Sabtu, 26 Desember 2020
Kamis, 24 Desember 2020
CTF - Chapter 58
Consort of A Thousand Faces
Chapter 58 : Jika Seseorang Tidak Mencari Masalah, Maka Ia Tidak Akan Mati
Rabu, 23 Desember 2020
Rabu, 09 Desember 2020
Selasa, 08 Desember 2020
CTF - Chapter 38
Consort of A Thousand Faces
Chapter 38 : Siapa yang Menggantung Lonceng Di Leher Harimau Harus Melepaskannya
Sabtu, 05 Desember 2020
Selasa, 01 Desember 2020
Senin, 30 November 2020
Minggu, 29 November 2020
Sabtu, 21 November 2020
CTF - Chapter 18
Consort of A Thousand Faces
Chapter 18 : Menyuruhmu Agar Tidak Menjalin Koneksi Dengan Tokoh Berkuasa
CTF - Chapter 12
Consort of A Thousand Faces
Chapter 12 : Serahkan
Panah
Penembus Jantung. Aku tidak menyangka, orang selain Yun Ruo Feng akan
mengetahui gerakan ini. Ia belum lama terlahir kembali, sebelum diingatkan lagi akan kekuatan
luar biasa dan tak berperasaan dari Panah Penembus Jantung.
Suara
Pei Qian Hao dingin dan kuat. "Karena kau sudah ada di sini, kenapa tidak
menunjukkan dirimu? Ia hanya seorang dayang dari Istana Samping, tetapi ia
sampai membuatmu mengeluarkan Panah Penembus Jantung?"
Su
Xi-er mengepalkan tangannya selama beberapa saat sebelum menenangkan
diri. Jika Mu Tao tidak mengucapkan kalimat itu, apakah ia masih hidup?
Ini berarti, orang itu sebenarnya ingin membunuh dayang yang berada di hutan
sebelah Istana Samping dan terkait dengan Pangeran Hao!
Mu
Tao menjadi kambing hitamnya ...
"Su
Xi-er, apa kau masih baik-baik saja?" Ketika ia melihat keningnya dibasahi
oleh keringat dingin, Pei Qian Hao mengerutkan alisnya.
"Siapa
yang membunuh Mu Tao?" Suara Su Xi-er benar-benar bergetar saat ini. Kali
ini, ia tidak berpura-pura.
"Aku
tidak tahu."
Su
Xi-er kaget. "Mu Tao mati karena kalimat itu."
"Su
Xi-er ..." Pei Qian Hao mendadak menurunkan volume suaranya. Kemudian, ia
melanjutkan, "Apakah orang yang ada di hutan adalah dirimu?"
"Hamba
hanya ingin menjalani seumur hidup hamba dengan aman dan selamat. Aku tidak akan
terlalu banyak memikirkan hal lainnya. Selain itu, dengan figur seperti hamba,
sudah pasti tidak akan sanggup menyerang Anda." Su Xi-er menundukkan
kepalanya dan tampak merasa sangat diperlakukan tidak adil.
"Benarkah?"
Pei Qian Hao menaikkan intonasinya saat ia menjawab, wajahnya penuh pertanyaan.
Su
Xi-er menggertakkan giginya. Kalau aku mengakuinya, orang yang
bersembunyi di kegelapan akan membunuhku dengan sebuah panah.
Masih
ada begitu banyak hal yang belum kucapai. Aku tidak tahu bagaimana keadaan
Istana Kekaisaran Nan Zhao juga Lian Chen sekarang. Aku tidak boleh mati!
"Pangeran
Hao, hamba hanya ingin terus hidup dengan hidupku ini." Ia menengadahkan
kepalanya. Pinggiran matanya penuh dengan air mata, ia tampak sangat
menyedihkan.
Penampilan
ini mampu menarik hati sanubari pria mana pun.
"Sesorang
akan mengirimkan makan malam untukmu nanti." Pei Qian Hao mengirimnya
masuk ke dalam kamar.
Sementara
untuk orang yang bersembunyi di kegelapan, sudah pasti ia akan mengurusnya.
Su
Xi-er duduk saat pintu kamarnya tertutup, kesunyian yang memekakkan telinga
sebagai satu-satunya latar dalam pikirannya. Meskipun intuisinya mengatakan
bahwa ia sudah berada dalam masalah besar, ia bahkan tidak mengetahui siapa
yang menyerangnya.
Terhenti
di sini, ia tidak bisa menahan diri selain menjadi kesal. Jika aku
tidak berjalan ke tempat yang salah semalam, aku tidak akan tanpa sengaja
bertemu Pangeran Hao, dan aku tidak akan terkena banyak masalah merepotkan
sekarang.
Sialan
Pangeran Hao, kenapa kau pergi ke hutan di sebelah Istana Samping tanpa alasan!
