Minggu, 03 Mei 2026

3L3W Lotus Step 1 - Chapter 4 part 2

3L3W Lotus Step 1

Chapter 4 part 2


Setelah Yan Lan menarik kembali pandangannya dari jendela di bawah, ia pun duduk di Paviliun Zhu Zi sejenak, dan berkata kepada pelayan cantik yang berdiri di sampingnya: "Aku hanya pernah melihat Yang Mulia Ketiga bercakap-cakap panjang dengan Guru Nasional sebelumnya."

Tian Bu tertawa dan berkata, "Bukankah menyenangkan kalau Yang Mulia Ketiga ingin berbicara lagi dengan orang-orang biasa?"

Tangan Yan Lan yang memegang bidak catur sedikit mengencang, dan suaranya sangat lembut: "Hanya anak remaja tanggung, apanya yang perlu dibicarakan." Ucapannya mengandung kebingungan dan berkata, "Mungkinkah Yang Mulia Ketiga senang berteman dengan anak laki-laki seperti itu ketika ia ada di langit?"

Tian Bu berdiri jauh dari jendela dan tidak melihat dengan jelas remaja seperti apa yang berkumpul di bawah, jadi ia bertanya sambil tersenyum: "Remaja macam apakah itu?"

Yan Lan menurunkan matanya: "Dengan punggungnya menghadapku, aku tidak bisa melihat penampilannya dengan jelas, hanya melihat punggungnya, kurasa cukup biasa-biasa saja." Sambil mengerutkan kening: "Tetapi banyak bicara." 

Tian Bu menggelengkan kepalanya: "Yang Mulia Ketiga dulunya adalah orang yang paling tidak suka banyak bicara."

Yan Lan terdiam beberapa saat, pandangannya sedikit kabur: "Aku tidak bisa menebak Yang Mulia Ketiga."

Tian Bu masih tersenyum, tetapi tidak menjawab.

Yan Lan melanjutkan: "Malam itu ... aku teringat adegan dimana aku mengucapkan selamat tinggal kepada Yang Mulia Ketiga di Pagoda Pengunci Iblis dan pergi ke rumahnya keesokan harinya untuk mencarinya. Aku bertanya kepadanya mengapa ia menyelamatkanku waktu itu .... Ia sepertinya tidak kaget karena aku mengingat hal-hal itu, tetapi ia belum tentu merasa sangat senang. Ia mendongak dari bukunya dan menjawab sambil tersenyum, mengatakan, 'Maksudmu, kenapa aku menyelamatkan Chang Yi? Tidak ada alasan khusus, tetapi Chang Yi pada akhirnya, jadi sedikit berbeda bagiku.'"

Kemurungan muncul di matanya: "Tian Bu, itu aneh tidak? Kupikir, aku adalah Chang Yi, dan ia juga tahu bahwa aku adalah Chang Yi, itulah mengapa ia datang ke dunia fana ini dan muncul di sisiku. Namun, ia tidak pernah memanggilku Chang Yi. Aku sudah lama memikirkannya," matanya dipenuhi kabut, yang membuat mata gelap itu tampak menyedihkan. "Itu karena, aku tidak bisa mengingat apa pun kecuali Pagoda Pengunci Iblis, jadi Yang Mulia Ketiga tidak merasa bahwa aku adalah Chang Yi." Ia berkata sembari mendongak menghadap ke langit: "Apakah aku benar?"

Tian Bu berkata dengan lembut: "Jika Putri memiliki keraguan tentang beberapa hal, Anda sebaiknya bertanya langsung kepada Yang Mulia. Kesehatan Putri sedang tidak baik, jadi jangan terlalu khawatir."

Yan Lan terdiam untuk waktu yang lama, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, seolah-olah ia bertanya kepada Tian Bu, tetapi lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri: "Menurutmu, apa pendapat Yang Mulia Ketiga tentang Chang Yi dan aku?"

Tian Bu menghela napas dalam hatinya. 

Ada miliaran dunia fana di dunia yang luas, dan perjalanan waktu di setiap dunia fana berbeda-beda. Ada yang lebih cepat daripada di Jiu Chong Tian, dan ada pula yang lebih lambat dibandingkan di Jiu Chong Tian. Dinasti Da Xi di sini jauh lebih cepat dari langit. Satu hari di Jiu Chong Tian, sama dengan satu tahun di Dinasti Da Xi.

