Sabtu, 26 Desember 2020

CTF - Chapter 65

Consort of A Thousand Faces

Chapter 65 : Penjelasan yang Kacau

Continue reading CTF - Chapter 65

CTF - Chapter 64

Consort of A Thousand Faces

Chapter 64 : Mengagumi

Continue reading CTF - Chapter 64

CTF - Chapter 63

Consort of A Thousand Faces

Chapter 63 : Marah

Continue reading CTF - Chapter 63

CTF - Chapter 62

Consort of A Thousand Faces

Chapter 62 : Meluaskan Pandanganku

Continue reading CTF - Chapter 62

CTF - Chapter 61

Consort of A Thousand Faces

Chapter 61 : Selesai Mengagumi

Continue reading CTF - Chapter 61

Kamis, 24 Desember 2020

CTF - Chapter 60

Consort of A Thousand Faces

Chapter 60 : Pangeran Hao Terpaksa Mengaku Kalah

Continue reading CTF - Chapter 60

CTF - Chapter 59

Consort of A Thousand Faces

Chapter 59 : Kenakan atau Tidak

Continue reading CTF - Chapter 59

CTF - Chapter 58

Consort of A Thousand Faces

Chapter 58 : Jika Seseorang Tidak Mencari Masalah, Maka Ia Tidak Akan Mati

Continue reading CTF - Chapter 58

CTF - Chapter 57

Consort of A Thousand Faces

Chapter 57 : Terpental

Continue reading CTF - Chapter 57

CTF - Chapter 56

Consort of A Thousand Faces

Chapter 56 : Menariknya

Continue reading CTF - Chapter 56

Rabu, 23 Desember 2020

CTF - Chapter 55

Consort of A Thousand Faces

Chapter 55 : Perjamuan Kerajaan Nan Zhao

Continue reading CTF - Chapter 55

CTF - Chapter 54

Consort of A Thousand Faces

Chapter 54 : Mencuci Bajunya

Continue reading CTF - Chapter 54

CTF - Chapter 53

Consort of A Thousand Faces

Chapter 53 : Sangat Yakin Kalau Itu Adalah Dirinya

Continue reading CTF - Chapter 53

CTF - Chapter 52

Consort of A Thousand Faces

Chapter 52 : Spekulasi Pangeran Hao

Continue reading CTF - Chapter 52

CTF - Chapter 51

Consort of A Thousand Faces

Chapter 51 : Memendam Pemikiran

Continue reading CTF - Chapter 51

Rabu, 09 Desember 2020

CTF - Chapter 50

Consort of A Thousand Faces

Chapter 50 : Kembalinya Ruo Yuan

Continue reading CTF - Chapter 50

CTF - Chapter 49

Consort of A Thousand Faces

Chapter 49 : Menyaksikan Lelucon

Continue reading CTF - Chapter 49

CTF - Chapter 48

Consort of A Thousand Faces

Chapter 48 : Musibah

Continue reading CTF - Chapter 48

CTF - Chapter 47

Consort of A Thousand Faces

Chapter 47 : Sekumpulan Orang Bodoh

Continue reading CTF - Chapter 47

CTF - Chapter 46

Consort of A Thousand Faces

Chapter 46 : Ini yang Disebut Pakaian

Continue reading CTF - Chapter 46

CTF - Chapter 45

Consort of A Thousand Faces

Chapter 45 : Gatal Gatal Gatal

Continue reading CTF - Chapter 45

CTF - Chapter 44

Consort of A Thousand Faces

Chapter 44 : Tertarik Untuk Bergosip

Continue reading CTF - Chapter 44

CTF - Chapter 43

Consort of A Thousand Faces

Chapter 43 : Menolak Dimanfaatkan

Continue reading CTF - Chapter 43

Selasa, 08 Desember 2020

CTF - Chapter 42

Consort of A Thousand Faces

Chapter 42 : Ia Mesum

Continue reading CTF - Chapter 42

CTF - Chapter 41

Consort of A Thousand Faces

Chapter 41 : Ketahuan

Continue reading CTF - Chapter 41

3L3W TMOPB - Chapter 15 Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 15 Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 15 Part 2

3L3W TMOPB - Chapter 15 Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 15 Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 15 Part 1

3L3W TMOPB - Chapter 14 Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 14 Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 14 Part 2

3L3W TMOPB - Chapter 14 Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 14 Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 14 Part 1