Kerchak! Pintunya
terbuka dan seorang dayang masuk membawakan makan malam. Matanya dipenuhi
kebencian saat ia bergumam tanpa henti, "Masih menyuruhku untuk melayani
seseorang yang sudah mau mati."
Su
Xi-er memperhatikan dayang itu meletakkan makan malamnya dan sengaja bertanya,
"Siapa yang akan mati?"
Dayang
itu mendengus dingin. "Tentu saja kau. Dayang lainnya yang datang
bersamamu baru saja dibuang mayatnya. Kau pun akan segera mengikutinya.
Orang-orang yang datang kemari tidak berumur panjang."
"Bisakah
kau memberitahuku, tempat apa ini?" Istana ini sangat dekat dengan Istana
Dingin. Meskipun sekarang ini bobrok, ia bisa menduga dari desain interiornya
kalau pemilik sebelumnya pastilah memiliki status tertentu.
"Setelah
Permaisuri terdahulu dimakzulkan, ia tinggal di sini. Setelah itu ..."
Suara dayang itu tanpa sadar menjadi ketakutan. "Ia bunuh diri dengan
menggantung dirinya dari sebatang tiang langit-langit. Saat langit menjadi
gelap, kau mungkin bahkan bisa melihat hantu Permaisuri terdahulu." Dayang
itu tertawa kering sebelum ia berbalik dan pergi.
Tempat
di mana Permaisuri terdahulu, istri pertama Kaisar Shin Min, tinggal setelah dimakzulkan
... mengurungnya di sini benar-benar "sangat lancang". Mungkin jika
aku mengutarakannya dengan cara lain, Pangeran Hao-lah yang memiliki kekuasaan
luar biasa.
Ia
memilah-milah pikirannya dan menuliskan dua kata di atas meja dengan
jarinya—'Pei' dan 'Xie'.
Saat
ini, Bei Min dikendalikan baik oleh Keluarga Pei dan Keluarga Xie. Kepala
Keluarga Pei adalah Pangeran Hao dan Ibu Suri, sementara Commandery
Prince Xie adalah perwakilan Keluarga Xie.
Berapa
banyak pangeran kekaisaran yang ada di Bei Min? Jangan bilang padaku kalau
pangeran-pangeran kekaisaran ini mengabaikan saja ketika kekuasaan kekaisaran
dirampas?
Alis
Su Xi-er bertautan. Tangannya perlahan-lahan mengetuk bagian atas meja.
"Sebenarnya,
kau adalah seorang gadis yang cantik. Sayang sekali karena kau akan segera
mati." Suara dalam, rendah, dan seram seorang pria tiba-tiba saja
terdengar.
Su
Xi-er berhenti mengetuk mejanya saat matanya menyipit. Ia tidak mendengarkan
satu pun suara, ataupun melihat orangnya.
"Temanmu
baru saja mati, dan segera, kau yang berikutnya. Karena aku merasa kau cantik, aku
akan mengizinkanmu untuk memilih cara matinya." Tepat setelah kata-kata
ini diutarakan, seorang pria yang sepenuhnya dikaburkan oleh penutup kepala dan
jubah hitam pun memasuki ruangan.
Su
Xi-er berdiri dan menjawab tenang, "Kau akan menyetujui apa pun cara
kematian yang kupilih? Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?"
"Tentu
saja."
"Baiklah,
kalau begitu. Aku memilih untuk mati karena usia tua."
Pria
berjubah hitam itu tercengang selama beberapa waktu. Setelahnya, ia tertawa
terbahak-bahak. "Kau ... wanita ini. Bukan hanya kau cantik, tetapi kau
juga menarik. Aku selalu sungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan, tetapi kau
tidak bisa menyalahkanku karena kau tidak memainkan kartumu dengan cara biasa
dan membuat sebuah pilihan yang benar."
Ia
mengangkat tangannya dan sebuah serpihan kayu bakar yang tajam diarahkan ke
hatinya.
Su
Xi-er mengelak lincah. "Kau bisa menggunakan Panah Penembus Jantung."
"Cantik,
kau memang berpengalaman dan berpengetahuan. Teknik panahanku bahkan jauh lebih
hebat daripada Yun Ruo Feng dari Nan Zhao."
Akan
tetapi, perempuan ini benar-benar mengelak darinya!
"Kau
ingin membunuhku, sudah pasti karena ada seseorang yang menyuruhmu. Siapa? Aku
tidak ingin mati tanpa mengetahui alasan jelasnya."
Ia
mengatakan ini sepenuhnya dengan tujuan untuk mengulur waktu. Aku harus
tetap hidup!
"Kau
merusak pemandangan. Alasan ini cukup." Pria itu lalu berteriak dan
menerkamnya dengan tangan yang mengarah untuk mencengkeram lehernya dengan kuat
dalam satu gerakan.