Tian Bu ingat ketika ia mengikuti Yang Mulia Ketiga ke dunia fana ini untuk pertama kalinya, itu adalah tahun ke dua puluh delapan ketika roh Chang Yi menghancurkan Pagoda Pengunci Iblis. Pada saat itu, cucu baru Tian Jun, Ye Hua Jun, baru berusia dua puluh lima tahun.

Memang benar bahwa usia dua puluh lima tahun dianggap sebagai pemuda di antara manusia, tetapi ketika Empat Lautan dan Delapan Dataran pertama kali ada, ada lima ras yang berbakat, dan semakin lemah ras tersebut, semakin pendek pula umurnya dan semakin cepat pula pertumbuhannya. Misalnya, rahim makhluk abadi dan iblis tidak mudah untuk dikandung, bahkan lebih sulit lagi untuk tumbuh dewasa, oleh karena itu, usia dua puluh lima tahun masih merupakan bayi yang sangat kecil bagi para dewa.

Pada hari Jiu Chong Tian merayakan ulang tahun Ye Hua Jun kecil, Tian Jun meninggalkan Yang Mulia Ketiga setelah jamuan makan. Dari wajah Yang Mulia Ketiga, sulit untuk melihat apakah ia mengharapkan apa yang akan dikatakan Tian Jun kepadanya. Ketika Ye Hua Jun kecil datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dengan wajah serius, Yang Mulia Ketiga masih berusaha melucu, mencubit wajah kecil Ye Hua Jun yang imut.

Ada banyak makhluk abadi kecil di langit, dan semua makhluk abadi yang lahir di langit, cerdas dan imut. Di antara mereka, Ye Hua Jun adalah anak makhluk abadi kecil yang paling mulia, rupawan dan menggemaskan. Tetapi Xiao Ye Hua memiliki temperamen serius, yang pelit senyuman di usia yang begitu muda. Misalnya, makhluk abadi kecil lainnya selalu bertingkah genit ketika orang yang lebih tua mencubit pipinya, tetapi Xiao Ye Hua sepertinya tidak mau repot-repot mengurusinya, dan lanjut memberi hormat kepada Tian Jun dengan segala sopan santun dan pergi memberi penghormatan kepada Yang Mulia Ketiga.

Pada saat itu, Yang Mulia Ketiga memandang Xiao Ye Hua dengan agak geli dan berkata: "Kau tahu bahwa ketika kau besar nanti, kau akan menikahi Bai Qian, si cantik nomor satu dari ras makhluk abadi kita, dan Bai Qian jauh lebih tua darimu, jadi kau sengaja tumbuh dewasa seperti ini sejak usia muda, supaya bisa sebanding dengannya di masa depan, kan?"

Kata-kata seperti ini tidak boleh diucapkan kepada seorang anak kecil. Siapa pun yang berani mengatakan kata-kata seperti itu di depan cucu kecil di Jiu Chong Tian, takutnya Tian Jun akan mengulitinya, tetapi hanya Yang Mulia Ketiga saja, bahkan jika Tian Jun mendengarkan, ia akan menganggapnya seperti embusan angin yang bertiup melewati telinganya.

Sedikit rona merah muncul di wajah putih Xiao Ye Hua, dan rona merah itu dengan cepat menyebar ke pangkal telinga, tetapi ketika pangkal telinga menjadi merah, wajahnya tidak terlalu merah. Ia berwajah serius: "Keponakan ini meminta Paman Ketiga untuk berhati-hati dalam berbicara."

Yang Mulia Ketiga pun tertawa.

Ketika Yang Mulia Ketiga tertawa, sepertinya ada dedaunan musim gugur yang beterbangan di mata kuning itu, dan hawa dingin pohon yang tumbang terkandung dalam keindahannya. Ia selalu seperti ini, bahkan senyuman lembutnya membawa keterasingan musim gugur.

Yang Mulia Ketiga membungkuk, dan menempelkan kipas lipat ke bahu kecil Xiao Ye Hua: "Apanya yang kau bicarakan dengan hati-hati?"

Xiao Ye Hua mengerucutkan bibirnya. Ini memang bukan soal yang sulit, tetapi memalukan untuk dijawab. Xiao Ye Hua adalah anak makhluk abadi paling cerdas di langit. Meskipun ia masih muda, ia juga memahami rasa malu seperti ini. Berdiri di sana dengan telinga memerah, ia terlihat seolah-olah ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tian Jun di samping berdeham tepat waktu, dan Xiao Ye Hua segera membungkuk kepada Tian Jun, seolah paman ketiganya adalah semacam momok, dan segera melangkah keluar dengan langkah kecil untuk mengantar gurunya Ci Hang Zhen Ren, untuk beristirahat ke istana lain selama tujuh belas hari.

