Minggu, 10 Mei 2026

CTF - Chapter 377

Consort of A Thousand Faces

Chapter 377 : Menjilat Bibi Kekaisaran


Sementara Situ Lin diam-diam menyeringai sendiri, ia tiba-tiba mendengar suara yang dingin. "Keluar."

Tertangkap basah, Situ Lin tersentak sadar kembali. Namun, ketika ia melihat roman muka lembut Su Xi-er, ia maju ke depan dan mulai memanggilnya 'Bibi Kekaisaran' dengan sikap seperti anak kecil yang manis.

Sekali lagi, Su Xi-er teringat akan Ning Lian Chen ketika ia masih anak-anak. Ia juga merajuk seperti anak manja selagi ia menggelayutiku dan memanggilku Kakak Perempuan dengan manisnya.

Ekspresinya jadi semakin lembut setelah terpikirkan Ning Lian Chen. Mengira bahwa rencananya bekerja, Situ Lin mengabaikan ekspresi menggelap Pei Qian Hao sementara ia berjalan ke sisi ranjang dan meraih tangan Su Xi-er.

"Bibi Kekaisaran, raut mukamu tidak terlihat baik. Aku terus mengawasi selagi juru masak dari Dapur Kekaisaran menyiapkan semangkuk bubur kacang merah ini. Rasanya manis dan enak."

Su Xi-er tersenyum, suaranya dipenuhi dengan kelembutan. "Memang sangat manis dan enak. Terima kasih banyak, Yang Mulia."

Barulah setelahnya, ia menyadari bahwa ada ekspresi seseorang yang jadi buruk. Tidak mungkin kan, ia cemburu juga pada Situ Lin? Ia masih anak-anak dan tidak mengerti apa-apa.

Melihat raut wajah Su Xi-er yang tersenyum, Situ Lin merasa hatinya diselimuti kehangatan, seolah tubuhnya ikut meleleh bersamanya. Secara tidak sadar, ia menepuk pundak Pei Qian Hao dan berkomentar riang, "Paman Kekaisaran, aku belum pernah melihatmu memperlakukan wanita mana pun seperti ini sebelumnya. Ini pertama kalinya bagiku, melihatmu menyuapi seseorang ...."

Sebelum ia bisa selesai bicara, ia merasa dirinya terangkat dari tanah dengan kerah bajunya.

Tatapan memohon pun muncul di matanya. "Paman Kekaisaran, tolong turunkan aku."

Masih dengan tangan kirinya yang memegangi sup kacang merah, ia menyatakan, "Pangeran ini akan melemparkanmu keluar." Ia bersiap menuju ke arah pintu.

Situ Lin tak henti-hentinya melemparkan tatapan memohon pada Su Xi-er. "Bibi Kekaisaran, selamatkan aku!"

"Turunkan dia. Apa Anda sudah lupa bahwa Anda tidak boleh membuat pergerakan yang besar dengan luka Anda?" Suara Su Xi-er mengandung jejak ketegasan, seperti seorang istri yang mengendalikan suaminya.

Menyadari ketidaksenangannya, Pei Qian Hao melihat bibir cemberut Situ Lin sekali lagi sebelum mengelonggarkan cengkeramannya.

"Yang Mulia, Anda adalah Kaisar Bei Min. Cemberut itu tidak pantas." Pei Qian Hao kembali ke posisinya di pinggir ranjang dan lanjut menyuapi Su Xi-er sup kacang merahnya.

Ekspresi Situ Lin langsung kembali normal. "Aku tidak tahan untuk cemberut ketika aku melihat kecantikan Bibi Kekaisaran." Ia mencari sebuah alasan dengan santainya. Aku tidak akan salah jika aku berpihak pada Bibi Kekaisaran!

Pei Qian Hao menoleh untuk meliriknya. "Jika Anda terlalu banyak bicara lagi, aku akan melempar Anda keluar."

Situ Lin langsung menutup mulutnya dan memberikan Su Xi-er tampang yang menjilat. Ketika Su Xi-er melihat penampilan menggemaskannya, senyuman pun menyala di wajahnya.

Tiba-tiba saja, Pei Qian Hao menyadari bahwa ini bisa jadi hal yang bagus. Barangkali, Yang Mulia bisa membuat Su Xi-er senang sementara ia masih merasa lemah.

Tentu saja, tidak satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa sikap Situ Lin saat ini mengingatkan Su Xi-er akan masa kanak-kanak Ning Lian Chen yang tanpa beban. Aku bertanya-tanya, bagaimana kabar Lian Chen. Ia mungkin sudah menerima suratnya, kan? Apakah ia sedang bersiap bergegas ke Bei Min?

Setelah memikirkan ini, Su Xi-er bertanya, "Pangeran Hao, kapan undangan pernikahannya akan dikirimkan ke berbagai kerajaan?"

Pei Qian Hao merasa sangat senang ketika ia melihat Su Xi-er masih memedulikan tentang pernikahan itu, meski sedang terluka. "Besok. Dan kita akan mengadakan pesta pernikahannya dalam tujuh hari."

Situ Lin bertepuk tangan dan bersorak. "Bagus, aku paling suka menyaksikan pesta pernikahan! Mereka sangat meriah!"

"Yang Mulia, seorang Kaisar harus menjaga sikap yang pantas. Anda tidak boleh memakai emosi Anda di lengan baju Anda." Pei Qian Hao memberinya tatapan yang keras, memaksa Situ Lin untuk menutup mulutnya lagi.

(T/N : sebuah idiom, yang berarti, jangan menampilkan emosi secara gamblang di wajah.)