Su
Xi-er beruntung karena berhasil merasakan sebuah tusuk rambut di laci dari meja
panjang tersebut, dan baru saja akan menggunakan senjata pembunuhnya saat ia
mendengar jeritan pedih pria itu.
Ketika
ia menatapnya lagi, ia melihat pundak pria itu terluka, pria lainnya,
mengenakan jubah putih berdiri di belakangnya.
Pria
itu berdiri di bawah sinar bulan dengan rambutnya yang dibiarkan terurai.
Rambutnya yang tak terikat sikapnya yang tenang menyatu, memberinya aura
seorang bangsawan.
"Hehe,
jadi kau." Suara pria yang berpakaian hitam itu dalam dan rendah. Ia
melirik Su Xi-er sesaat sebelum segera menghilang, dalamnya kemampuan pria itu
masih tidak diketahui.
Selagi
Su Xi-er memandangi pria yang berjalan ke arahnya, ekspresinya agak
termangu. Auranya sangat mirip dengan Yun Ruo Feng.
Hanya
saja, pria ini tidak segagah Yun Ruo Feng.
"Serahkan."
Pria yang berdiri di hadapannya berkata acuh tak acuh.
Serahkan? Kebingungan
tertulis di wajah Su Xi-er.
"Tusuk
rambut yang ada di tanganmu."
"Ini
milikmu?" Tepat setelah ia mengajukan pertanyaan itu, Su Xi-er menyadari
kalau ia sudah mengatakan sesuatu yang salah.
Ini adalah tempat dimana Permaisuri terdahulu tinggal. Menemukan tusuk rambut ini di laci, bagaimana bisa benda ini milik orang ini? Apakah ia mempunyai hubungan dengan Permaisuri terdahulu?
CTF - Chapter 11
Consort of A Thousand Faces
Chapter 11 : Panah Penembus Jantung Lagi
Su Xi-er mengenakan senyuman di wajahnya, membawa mangkuk sup
ke bibirnya saat diam-diam pandangannya tertuju ke arah wajah Dayang Senior
Zhao. Pasti ada yang tidak beres dengan semangkuk sup ayam ini. Dayang
Senior Zhao biasanya tidak banyak menunjukkan ekspresi.
"Lihatlah dirimu. Tubuhmu lemah. Dayang di Istana Samping harus
lebih kuat. Hanya dengan begitu, mereka dapat mengerjakan pekerjaan kasar. Kau
tidak boleh memberitahukan soal dirimu meminum semangkuk sup ayam ini. Jika
dayang lainnya tahu, mereka akan mencemoohku karena tidak adil." Walaupun
nada Dayang Senior Zhao tenang, matanya sungguh terpaku pada mulut Su Xi-er
yang agak terbuka.
Tadinya, ia berencana untuk membuat jalan keluar bagi Su Xi-er,
sembari menikmati pertunjukan. Akan tetapi, He Ying, kesukaan Ibu Suri,
sudah menyinggung lebih dari sekali, orang ini tidak bisa dibiarkan. Ide He
Ying merupakan ide Ibu Suri.
Aw, Su Xi-er, jangan menyalahkanku. Kau hanya bisa menyalahkan
dirimu sendiri karena wanita cantik mengalami nasib yang tragis. Terdapat
banyak masalah ketika kau berwajah cantik.
"Dayang Senior Zhao, Anda begitu baik padaku. Bagaimana mungkin
aku menikmati semangkuk sup ayam ini sendirian? Bagaimana kalau Anda juga
meminumnya sedikit?" Su Xi-er meletakkan mangkuk putih itu di hadapan
Dayang Senior Zhao.
Ia sudah membauinya saksama, dan mengenali aroma campuran
obat-obatan di dalam sup ayamnya. Aromanya bukanlah sup ayam obat, tetapi dari
tanaman obat spesial yang ditambahkan. Kalau aku tidak salah, tanaman
obat ini adalah Rumput Patah Hati.
(T/N: Tanaman beracun yang dapat ditemukan di Tiongkok.)
Seseorang tidak akan menyadari efek apa pun selama dua hari setelah
mengkonsumsinya. Meskipun begitu, di hari ketiga, orang itu bisa mendadak mati,
terlebih lagi, mati dengan cara yang mengerikan.
Sewaktu membunuh seseorang, akan lebih baik membiarkan orang itu
dengan mayat yang utuh, tetapi metode ini menyebabkan seseorang mati dengan
cara yang sangat menyakitkan. Tampaknya, orang yang berada di balik Dayang
Senior Zhao benar-benar bengis.
"Ini sengaja direbuskan untuk kau minum. Jika kau tidak
meminumnya, itu akan menandakan kalau kau tidak memberiku muka." Dayang
Senior Zhao memberinya ekspresi kotor dan menggebrak mejanya. Nada bicaranya
jadi tegas.