Yang Mulia Ketiga menyaksikan Ye Hua Jun yang pergi dari kejauhan, dan perlahan menutup kipas lipat di tangannya. Bunga-bunga indah di pohon bebas dari rasa khawatir di Taman Bao Yue Guang bersinar dengan kilauan dingin.

Dalam kesan Tian Bu, Kaisar Ci Zheng generasi ini adalah seorang Tian Jun yang suka bertele-tele untuk menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang dalam. Tetapi setelah Xiao Ye Hua pergi, ketika hanya ayah dan anak yang tersisa di sudut ini, dan ditambahkan seorang pembantu yang tidak jauh untuk menemaninya, Kaisar Ci Zheng tidak beralih ke Yang Mulia Ketiga, ia juga tidak memamerkan sikap seorang Tian Jun.

Kaisar Ci Zheng bertanya kepada Yang Mulia Ketiga dengan sepasang alis yang penuh belas kasih: "Ling Bao Tian Zun sudah selesai memperbaiki jiwa makhluk abadi dari Hong Lian Xian Zi yang kau selamatkan. Taruhan yang kubuat denganmu hari itu, Ayah masih berjanji padamu. Tetapi Ayah tetap ingin menanyaimu, setelah dua puluh delapan tahun berlalu, kau masih mau turun ke dunia untuk menemani Hong Lian Xian Zi?" 

(T/N: Hong Lian Xian Zi—Dewi Teratai Merah, yaitu Chang Yi. Mungkin di terjemahan sebelumnya disebut peri teratai merah. Entahlah, saya sendiri lupa wkwkwk.)

Tian Bu tidak memahami reaksi Yang Mulia Ketiga saat itu. Yang Mulia Pangeran Ketiga sepertinya sudah mengira Tian Jun akan berbicara dengannya tentang masalah ini, atau ia tidak menyangkanya, atau ia sama sekali tidak peduli apa yang akan dibicarakan Tian Jun dengannya.

"Sudah dua puluh delapan tahun? Kalau begitu, ayo pergi," jawabnya, "Aku tidak pernah tinggal lama di sini, dan kurasa itu tidak akan lebih membosankan Jiu Chong Tian yang sekarang ini."

Tian Jun menatapnya lama sekali, menghela napas berat, mengibaskan lengan jubahnya dan berjalan beberapa langkah, berbalik setelah beberapa langkah, akhirnya tidak bisa menahan amarahnya: "Meskipun kakak laki-lakimu telah menggantikan posisi kakak laki-lakimu yang kedua, kemampuannya untuk naik takhta tidak sebagus kakak keduamu. Kalau kau bisa lebih banyak membantu kakak pertamamu sehari-harinya, Ayah tidak akan sesibuk ini. Tak ada banyak hal baru yang terjadi di Jiu Chong Tian, apakah menurutmu itu membosankan?" 

Yang Mulia Ketiga tampaknya berpikir bahwa Tian Jun bersikap tidak masuk akal dan membuat masalah: "Menteri dan kakak laki-lakiku harusnya menjalankan tugas mereka masing-masing, dan air sumur tidak mengganggu air sungai."

Tian Hun melotot dan berkata, "Air sumur tidak mengganggu air sungai? Percaya atau tidak, besok aku akan melepaskan beban kakakmu padamu?"

Tian Bu berpikir bahwa meskipun Tian Jun sangat menakutkan di hari-hari biasa, Tian Jun yang marah pada Yang Mulia Ketiga selalu agak lucu.

Yang Mulia Ketiga mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Tian Jun, dan tersenyum tak berdaya: "Ayah baru saja bertanya kepada putra ini apakah aku ingin turun ke alam fana, dan putra ini sudah setuju. Ayah adalah raja langit, jadi Anda tidak boleh bercanda tentang hal itu."

Tian Jun tercekik untuk waktu yang lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan berjalan pergi dengan janggut dikibaskan dan mata yang melotot. Yang Mulia Ketiga tinggal di sana sejenak dengan sopan, dan kemudian berjalan sampai ke Istana Tai Chen milik Dong Hua Di Jun, tanpa membiarkannya mengikutinya lagi.

Tian Bu tahu taruhan apa yang disebutkan Tian Jun.

