnya.
"Nona Xi-er, apa yang sedang Anda lakukan di dalam sana?"
Suara Wu Ling pun terdengar lagi.
Mata Su Xi-er diliputi keheranan, dan ia menginstruksikan Wu Ling untuk
masuk.
"Pergilah ke Institut Tabib Kekaisaran, dan panggilkan Tabib
Kekaisaran Zhao kemari sesegera mungkin."
Wu Ling mengangguk dan menuju ke Institut Tabib Kekaisaran, meninggalkan
Su Xi-er seorang diri di dalam kamar.
Pasti ada sesuatu yang salah dengan air ini. Barangkali, seseorang
menambahkan racun di dalam airnya, dan ketika Chao Mu datang menjemputku, tanpa
sadar, ia menelannya.
Tetapi, pada waktu itu, aku berada di tempat penyimpanan buku ....
Tiba-tiba saja, Su Xi-er merasakan sakit di hatinya, dengan adegan Lü
Liu yang sekarat di lengannya berkelebat dalam benaknya.

0 comments:
Posting Komentar