"Dayang Senior, jangan marah. Aku akan meminumnya
sekarang." Kilatan halus berkedip di matanya. Ada begitu banyak
percobaan pembunuhan di kehidupanku sebelumnya sebagai Ning Ru Lan. Aku punya
caraku sendiri untuk mengatasi Rumput Patah Hati yang remeh ini.
Setelah melihat Su Xi-er mengangkat kepalanya untuk meminum seteguk
penuh sup ayamnya, Dayang Senior Zhao menjadi lega. Tidak masalah,
selama ia sudah meminumnya. Selama ia meminum seteguk penuh, sudah cukup untuk
mengambil nyawanya!
"Hamba memberi hormat pada Pengawal Kekaisaran Wu. Anda di sini
untuk ..." Suara resah seorang dayang dapat terdengar. Segera setelah itu,
pintu kamar Su Xi-er didorong terbuka, memperlihatkan Wu Ling berdiri di luar
sana dengan roman wajah yang tegas.
"Su Xi-er, ikut bersama pengawal kekaisaran ini."
Nadanya tenang tetapi hati Dayang Senior Zhao gemetaran. Mengapa
Pengawal Kekaisaran Wu kemari lagi? Bukankah Ibu Suri memerintahkan agar urusan
ini tidak diselidiki lagi?
Seulas senyuman melintas di mata Su Xi-er. Pengawal
Kekaisaran Wu tiba tepat waktu!
"Dayang Senior ..." Su Xi-er berpura-pura kebingungan,
mangkuk putihnya bergetar bersamaan dengan tangannya. Kemudian, mangkuk itu
terjatuh ke atas lantai dan sup ayamnya berceceran di seluruh lantai.
Saat Wu Ling melihat sup ayam di lantai, tatapan di matanya tanpa
sadar jadi mendalam.
"Su Xi-er, ada apa denganmu? Kau tidak sopan di hadapan
Pengawal Kekaisaran Wu. Cepat pergi keluar!" Dayang Senior Zhao takut
kalau Wu Ling akan menemukan sesuatu dan mendorong Su Xi-er keluar dengan kedua
tangannya.
Sebenarnya, Su Xi-er tidak meminum seteguk pun sup ayam itu. Ia
hanya membuat gerakan menelan saat bibirnya bergerak mendekat ke sup ayamnya.
Su Xi-er menatap Wu Ling dan tampak tidak sehat, suaranya bergetar.
"Pengawal Kekaisaran Wu, hamba tiba-tiba saja merasa tubuhku tidak nyaman.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa pusing, dan napasku tidak
lancar." Di saat bersamaan, ia menekankan tangannya ke dadanya.
Dayang Zhao panik. Efek Rumput Patah Hati tidak akan
bereaksi secepat ini! Apa yang sebenarnya terjadi? Jika Su Xi-er pingsan
sekarang juga, aku tidak akan bisa membebaskan diriku dari tanggung jawab!
Meskipun kematian seorang dayang di istana adalah hal yang tidak
penting, apabila penyelidikan membuktikan kalau aku diam-diam menyebabkan
kematian seseorang tanpa alasan yang pantas, aku akan menderita akibatnya juga!
Terlebih lagi, mungkin Su Xi-er adalah wanita yang menggoda Pangeran Hao
semalam!
Wu Ling melirik Su Xi-er sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia
berjongkok, meraih mangkuk putihnya dan membawanya tepat di depan hidungnya.
Dayang Senior Zhao mengepalkan tangannya erat-erat dengan
gugup. Bawahan Pangeran Hao semuanya berkemampuan tinggi. Wu Ling
adalah pengawal pribadinya dan lebih kuat lagi. Ia pasti akan menyadari kalau
ada yang tidak beres dengan sup ayamnya!
"Dayang Senior Zhao, sup ayam ini ..."
Dayang Senior Zhao menyesuaikan pikirannya dan mengubahnya menjadi ekspresi keraguan. "Pengawal Kekaisaran Wu, apakah ada yang salah dengan
sup ayamnya? Itu tidak mungkin. Aku sendiri yang merebusnya."
Berdiri di luar pintu, Su Xi-er mengambil saat yang tepat. "Sup
ayam yang direbuskan sendiri oleh Dayang Senior Zhao tidak akan ada masalah
apa pun. Tubuhku saja yang lemah. Sup ayamnya terlalu bernutrisi dan tubuhku
tidak mampu menahan tonik yang luar biasa ini. Aku akan baik-baik saja sebentar
lagi."
Ada nada tambahan yang jelas dalam perkataannya. Sementara tidak ada
kesalahan yang dapat ditemukan di permukaan, pernyataan Su Xi-er sebenarnya
diam-diam mengejek Dayang Senior Zhao.
Wu Ling berbalik ke arah Dayang Senior Zhao, nada suaranya keras.