Ia sudah tinggal di dunia fana selama delapan belas tahun, ditambah dua puluh delapan tahun di surga, jadi kejadian itu terjadi empat puluh enam tahun yang lalu.

Empat puluh enam tahun yang lalu, untuk memperkuat kekuatan Klan Langit dan membuat Klan Iblis dan Klan Hantu semakin takut pada Klan Langit, Tian Jun pergi ke Kerajaan Qing Qiu demi putra keduanya, Sang Ji, untuk menikahkannya dengan putri satu-satunya Bai Zhi Di Jun dari Klan Rubah Ekor Sembilan, Bai Qian.

Klan Langit dan Klan Rubah Ekor Sembilan akhirnya memutuskan untuk menikah, namun tak disangka, Sang Ji diam-diam jatuh cinta pada pelayan Bai Qian, si ular ba kecil, Shao Xin. Hal ini diketahui oleh Tian Jun, yang membenci ular ba kecil itu. Jadi untuk mencegahnya menghancurkan gerakan luar biasa demi tujuan besar memperkuat klan, Tian Jun memenjarakan ular ba kecil itu ke dalam pagoda pengunci iblis yang penuh dengan monster tanpa penjelasan apa pun. Sang Ji tidak tahan dengan penderitaan kekasihnya, jadi ia dengan berani mendobrak pagoda pengunci iblis untuk menyelamatkan ular ba kecil itu. Ular ba kecil pun berhasil diselamatkan, tetapi yang kehilangan nyawanya adalah temannya, Hong Lian Xian Zi, Chang Yi.

Hal ini menimbulkan banyak masalah, dan karena itu, pernikahan antara Bai Qian dari Qing Qiu dan Yang Mulia Pangeran Kedua Jiu Chong Tian pun berakhir. Tetapi bagaimana Tian Jun bisa meninggalkan pernikahan yang baik ini? Sehingga, segera setelah ketika Xiao Ye Hua yang akan mewarisi pemerintahan Tian Jun di masa depan, lahir, ia telah memiliki calon menantu perempuan seperti Bai Qian dari Qing Qiu.

Di masa lalu, Yang Mulia Kedua Sang Ji yang menyebabkan masalah, kehilangan posisi putra mahkotanya yang mudah didapatkannya, diturunkan ke Laut Utara, dan menjadi raja air kecil, dan si ular ba kecil juga mengikuti Sang Ji ke Laut Utara. Bahkan jika Tian Jun menghukum mereka, keduanya dapat dianggap memiliki hasil yang positif. Tetapi di lain pihak, nyawa Hong Lian Xian Zi, Chang Yi, semua makhluk abadi yang mengetahui masa lalu ini merasa bahwa kematiannya sangat tidak adil. 

Mengenai kenapa Hong Lian Xian Zi, Chang Yi menemani Sang Ji membobol Pagoda Pengunci Iblis, dan akhirnya mati di Pagoda Pengunci Iblis agar Sang Ji dan ular ba kecil itu bisa diselamatkan, karena imajinasi para makhluk abadi itu terbatas, hanya ada dua teori yang disampaikan secara pribadi. 

Ada yang mengatakan, karena Chang Yi dan Yang Mulia Kedua Sang Ji adalah teman dekat, tindakan Chang Yi adalah membantu temannya, menunjukkan kata keadilan. Ada yang mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Sang Ji, dan tindakan ini adalah mengorbankan hidupnya demi cinta, membantu orang lain sampai mengorbankan dirinya sendiri, dan untuk mewujudkan kata-kata "cinta yang luar biasa".

Mengenai yang terakhir, para makhluk abadi yang berani dan bahagia secara seksual mau tidak mau mengucapkan beberapa patah kata lagi setiap kali mereka membicarakannya. Dua kata lagi yang diucapkan tidak lebih dari bahwa Chang Yi benar-benar bodoh, meskipun ia adalah iblis dan menjadi makhluk abadi, ia harusnya tanpa Enam Emosi atau Tujuh Keinginan. Jatuh cinta pada Sang Ji, sebenarnya adalah pelanggaran hukum, tetapi dua-duanya sudah melanggar hukum. Kenapa tidak jatuh cinta saja dengan Yang Mulia Ketiga.

Yang Mulia Kedua tergila-gila dengan ular ba kecil dan ular itu jatuh cinta dengan Yang Mulia Kedua, yang merupakan cinta yang tak ingin terpisahkan.