3L3W TMOPB - Chapter 13 Part 2

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 13 Part 2

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 13 Part 2

3L3W TMOPB - Chapter 13 Part 1

Ten Miles of Peach Blossoms

Chapter 13 Part 1

Continue reading 3L3W TMOPB - Chapter 13 Part 1

CTF - Chapter 40

Consort of A Thousand Faces

Chapter 40 : Pangeran Hao Telah Tiba

Continue reading CTF - Chapter 40

CTF - Chapter 39

Consort of A Thousand Faces

Chapter 39 : Si Manis Kecil

Continue reading CTF - Chapter 39

CTF - Chapter 38

Consort of A Thousand Faces

Chapter 38 : Siapa yang Menggantung Lonceng Di Leher Harimau Harus Melepaskannya

Continue reading CTF - Chapter 38

CTF - Chapter 37

Consort of A Thousand Faces

Chapter 37 : Tangan yang Terulur Terlalu Jauh

Continue reading CTF - Chapter 37

CTF - Chapter 36

Consort of A Thousand Faces

Chapter 36 : Beraninya Tidak Mempercayai Pangeran Ini

Continue reading CTF - Chapter 36

Sabtu, 05 Desember 2020

CTF - Chapter 35

Consort of A Thousand Faces

Chapter 35 : Seseorang Sangat Marah

Continue reading CTF - Chapter 35

CTF - Chapter 34

Consort of A Thousand Faces

Chapter 34 : Mengangkat Lengannya

Continue reading CTF - Chapter 34

CTF - Chapter 33

Consort of A Thousand Faces

Chapter 33 : Kelakar

Continue reading CTF - Chapter 33

CTF - Chapter 32

Consort of A Thousand Faces

Chapter 32 : Menunggunya Di Sana

Continue reading CTF - Chapter 32

CTF - Chapter 31

Consort of A Thousand Faces

Chapter 31 : Tidak Dapat Menangani

Continue reading CTF - Chapter 31

CTF - Chapter 30

Consort of A Thousand Faces

Chapter 30 : Harimau dan Macan Tutul

Continue reading CTF - Chapter 30

CTF - Chapter 29

Consort of A Thousand Faces

Chapter 29 : Aura yang Tidak Kalah Dari Pangeran Hao

Continue reading CTF - Chapter 29

CTF - Chapter 28

Consort of A Thousand Faces

Chapter 28 : Suara Rantai Besi

Continue reading CTF - Chapter 28

CTF - Chapter 27

Consort of A Thousand Faces

Chapter 27 : Siapa yang Memberikan Kepadanya

Continue reading CTF - Chapter 27

CTF - Chapter 26

Consort of A Thousand Faces

Chapter 26 : Apa yang Paling Aku Sukai

Continue reading CTF - Chapter 26

Selasa, 01 Desember 2020

CTF - Chapter 25

Consort of A Thousand Faces

Chapter 25 : Kaget dan Ketakutan

Continue reading CTF - Chapter 25

CTF - Chapter 24

Consort of A Thousand Faces

Chapter 24 : Sangat Tertarik

Continue reading CTF - Chapter 24

CTF - Chapter 23

Consort of A Thousand Faces

Chapter 23 : Takjub

Continue reading CTF - Chapter 23

Senin, 30 November 2020

CTF - Chapter 22

Consort of A Thousand Faces

Chapter 22 : Berulang Kali Menyentuh

Continue reading CTF - Chapter 22

Minggu, 29 November 2020

CTF - Chapter 21

Consort of A Thousand Faces

Chapter 21 : Lancang

Continue reading CTF - Chapter 21

Sabtu, 21 November 2020

CTF - Chapter 20

Consort of A Thousand Faces

Chapter 20 : Jangan Berpikir Untuk Menggodanya

Continue reading CTF - Chapter 20

CTF - Chapter 19

Consort of A Thousand Faces

Chapter 19 : Siapa yang Mengembalikan Posisi Tulangmu

Continue reading CTF - Chapter 19

CTF - Chapter 18

Consort of A Thousand Faces

Chapter 18 : Menyuruhmu Agar Tidak Menjalin Koneksi Dengan Tokoh Berkuasa

Continue reading CTF - Chapter 18

CTF - Chapter 17

Consort of A Thousand Faces

Chapter 17 : Kain Sutra Tenun

Continue reading CTF - Chapter 17

CTF - Chapter 16

Consort of A Thousand Faces

Chapter 16 : Safflower

Continue reading CTF - Chapter 16

CTF - Chapter 15