"Dayang Senior Zhao, aku tidak peduli kau menerima perintah dari siapa, tetapi
kau tidak boleh menyentuh dayang ini sekarang. Jika kau ragu, silakan pergi dan
tanyakan pada Pangeran Hao."
Dayang Senior Zhao tersentak. Di satu sisi, Ibu Suri, dan sisi
lainnya adalah Pangeran Hao. Orang cerdas tahu dimana mereka harus
berdiri. Aku benar-benar tidak bisa menyentuh Su Xi-er sekarang.
"Su Xi-er, ikut bersama pengawal kekaisaran ini." Wu Ling
berjalan ke depan.
***
Dalam satu jam, masalah mengenai Su Xi-er dibawa pergi oleh Wu Ling
sudah menyebar di seluruh Istana Samping. Meskipun Mu Tao juga dibawa pergi
dengannya, perhatian mereka terhadap Su Xi-er jauh lebih besar.
Di sebuah istana terpencil di sudut barat laut istana kekaisaran, Su
Xi-er dan Mu Tao tinggal di ruangan terpisah.
Angin di luar ruangan menjadi lebih kencang dan melolong saat meniup
pintu dan jendelanya, menghasilkan suara gemerincing.
Pencahayaan di sekitar sangat redup. Selagi Su Xi-er melihat
sekeliling dan dengan hati-hati mengamati keadaan sekitarnya, ia kagetkan oleh
suara seorang pria yang tiba-tiba saja terdengar entah darimana.
"Wanita, kemarilah."
Suaranya dalam dan rendah, dipenuhi dengan kekuatan meneror.
Wajah Su Xi-er menggelap. Ia mampu mengetahui dari suaranya, itu
adalah Pangeran Hao!
Akan tetapi, ia tahu, sudah pasti ia tidak boleh membiarkannya tahu
kalau ia mengenali Pangeran Hao.
Su Xi-er sengaja memperlihatkan ekspresi ketakutan. "Siapa ...
siapa kau?"
Pei Qian Hao terkekeh. "Kemarilah."
Tidak ada pilihan. Aku harus berpura-pura menjadi seorang dayang
yang lemah dan malu-malu sekarang.
Oleh karenanya, ia berjalan menuju Pangeran Hao selagi tubuhnya
bergetar.
Meski begitu, sebelum ia berhasil berada sangat dekat dengannya,
lengan panjang tiba-tiba saja meraih dan memeluk pinggangnya.
"Kau ... Tidak pantas bagi pria dan wanita untuk melakukan
kontak fisik." Su Xi-er mengutuknya lusinan kali di hatinya tetapi masih
berpura-pura memasang penampilan ketakutan.
Pei Qian Hao menundukkan kepalanya, napasnya memercik di ujung
hidungnya. "Kau ada di hutan di sebelah Istana Samping semalam."
Nada bicaranya penuh keyakinan dan mendominasi.
"Jangan memfitnah hamba. Hamba bukanlah orang yang menyinggung
Pangeran Hao. Siapa sebenarnya dirimu?" Su Xi-er menahan dirinya mencoba
mendorong pria itu menjauh dan sebaliknya, sengaja membuat tubuhnya bergetar.
"Bagaimana kalau kau mengikuti pangeran ini ke Istana
Kecantikan?"
Su Xi-er sengaja melebarkan matanya. "Kau ... kau adalah
Pangeran Hao?"
"Bukankah luar biasa bagimu bisa melayani pangeran ini bersama
dengan saudari baikmu?" Pei Qian Hao terkekeh rendah dan memeluk pinggangnya
erat.
"Hamba tidak menyinggung Anda. Aku tidak ingin pergi ke Istana
Kecantikan dan tidak ingin bertemu He Xiang Yu."
"'Aku tidak ingin' yang luar biasa." Kilatan berbahaya
muncul di mata Pei Qian Hao. Ia hanya memancingnya saja barusan.
Wanita ini begitu ketakutan, semantara wanita di hutan sangat
pemberani.
Kedua orang ini tidak mirip di aspek ini.
"Pangeran Hao, ada suara seorang wanita yang menangis dari luar
sana." Su Xi-er sengaja mengubah topiknya.
Pangeran Hao mendengarkan dengan saksama. Memang ada suara
seorang wanita menangis.
"Istana Dingin tidak jauh dari sini. Kau akan mendengarkan
suara wanita-wanita menangis di malam hari." Pangeran Hao menjelaskan
perlahan dan mengamati Su Xi-er.
Di setiap kerajaan, sudut barat laut istana merupakan tempat yang paling
muram dan suram; alasannya adalah karena Istana Dingin selalu terletak di sana.
"Yang terkurung di sana adalah para selir dari Kaisar Shin Min.
Banyak Selir Kekaisaran mati di sana tanpa kejelasan maupun alasan. Di malam
hari, akan ada ..." Ia berhenti dan menatapnya. Su Xi-er memejamkan
matanya ketakutan.