Yang Mulia ketiga adalah orang yang benar-benar baik untuknya. Dengar-dengar bahwa Yang Mulia Ketiga bergegas kembali dari alam wilayah selatan demi menyelamatkannya, tanpa ragu-ragu menyerahkan separuh kultivasinya hanya untuk menyelamatkan napas hidupnya ... gimana, hah.

Seperti yang dibicarakan oleh makhluk abadi kecil, Chang Yi kehilangan jiwa abadinya hari itu, dan Yang Mulia Ketiga tidak ragu-ragu untuk menyebarkan setengah dari basis kultivasinya, hanya untuk mendapatkan kembali napas Chang Yi. Kemudian Yang Mulia Ketiga memekatkan napasnya ke dalam sebutir mutiara yang cerah, dan ingin menemukan benda suci klan langit, Jie Po Deng, untuk menciptakan jiwa untuknya, sehingga Chang Yi dapat terlahir kembali sebagai makhluk abadi. Oleh karena itu, banyak rumor yang mengatakan bahwa siapa yang menyangka Yang Mulia Ketiga, yang tak tertandingi dalam percintaan, akan memiliki obsesi yang tergila-gila.

Bahkan Tian Jun percaya bahwa Yang Mulia Ketiga menyelamatkan Chang Yi karena obsesinya pada Chang Yi.

Hong Lian Xian Zi masuk sendiri ke pagoda pengunci iblis. Menurut aturan langit, ia harus dihukum dengan menghancurkan jiwanya di bawah pagoda, tetapi Yang Mulia Ketiga mengabaikan aturan langit, yang membuat Tian Jun marah. 

Tian Jun di Istana Yuan Ji pun memelototi Yang Mulia Ketiga: "Cinta itu sehalus matahari terbenam dan embun pagi, tidak terlihat dan tak bisa dilacak. Cinta itu paling tidak bisa diandalkan. Tidak ada cinta di dunia ini yang pantas dengan setengah kultivasi tubuhmu. Kau berkorban begitu banyak demi Chang Yi hari ini. Saat cinta memudar suatu hari nanti, kau akan menyesal hari ini. Tidak ada cinta yang bertahan lama di dunia ini. Aku melihatmu bermain-main setiap hari, berpikir bahwa kau telah memahami kebenaran, dan aku sangat percaya diri. Tetapi hari ini aku melihatmu, rasa pilih kasih berlebihmu itu telah mengecewakanku. Terlalu ceroboh!"

Yang Mulia Ketiga masih sedikit pucat pada saat itu, tetapi ia tampaknya tidak menganggap serius kemarahan Tian Jun, dan Yang Mulia Ketiga selalu seperti ini: "Ayah telah mengajariku dengan baik," ia tersenyum: "Namun, di dunia ini, ada perasaan sejati yang tidak akan disesali atau pun berubah dikarenakan waktu. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya, tetapi kini," ia terdiam tanpa menjelaskan lebih lanjut, ia hanya berkata: "Terkadang cinta lebih besar dari hukum, dan memang tidak ditoleransi oleh hukum, tetapi setelah melanggar hukum ini, sepertinya tidak ada yang perlu disesali.”

Ekspresi terkejut dan marah muncul bersamaan di wajah Tian Jun, mungkin karena Yang Mulia Ketiga, yang selalu bersikap acuh tak acuh, akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Setelah lama memandangi Yang Mulia Ketiga, ia pun meninggalkan Istana Yuan Ji tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tian Bu sebenarnya telah mendengar tentang harapan besar yang diberikan Tian Jun kepada Yang Mulia Ketiga. Suatu ketika, sewaktu Dong Hua Di Jun sedang bermain catur dengan Yang Mulia Ketiga, ia menyebutkan bahwa Tian Jun bermaksud agar Yang Mulia Ketiga mewarisi posisi abadi Dewa Agung Mo Yuan, yang telah wafat bertahun-tahun yang lalu, dan menjadi Dewa Perang, melindungi Klan Langit. Dari segi peperangan, Yang Mulia Ketiga memang tak tertandingi di antara para dewa muda dari seluruh Klan Langit.

Masalah Tian Jun adalah ia selalu percaya bahwa hanya mereka yang tidak terguncang oleh dunia yang dapat mencapai hal-hal besar. Oleh karena itu, pelajaran pertama yang ingin diajarkannya kepada mereka yang menurutnya akan diberi tanggung jawab besar adalah bagaimana menjadi dewa yang kejam. Ini juga alasan mengapa Tian Jun lebih memilih Yang Mulia Ketiga secara pribadi.