Su Xi-er menyela, "Walaupun beliau adalah Kaisar, beliau juga masih anak-anak; Anda tidak boleh terlalu ketat. Saat waktunya tiba, Yang Mulia secara alami akan mengetahui kapan harus memiliki sopan-santun."

Apa yang diucapkan Su Xi-er, sesuai sekali dengan selera Situ Lin, membuatnya merasa bahwa Su Xi-er benar-benar menyenangkan. Aku harus memperlakukan Bibi Kekaisaran dengan sangat baik di masa depan! Dengan adanya Bibi Kekaisaran, aku tidak perlu takut lagi pada Paman Kekaisaran!

Tidak menyadari trik licik kecil Situ Lin, Pei Qian Hao tak lagi menegurnya, dan sebaliknya, lanjut menyuapi Su Xi-er.

Sekitar setengah mangkuk, Su Xi-er menghentikannya. "Masih ada satu mangkuk di sana. Pergi dan minumlah."

Situ Lin memotong. "Paman Kekaisaran berkata bahwa seorang pria yang tangguh tidak semestinya meminum apa yang dimaksudkan untuk wanita, dan sup Jamur Putih Polong Teratai itu untuk wanita."

Su Xi-er menatap Pei Qian Hao. "Darimana asalnya teori aneh Anda itu? Pergi dan minumlah itu untuk menutrisi tubuh Anda."

Situ Lin tidak tahan untuk membelalakkan matanya. Bibi Kekaisaran hebat sekali! Ia langsung menembak Paman Kekaisaran!

Pei Qian Hao mengerti bahwa Su Xi-er mencemaskan tentang kondisinya. Meskipun aku menolak, ia tetap akan terpikirkan cara lainnya untuk membuatku meminumnya dengan kepribadiannya yang keras kepala.

Karenanya, ia berjalan ke meja dan mengambil mangkuk sup itu sebelum mulai meminumnya.

Ketidakpercayaan tertulis di wajah Situ Lin. Paman Kekaisaran meminumnya! Ia pernah mengatakan padaku dengan sangat serius bahwa pria tidak boleh meminum apa yang dimaksudkan untuk wanita, tetapi ia meminum sup Jamur Putih Polong Teratai begitu saja!

Situ Lin menjadi sedikit sombong ketika akhirnya ia kembali tersadar.

Namun, tepat sewaktu ia begitu, Pei Qian Hao menarik kerahnya dan melemparkannya keluar dari aula, menutup pintu bahkan sebelum ia punya kesempatan untuk meminta tolong.

Situ Lin yang malang pun hanya bisa berkedip polos selagi ia mencoba mendorong pintu yang tertutup itu.

Setelah menghela napas sejenak, Situ Lin pergi, ekspresi nakalnya langsung digantikan dengan ekspresi yang khidmat. Di depan orang luar, aku harus menampilkan sikap seorang Kaisar sepenuhnya!

***

Di dalam ruangan, Su Xi-er memerhatikan Pei Qian Hao berjalan mendekat. "Anda terlalu keras terhadap Yang Mulia."

"Itu demi kebaikannya sendiri. Biarpun ia masih anak-anak, ia hanya lebih muda beberapa tahun dari Kaisar Nan Zhao. Jika ia tidak dengan cepat menjadi arif, masa depan Bei Min akan tertinggal di belakang Nan Zhao."

Sekali lagi, Su Xi-er teringat akan Ning Lian Chen. Apabila Nan Zhao damai, dan aku masih ada, mungkin Lian Chen akan menjadi lebih nakal daripada Situ Lin.

"Ada apa?" Menyadari kalau Su Xi-er tidak bersemangat, Pei Qian Hao duduk di tepi ranjang dan membelai rambutnya.

"Aku baik-baik saja. Siapa yang melukai Anda?"

Tatapan Pei Qian Hao menjadi lebih dalam. "Hanya sepintas lihat, jadi aku tidak berhasil menangkap penampilan penuh mereka. Namun, mereka sangat ahli dalam Panah Penembus Jantung, dan satu-satunya orang yang terkenal akan teknik itu adalah Pangeran Yun dari Nan Zhao."

Pei Qian Hao menjeda sebelum melanjutkan, "Dikatakan demikian, mustahil bagi Pangeran Yun untuk berada di dalam istana kekaisaran Bei Min, berarti itu pasti orang lain." Selain itu, orang itu bersembunyi di Istana Kedamaian Penuh Kasih. Terlepas dari seberapa bodohnya Pei Ya Ran, ia seharusnya masih bisa mengetahui bahwa seseorang sedang bersembunyi di istananya.

Walaupun ia tidak jelas akan jati diri orang itu, Pei Qian Hao masih bisa membuat dugaan cerdas berdasarkan informasi yang dimilikinya.

"Anda harus lebih berhati-hati di masa yang akan datang." Su Xi-er menatapnya. Semua orang menentangnya menikahiku, dan itu membuat keadaannya menjadi lebih berbahaya.

"Shu Xian tidak mati, tetapi ia menghilang dari istana kekaisaran."

Kenangan akan Chao Mu memasuki benak Su Xi-er. Gadis dengan senyuman yang cerah sudah tiada.

Tepat saat ini, seorang pengawal melaporkan dengan hormat, "Pangeran Hao, Guru Agung Kong meminta untuk bertemu."

Sudah selarut ini; mengapa Guru Agung Kong datang ke Istana Naga Langit?

Pei Qian Hao menepuk pundak Su Xi-er. "Dayang istana akan segera mengantarkan celana yang bersih untukmu." Kemudian, ia bangkit berdiri dan menuju ke luar.

Memerhatikan sosoknya yang menjauh, Su Xi-er bertanya-tanya, apa alasan Guru Agung Kong datang tiba-tiba. Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan Perpustakaan Kekaisaran?

0 comments:

Posting Komentar