Su Xi-er mengetahui Kaisar Shin Min adalah Kaisar Bei Min
sebelumnya.
Kaisar ini terampil memerintah kerajaan, satu-satunya kelemahannya
adalah ia mempercayai hal-hal gaib. Ia merasa ada Teknik Mempertahankan
Keawetmudaan, agar ia dapat mempertahankan masa mudanya selamanya dan tidak
pernah menua ataupun mati.
Anginnya jadi lebih kencang. Pada akhirnya, meniup pintunya terbuka.
Tidak lagi ada suara wanita menangis, tetapi malahan suara Mu Tao.
"Aku. Akulah yang berada di hutan sebelah Istana Samping
semalam!"
Ia baru saja menyelesaikan pernyataannya ketika sebuah anak panah cepat
dan ganas melayang dan langsung menembus jantung Mu Tao.
Pei Qian Hao mengernyitkan alisnya dan melepaskan Su Xi-er. Ia
berjalan keluar ruangan dan tiba di halaman.
Apa yang sebenarnya terjadi di ruangan lainnya? Mengapa Mu Tao
tiba-tiba saja berlari keluar dan menyatakan kalau ialah wanita yang ada di
dalam hutan sebelah Istana Samping semalam?
Su Xi-er berjalan keluar dari ruangan. Saat pandangannya mendarat di
wajah Mu Tao, tubuhnya tanpa sadar menegang saat ia menatap kosong ke luka
panahnya. Panah tajam itu menembus tepat di jantung Mu Tao.
Menembak dengan presisi yang luar biasa. Panah Penembus Jantung ... Berbagai adegan menyerbu pikirannya. Lautan api yang menyala dan Panah Penembus Jantung!
Chapter 10 | TOC | Chapter 12
CTF - Chapter 10
Consort of A Thousand Faces
Chapter 10 : Hubungan yang Abnormal
Di dalam Istana Kedamaian Penuh Kasih, seorang wanita dengan gaun merah muda elegan berbaring di atas kursi malas. Penampilannya halus dan cantik, kulit sehalus porselennya, ditambah dengan sepasang mata cerah di bawah alis melengkung berbentuk daun dedalunya. Tangan kanannya melambaikan sebuah kipas tangan bundar kecil maju dan mundur dengan ringan.
![]() |
| Contoh alis daun dedalu. |
![]() |
| Kipas tangan bundar kecil. |
"Ibu Suri, Pengawal Kekaisaran Wu sudah tiba."
"Suruh ia masuk," suara samar menyelinap keluar dari
bibir wanita itu. Ia masih mengibaskan kipas bundar itu di tangannya.
Siapa yang akan menyangka, kalau wanita yang tampak polos ini
sudah mencapai posisi setinggi Ibu Suri.
"Hamba memberi hormat pada Ibu Suri. Bolehkah aku tahu untuk
urusan apa aku dipanggil kemari?"
Wu Ling membungkuk dan menyapanya. Meskipun ia bersikap sopan,
dapat terdengar dari perkataannya kalau ia bukanlah bawahan Ibu Suri, dan ia
tidak perlu menerima perintah darinya.
"Lancang! Berani sekali kau berbicara pada Ibu Suri seperti
ini!" He Ying melotot. Kilatan cerah melintas di matanya saat ia memelotot
setajam belati ke arah Wu Ling.
"Xiao He, minggirlah. Pengawal Kekaisaran Wu, Ibu Suri
ini tentu saja memanggilmu kemari karena ada yang ingin kutanyakan."
(T/N : Nama panggilan akrab untuk He Ying.)
Pei Ya Ran berdiri dari kursi malasnya dan mengayunkan kipas
bundarnya saat ia berjalan ke arah Wu Ling.
"Pengawal Kekaisaran Wu, dimana kau menemukan Pangeran Hao
pagi ini?" Ia berbicara sembari tersenyum dengan nada bertanya.
"Hutan di sebelah Istana Samping."
Beberapa kata sederhana ini menyebabkan Pei Ya Ran mengerutkan
alisnya. Ia pun berhenti mengayunkan kipasnya.
"Tidak diduga, suasana hatinya begitu bagus dan berlari ke
sana."
Pei Ya Ran terkekeh. Ekspresinya kaku selama beberapa detik
sebelum kembali normal.
"Ibu Suri, jika Anda punya pertanyaan, silakan tanyakan
langsung. Hamba masih ada urusan untuk ditangani."
Pei Ya Ran mencibir, suaranya nyaring. "Menangkap seorang
wanita disebut dengan menangani urusan? Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi
mengungkit urusan ini. Menciptakan keributan hanya untuk seorang wanita
benar-benar sebuah lelucon!"
"Ibu Suri, masalah ini diinstruksikan oleh Pangeran Hao.