Yang Mulia Pertama yang bermartabat dan Yang Mulia Kedua yang jujur tampaknya adalah orang-orang yang kejam, tetapi mereka sebenarnya adalah orang-orang yang penuh kasih sayang. Sedangkan Yang Mulia Ketiga yang flamboyan terlihat seperti orang yang penuh kasih, tetapi tidak pernah menganggapnya serius. Faktanya, ia adalah orang yang paling kejam.

Putra bungsu yang berbakat dan cerdas ini, dewa muda yang belum pernah dikalahkan di medan perang, meskipun temperamennya agak santai, tidak tahu apa yang dipikirkannya sepanjang hari, namun ia cerdas dan kuat. Hal yang paling menakjubkan adalah bahwa dunia yang kejam dapat menggerakkannya, dan dunia yang kejam dapat mengganggunya. Ia terlahir sebagai dewa perang untuk melindungi klan.

Namun suatu hari, seorang anak laki-laki yang begitu sempurna mengatakan kepadanya bahwa mungkin ada perasaan sejati di dunia ini yang tidak akan disesalkan atau tidak berubah seiring waktu atau peristiwa. Terkadang, tidak ada salahnya perasaan lebih besar dari hukum.

Tian Jun menganggap ini keterlaluan. Ia merenung keras di Istana Ling Xiao selama dua hari, dan pada hari ketiga ia pun mendapat ide. Perhatian dengan tubuh Yang Mulia Ketiga, ia mengunjungi Istana Yuan Ji lagi secara langsung.

Di kursi batu giok Istana Yuan Ji, Tian Jun berkata dengan tenang bahwa ia secara pribadi akan pergi ke Alam Shang Qing untuk meminta Ling Bao Tian Zun memperbaiki jiwa abadi Hong Lian Xian Zi, Chang Yi, dan kemudian membuat Chang Yi terlahir kembali di dunia fana sebagai makhluk fana.

Orang biasa memiliki umur yang terbatas, satu kehidupan adalah satu jia zi, tepatnya enam puluh tahun. Ia mengizinkan Yang Mulia Ketiga pergi ke dunia fana untuk menemani Hong Lian Xian Zi selama enam puluh tahun, tetapi ia harus menyegel sihir di sekujur tubuhnya. Jika Yang Mulia Ketiga bisa memperlakukan Hong Lian Xian Zi selama enam puluh tahun ini, dapat mempertahankan kasih sayang tetap yang tidak berubah, yang membuktikan bahwa ada cinta sejati di dunia ini yang tidak disesali atau tidak berubah karena waktu dan peristiwa, maka ia akan mengakuinya. Cinta yang dikatakan Yang Mulia Ketiga bisa lebih hebat dari hukum, dan kemudian ia akan membiarkan Hong Lian Xian Zi kembali ke langit, dan kemudian memberinya posisi makhluk abadi, dan memerintahkan agar dirinya kembali terdaftar sebagai makhluk abadi.

Dan jika cinta Yang Mulia Ketiga kepada Chang Yi sama nyatanya dengan matahari terbenam dan embun pagi, dan ia bahkan tidak dapat bertahan selama enam puluh tahun, maka akan sangat sembrono baginya untuk meninggalkan basis kultivasinya untuk menyelamatkan Chang Yi hari ini, dan Chang Yi akan bereinkarnasi dan menjadi manusia selama-lamanya. Ia juga harus pergi menemui Buddha di Alam Brahma Surga Barat untuk berlatih meditasi selama tujuh ratus tahun, dan kemudian mengambil alih posisi Dewa Perang Penjaga. Ini adalah pelajaran untuknya.

Ini adalah kesepakatan taruhannya.

Tian Bu ingat Yang Mulia Ketiga terkejut untuk waktu yang lama saat itu, tetapi ia tidak membuat alasan apa pun, malah ia menerima taruhan itu sesuai dengan keinginan Tian Jun.

Tian Jun telah salah paham, dan kesalahpahamannya cukup dalam.

Chang Yi, Yang Mulia Kedua dan Yang Mulia Ketiga, meskipun orang luar tidak begitu jelas tentang apa yang terjadi di antara mereka, tetapi Tian Bu Da Xiao mengikuti Yang Mulia Ketiga untuk mengabdi sejak anak-anak, jadi selalu lebih jelas melihatnya daripada orang luar.