Consort of A Thousand Faces

Chapter 15 : Dilindungi Olehnya

Continue reading CTF - Chapter 15

CTF - Chapter 14

Consort of A Thousand Faces

Chapter 14 : Nona Qing

Continue reading CTF - Chapter 14

CTF - Chapter 13

Consort of A Thousand Faces

Chapter 13 : Tak Ada Seorang pun yang Berani Menyentuhmu

Continue reading CTF - Chapter 13

CTF - Chapter 12

Consort of A Thousand Faces

Chapter 12 : Serahkan


Panah Penembus Jantung. Aku tidak menyangka, orang selain Yun Ruo Feng akan mengetahui gerakan ini. Ia belum lama terlahir kembali, sebelum diingatkan lagi akan kekuatan luar biasa dan tak berperasaan dari Panah Penembus Jantung.

Suara Pei Qian Hao dingin dan kuat. "Karena kau sudah ada di sini, kenapa tidak menunjukkan dirimu? Ia hanya seorang dayang dari Istana Samping, tetapi ia sampai membuatmu mengeluarkan Panah Penembus Jantung?"

Su Xi-er mengepalkan tangannya selama beberapa saat sebelum menenangkan diri. Jika Mu Tao tidak mengucapkan kalimat itu, apakah ia masih hidup? Ini berarti, orang itu sebenarnya ingin membunuh dayang yang berada di hutan sebelah Istana Samping dan terkait dengan Pangeran Hao!

Mu Tao menjadi kambing hitamnya ...

"Su Xi-er, apa kau masih baik-baik saja?" Ketika ia melihat keningnya dibasahi oleh keringat dingin, Pei Qian Hao mengerutkan alisnya.

"Siapa yang membunuh Mu Tao?" Suara Su Xi-er benar-benar bergetar saat ini. Kali ini, ia tidak berpura-pura.

"Aku tidak tahu."

Su Xi-er kaget. "Mu Tao mati karena kalimat itu."

"Su Xi-er ..." Pei Qian Hao mendadak menurunkan volume suaranya. Kemudian, ia melanjutkan, "Apakah orang yang ada di hutan adalah dirimu?"

"Hamba hanya ingin menjalani seumur hidup hamba dengan aman dan selamat. Aku tidak akan terlalu banyak memikirkan hal lainnya. Selain itu, dengan figur seperti hamba, sudah pasti tidak akan sanggup menyerang Anda." Su Xi-er menundukkan kepalanya dan tampak merasa sangat diperlakukan tidak adil.

"Benarkah?" Pei Qian Hao menaikkan intonasinya saat ia menjawab, wajahnya penuh pertanyaan.

Su Xi-er menggertakkan giginya. Kalau aku mengakuinya, orang yang bersembunyi di kegelapan akan membunuhku dengan sebuah panah.

Masih ada begitu banyak hal yang belum kucapai. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Istana Kekaisaran Nan Zhao juga Lian Chen sekarang. Aku tidak boleh mati!

"Pangeran Hao, hamba hanya ingin terus hidup dengan hidupku ini." Ia menengadahkan kepalanya. Pinggiran matanya penuh dengan air mata, ia tampak sangat menyedihkan.

Penampilan ini mampu menarik hati sanubari pria mana pun.

"Sesorang akan mengirimkan makan malam untukmu nanti." Pei Qian Hao mengirimnya masuk ke dalam kamar.

Sementara untuk orang yang bersembunyi di kegelapan, sudah pasti ia akan mengurusnya.

Su Xi-er duduk saat pintu kamarnya tertutup, kesunyian yang memekakkan telinga sebagai satu-satunya latar dalam pikirannya. Meskipun intuisinya mengatakan bahwa ia sudah berada dalam masalah besar, ia bahkan tidak mengetahui siapa yang menyerangnya.

Terhenti di sini, ia tidak bisa menahan diri selain menjadi kesal. Jika aku tidak berjalan ke tempat yang salah semalam, aku tidak akan tanpa sengaja bertemu Pangeran Hao, dan aku tidak akan terkena banyak masalah merepotkan sekarang.

Sialan Pangeran Hao, kenapa kau pergi ke hutan di sebelah Istana Samping tanpa alasan!

Kerchak! Pintunya terbuka dan seorang dayang masuk membawakan makan malam. Matanya dipenuhi kebencian saat ia bergumam tanpa henti, "Masih menyuruhku untuk melayani seseorang yang sudah mau mati."