Apabila Anda tidak puas, Anda dapat memberitahu Pangeran Hao." Wu Ling
tidak congkak maupun merendahkan diri, dan memasang ekspresi yang tegas. Inilah
penampilan yang benar-benar membuat Pei Ya Ran geram.
"Kau!" Ia mengangkat tangannya. Wajahnya penuh
kegusaran. "Baiklah, Ibu Suri ini akan memberitahu Pangeran Hao. Xiao He,
pergi dengan Ibu Suri ini ke Istana Kecantikan."
"Ibu Suri!" He Ying resah. 72 selir Pangeran Hao
tinggal di Istana Kecantikan. Bagaimana bisa Ibu Suri pergi ke tempat semacam
itu?
"Pangeran Hao tidak berada di Istana Kecantikan."
Perkataan Wu Ling melegakan hati He Ying.
Pei Ya Ran melemparkan kipas bundar itu dengan keras ke tanah.
"Dimana dia?"
Ia sudah mencemaskannya saat Pangeran Hao minum-minum kemarin,
segera memerintahkan orang untuk mencarinya segera setelah ia menghilang.
Mereka mencari sepanjang malam tetapi tidak ada hasilnya. Pagi-pagi sekali hari
ini, ia menerima kabar bahwa Pangeran Hao pingsan di hutan di sebelah Istana
Samping semalam, bahkan sampai menginstruksikan Wu Ling untuk menemukan wanita
yang ditemuinya di dekat Istana Samping semalam.
Ia memanggil Wu Ling untuk memastikan kebenaran kabar ini.
Sebelumnya, ia mengambil seorang dayang dari Istana Samping, masuk
ke Istana Kecantikan. Dulu, ia akan menutup mata pada 72 selir di Istana
Kecantikan, tetapi ia tidak mampu menahannya lagi sekarang!
"Sejak kapan Pangeran Ini membutuhkanmu untuk ikut campur dalam urusanku?" Suara dalam dan rendah seorang pria pun terdengar. Ketika ia melihat ke arah datangnya suara, ada seorang pria mengenakan jubah ungu dengan motif ular. Rambutnya terikat dengan seutas sutra biru, giok bundar berukir tergantung di pinggangnya.
![]() |
| Contoh giok bundar berukir. |
Saat ia bergerak, sikapnya yang mengesankan itu sampai pada titik
terasa menindas.
Aura ini menyebabkan semua kemarahan Pei Ya Ran menguap. Ketika He
Ying menyadarinya, ia segera membungkuk dan mengundurkan diri.
"Wu Ling, mundurlah."
"Hamba mengikuti perintah."
Hanya tersisa Pei Qian Hao dan Pei Ya Ran di Istana Kedamaian
Penuh Kasih.
Sifat garang Pei Ya Ran langsung menghilang, tingkah laku dari
seorang gadis kecil pun muncul di raut wajahnya. Ia mengangkat tangan kanannya
untuk menggenggam tangan Pei Qian Hao.
"Kakak, aku ataukah para wanita di Istana Kecantikan yang
lebih penting di hatimu?"
Pei Qian Hao menatapnya dan mengangkat tangannya untuk menyentuh
keningnya.
"Kakak ..." Pei Ya Ran mengambil kesempatan untuk
memeluknya dan meletakkan kepalanya di dadanya.
"Kau adalah adik perempuanku. Bagaimana mungkin para wanita
itu dibandingkan denganmu?" Ia mendorongnya pergi dan berjalan ke sebuah
meja, menuangkan secangkir teh hijau untuk dirinya sendiri.
Pei Ya Ran mengigiti bibirnya kuat-kuat. Adik perempuan.
Adik perempuan lagi! Aku tidak punya hubungan darah sama sekali dengannya!
Bagaimana bisa aku dianggap sebagai adik perempuan! Apa yang paling tidak
kuinginkan adalah menjadi adik perempuannya. Aku ingin menjadi wanitanya!
"Hao ..." Ia mengubah caranya memanggil dan
perlahan-lahan mendekatinya.
Pei Qian Hao berbalik untuk menatapnya dan langsung mundur
selangkah, memperbesar jarak di antara mereka.
"Entah aku akan mengejar masalah mengenai dayang istana itu,
akan tergantung pada suasana hatiku. Apabila kau bosan di Istana Kedamaian
Penuh Kasih, bawalah Xiao He untuk menemanimu ke Taman Kekaisaran. Bunga Ungu Harum yang ditanam dari Xi Liu tahun lalu sudah mekar." Lalu ia meletakkan
cangkir tehnya dan berbalik pergi.
Memperhatikan sosoknya yang pergi, Pei Ya Ran tidak sanggup
berbicara dan mengepalkan tangannya erat. Sebenarnya, ia menyukaiku
atau tidak? Atau, apakah ia takut pada Tiga Panduan Kardinal dan Lima
Kebajikan Konstan?
(T/N: Jenis etika tradisional China. Silakan kunjungi link ini jika berminat mengetahui lebih banyak.)