Jiu Chong Tian semuanya mengatakan bahwa Dong Hua Di Jun, yang mengasingkan diri dari Empat Lautan dan Delapan Dataran di Istana Tai Chen, adalah dewa dengan rasa keabadian yang paling abadi, karena Di Jun telah berada dalam ilusi San Qing selama puluhan ribu tahun, seperti satu hari. Hanya pergantian empat musim, pergantian matahari dan bulan, dan fungsi dari menciptakan bencana yang menarik perhatiannya. Namun terkadang Tian Bu menganggap Di Jun tidak memedulikan urusan dunia yang remeh itu secara serius karena Di Jun sudah mencapai di batasan usianya, yang mana bukanlah apa-apa.

Mungkin karena Yang Mulia Ketiga dilahirkan sebagai makhluk abadi yang paling cocok jadi makhluk abadi di seluruh Empat Lautan dan Delapan Dataran.

Misalnya, membandingkan Yang Mulia Ketiga dengan Yang Mulia Pertama dan Kedua, yang kira-kira seusia dengan Yang Mulia Ketiga, ketiganya adalah dewa muda yang terhormat. Yang Mulia Pertama memiliki keinginan, dan keinginannya adalah untuk melampaui kedua adik laki-lakinya dalam segala hal; Yang Mulia Kedua juga memiliki keinginan, dan keinginannya lebih tinggi daripada keinginan Yang Mulia Pertama. Ini merupakan prestasi ajaib yang telah membangun reputasi Klan Langit di Empat Lautan dan Delapan Dataran; sedangkan untuk Yang Mulia Ketiga, mengamati wanita cantik di sekelilingnya satu demi satu, seolah-olah ia adalah orang yang romantis dan tanpa batasan. Tampak seharusnya ia yang paling berkeinginan, tetapi bagi Yang Mulia Ketiga, segala sesuatu di dunia ini adalah kosong. Yang Mulia Ketiga tidak memiliki keinginan apa pun dalam hatinya.

Tian Bu tidak mengerti kata "kekosongan" di masa lalu, tetapi ia pernah menyebut kata "kosong" saat ia mendengar Yang Mulia Ketiga minum teh bersama Di Jun dan menyebutan kata "kekosongan". Mereka berbicara secara mendalam, tetapi ia tidak mengerti, karena Yang Mulia Ketiga bersedia membantunya untuk bertanya tentang Tao dan Buddha, ia merenung sejenak tetapi tidak dapat memahaminya, jadi ia pun bertanya kepada Yang Mulia Ketiga secara pribadi.

Tian Bu teringat bahwa wanita cantik yang menemani Yang Mulia Ketiga saat itu adalah putri bungsu Dewa Yi Shui dan Dewi Hui. Saat itu, beredar kabar di langit bahwa Yang Mulia Ketiga sangat menyayangi Dewi He Hui, karena dewi ini telah bersamanya selama lebih dari empat bulan. Di puncak Gunung Yun yang diselimuti ribuan awan putih di atas Laut Cina Timur, terdapat rusa dan burung bangau yang melolong. Dewi He Hui yang anggun sedang duduk di samping pohon pinus berusia sepuluh ribu tahun, memainkan kecapi dengan ringan dan perlahan, sesekali tatapannya kepada Yang Mulia Ketiga diliputi dengan kasih sayang dan kekaguman.

Yang Mulia Ketiga, yang berdiri di samping sambil memegang kuas untuk melukis Dewi He Hui, tidak menghentikan kuas di tangannya ketika ia mendengarnya bertanya kepadanya, apakah kekosongan itu. Suaranya agak dingin dan ia berkata, "Segala sesuatu di dunia memiliki awalan dan akhirnya, tidak ada yang kekal, dan tidak ada perasaan yang kekal; semuanya tidak kekal, segala sesuatu harus menjadi tidak ada, sesuatu akan muncul dari ketiadaan, dan sesuatu harus menjadi sesuatu, tetapi dalam aliran hidup dan mati ini, tidak ada satu pun yang dapat digenggam dan bisa jadi kekal, dan inilah kekosongan itu."

Ia bingung, memandangi dewi cantik yang tidak jauh dari sana, dan bertanya dengan lembut: "Jadi bagi Yang Mulia Ketiga, apakah saat ini kosong? Bukankah membosankan jika kosong? Apakah Yang Mulia Ketiga menganggap momen ini membosankan?"

Yang Mulia Pangeran Ketiga mencelupkan kuasnya ke dalam tinta dan menjawabnya dengan santai: “Apakah kekosongan itu membosankan?” Ia tersenyum, dan senyuman itu mengandung sedikit kebosanan, tergantung ringan di sudut mulutnya: “Itu tidak membosankan.” Ia berkata: "Kekosongan itu membuatmu merasa sepi." 

Tian Bu selalu mengingat Yang Mulia Ketiga yang mengatakan bahwa "kekosongan membuat orang merasa sepi" hari itu. Apa yang dilihatnya di matanya adalah keindahan langka para dewa, dan kuas yang menunjuk ke keindahan yang langka ini. Lukisan itu penuh dengan spiritualitas, yang setidaknya menunjukkan bahwa saat Yang Mulia Ketiga memandangi kecantikan itu, ia tidak asal-asalan. Tetapi pada saat itu, di ekspresi Yang Mulia Ketiga, ada semacam kebosanan yang tidak layak untuk disebutkan di dunia ini.

Oleh karena itu, Tian Bu merasa agak konyol mendengar segala macam rumor bahwa Yang Mulia Ketiga telah memiliki kekasih karena fakta bahwa Yang Mulia Ketiga adalah seseorang yang melepaskan kultivasinya demi menyelamatkan Chang Yi.

Bukan Chang Yi yang menggerakkan Yang Mulia Ketiga, tetapi ketergila-gilaan Chang Yi yang tidak berubah pada Sang Ji selama lebih dari tujuh ratus tahun.

Tentang "ketidakkekalan dari kekosongan" membuat Yang Mulia Ketiga merasa sepi. Ia belum pernah melihat sesuatu yang "tidak kosong" di dunia ini, dan ketergila-gilaan jangka panjang Chang Yi pada Sang Ji membuatnya merasa bahwa itu mungkin saja menjadi semacam "ketidakkosongan", yang mana membuatnya semakin menghargainya.

Ia mengorbankan setengah dari kultivasinya demi menyelamatkan nyawa Chang Yi, tetapi hanya Chang Yi yang masih hidup yang dapat membuktikan kepadanya bahwa mungkin memang ada sesuatu yang "tidak kosong" di dunia ini.

Jalan keabadian itu panjang dan tandus, dan Yang Mulia Ketiga dapat melihat semua ini. Namun Yang Mulia Ketiga mungkin tidak menyukai jalan keabadian setandus dan sepanjang itu. Itulah sebabnya Yang Mulia Ketiga sendiri terkadang mengatakan bahwa Chang Yi berbeda darinya, dan ia memang berbeda, tetapi perbedaan itu tidak ada hubungannya dengan cinta. 

Semakin terik matahari, kebisingan di jalan pun semakin keras. Inilah dunia manusia.

Tian Bu memandang gadis berwajah cemas di depannya, yang sangat mirip dengan Chang Yi. Saat ini, ekspresi wajahnya bahkan lebih seperti ketika Chang Yi bersembunyi sendirian di tempat terpencil dan merasa sedih karena Sang Ji.

Tetapi sekarang ia tidak bisa lagi mengingat Sang Ji.

Beberapa saat yang lalu, ia bertanya kepada Yang Mulia Ketiga, apa pendapatnya tentang Chang Yi dan apa pendapatnya tentang dirinya. Siapa sangka Chang Yi akan terlahir kembali di dunia fana dan punya perasaan terhadap Yang Mulia Ketiga?

Tian Bu menghela napas lagi.

Bukan hal yang baik bagi Yan Lan untuk memiliki perasaan terhadap Yang Mulia Ketiga.

Di dunia fana memang ada cerita yang penuh dengan pemikiran memikat, mengatakan bahwa para dewa yang mahakuasa datang ke dunia fana demi mencari ribuan hal hanya untuk menemukan cinta sejati yang hilang di kehidupan sebelumnya. Sebuah pertunjukan di panggung yang dapat membuat para gadis muda dan menantu perempuan terharu. Tetapi bagaimanapun juga, itu hanya sebuah cerita. Dewa langit macam apa yang begitu demi cinta, sudah pasti bukanlah dewa air muda dari Empat Lautan dan Delapan Dataran, Yang Mulia Lian San dari Jiu Chong Tian.

- Bersambung -

Tang Qi mengobrol: Yang Mulia Ketiga ternyata seperti ini, kalian terkejut atau tidak?

0 comments:

Posting Komentar