"Ibu Suri, Pangeran Hao sudah pergi." He Ying merasakan
sesuatu mencengkeram hatinya. Ia sangat jelas tentang niatan Ibu Suri terhadap
Pangeran Hao.
"Xiao He, aku baru berusia delapan belas tahun. Mengapa ia
harus melakukan ini padaku?" Air mata mengalir turun tiada henti dari mata
Pei Ya Ran.
He Ying mengigiti bibirnya, merasa kasihan padanya. "Aku
memahami rasa sakit Anda. Dengan berapa banyak tahunnya kalian bersama-sama,
Pangeran Hao sudah pasti menyukai Anda. Tetapi, dengan keadaan sekarang ini,
Pangeran Hao tidak punya pilihan lain selain menjaga jarak dengan Anda. Istana
Kecantikan hanyalah tipu muslihat lain untuk mengecoh publik."
Istana Kecantikan digunakan untuk mengecoh publik? Mata Pei Ya
Ran bersinar. "Xiao He, kalau memang begitu ..."
"Ibu Suri, setelah menyingkirkan Commandery Prince Xie
dan pangeran-pangeran kekaisaran lainnya, tidak akan ada lagi orang di
pengadilan yang berani mengatakan tidak pada keluarga Pei. Pada saat itu,
Pangeran Hao akan menikahi Anda."
"Xiao He, jika ia sungguh-sungguh berpikir demikian ..."
wajah Pei Ya Ran penuh suka cita.
"Ibu Suri, hamba sudah menyelidikinya. Dayang yang dibawa
Pangeran Hao bersamanya dari Istana Samping itu berhubungan dengan Commandery
Prince Xie."
"Hm? Berhubungan dengan Xie Yun? Jelaskan lebih
spesifik." Ekspresi Pei Ya Ran tegas. Kesengsaraan sebagai seorang wanita
menghilang, dan auranya sebagai seorang Ibu Suri muncul kembali.
"Dayang itu adalah He Xiang Yu, orang yang Anda disiplinkan.
Sebelumnya, ia menyinggung Commandery Prince Xie, tetapi
saudari baiknya, Su Xi-er menanggung kesalahan itu untuknya. Hanya setelah
itulah, He Xiang Yu bertemu dengan Pangeran Hao dan masuk ke Istana Kecantikan."
Saat He Ying berbicara sampai di sini, ia menjeda. "Commandery
Prince Xie adalah seseorang yang akan membalas dendam walaupun hanya
keluhan kecil. Mana mungkin ia memaafkan seseorang yang benar-benar
menyinggungnya? Sementara, untuk masalah Su Xi-er menanggung kesalahan
itu, Commandery Prince Xie tidak menindaklanjutinya."
"Xiao He, instruksikan dayang yang bertanggung jawab di
Istana Samping untuk menyingkirkan Su Xi-er secepat mungkin. Biarkan dulu nyawa
He Xiang Yu." Sudut mulut Pei Ya Ran terangkat sementara matanya dipenuhi
kejahatan.
"Hamba telah menginstruksikan dayang yang bertanggung jawab
di Istana Samping. Su Xi-er akan segera sepenuhnya menghilang."
"Kerja bagus! Aku akan memberikanmu hadiah besar!"
***
Sementara itu, Su Xi-er tidak mengetahui bahwa Ibu Suri sudah
'memperhatikan' tentang dirinya. Setelah menggosok pispot semalaman kemarin
malam, tubuhnya lemah dan satu-satunya pikirannya adalah istirahat yang cukup.
Akan tetapi, tepat setelah ia memasuki kamarnya, seseorang membuka pintunya dari luar. Dayang Senior Zhao masuk ke dalam kamar
sambil membawakan satu mangkuk putih.
"Su Xi-er, duduk. Aku sendiri yang menginstruksikan seseorang
untuk merebuskan semangkuk sup ayam untukmu. Minumlah selagi masih panas dan
jagalah tubuhmu." Kemudian, Dayang Senior Zhao meletakkan mangkuk
putihnya di atas meja.
Su Xi-er melihat isi mangkuk putih itu. Sup Ayam Jamur Kuping. Terdapat tiga potong besar daging ayam dengan beberapa iris daun bawang bertaburan di atasnya.
![]() |
| Sup Ayam Jamur Kuping |
Seseorang hanya bisa makan daging sekali setiap bulannya di Istana Samping, itu pun tumisan dengan hidangan sayuran. Tidakkah Dayang Senior Zhao terlalu baik hati, secara pribadi menyuruh seseorang untuk merebuskan sup ayam untukku?
"Minumlah selagi masih panas." Wajah Dayang Senior Zhao dipenuhi senyuman selagi ia mendesak Su Xi-er untuk cepat-cepat meminumnya.
Chapter 9 | TOC | Chapter 11