Su Xi-er memperhatikan dayang itu meletakkan makan malamnya dan sengaja bertanya, "Siapa yang akan mati?"

Dayang itu mendengus dingin. "Tentu saja kau. Dayang lainnya yang datang bersamamu baru saja dibuang mayatnya. Kau pun akan segera mengikutinya. Orang-orang yang datang kemari tidak berumur panjang."

"Bisakah kau memberitahuku, tempat apa ini?" Istana ini sangat dekat dengan Istana Dingin. Meskipun sekarang ini bobrok, ia bisa menduga dari desain interiornya kalau pemilik sebelumnya pastilah memiliki status tertentu.

"Setelah Permaisuri terdahulu dimakzulkan, ia tinggal di sini. Setelah itu ..." Suara dayang itu tanpa sadar menjadi ketakutan. "Ia bunuh diri dengan menggantung dirinya dari sebatang tiang langit-langit. Saat langit menjadi gelap, kau mungkin bahkan bisa melihat hantu Permaisuri terdahulu." Dayang itu tertawa kering sebelum ia berbalik dan pergi.

Tempat di mana Permaisuri terdahulu, istri pertama Kaisar Shin Min, tinggal setelah dimakzulkan ... mengurungnya di sini benar-benar "sangat lancang". Mungkin jika aku mengutarakannya dengan cara lain, Pangeran Hao-lah yang memiliki kekuasaan luar biasa.

Ia memilah-milah pikirannya dan menuliskan dua kata di atas meja dengan jarinya—'Pei' dan 'Xie'.

Saat ini, Bei Min dikendalikan baik oleh Keluarga Pei dan Keluarga Xie. Kepala Keluarga Pei adalah Pangeran Hao dan Ibu Suri, sementara Commandery Prince Xie adalah perwakilan Keluarga Xie.

Berapa banyak pangeran kekaisaran yang ada di Bei Min? Jangan bilang padaku kalau pangeran-pangeran kekaisaran ini mengabaikan saja ketika kekuasaan kekaisaran dirampas?

Alis Su Xi-er bertautan. Tangannya perlahan-lahan mengetuk bagian atas meja.

"Sebenarnya, kau adalah seorang gadis yang cantik. Sayang sekali karena kau akan segera mati." Suara dalam, rendah, dan seram seorang pria tiba-tiba saja terdengar.

Su Xi-er berhenti mengetuk mejanya saat matanya menyipit. Ia tidak mendengarkan satu pun suara, ataupun melihat orangnya.

"Temanmu baru saja mati, dan segera, kau yang berikutnya. Karena aku merasa kau cantik, aku akan mengizinkanmu untuk memilih cara matinya." Tepat setelah kata-kata ini diutarakan, seorang pria yang sepenuhnya dikaburkan oleh penutup kepala dan jubah hitam pun memasuki ruangan.

Su Xi-er berdiri dan menjawab tenang, "Kau akan menyetujui apa pun cara kematian yang kupilih? Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?"

"Tentu saja."

"Baiklah, kalau begitu. Aku memilih untuk mati karena usia tua."

Pria berjubah hitam itu tercengang selama beberapa waktu. Setelahnya, ia tertawa terbahak-bahak. "Kau ... wanita ini. Bukan hanya kau cantik, tetapi kau juga menarik. Aku selalu sungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan, tetapi kau tidak bisa menyalahkanku karena kau tidak memainkan kartumu dengan cara biasa dan membuat sebuah pilihan yang benar."

Ia mengangkat tangannya dan sebuah serpihan kayu bakar yang tajam diarahkan ke hatinya.

Su Xi-er mengelak lincah. "Kau bisa menggunakan Panah Penembus Jantung."

"Cantik, kau memang berpengalaman dan berpengetahuan. Teknik panahanku bahkan jauh lebih hebat daripada Yun Ruo Feng dari Nan Zhao."

Akan tetapi, perempuan ini benar-benar mengelak darinya!

"Kau ingin membunuhku, sudah pasti karena ada seseorang yang menyuruhmu. Siapa? Aku tidak ingin mati tanpa mengetahui alasan jelasnya."

Ia mengatakan ini sepenuhnya dengan tujuan untuk mengulur waktu. Aku harus tetap hidup!

"Kau merusak pemandangan. Alasan ini cukup." Pria itu lalu berteriak dan menerkamnya dengan tangan yang mengarah untuk mencengkeram lehernya dengan kuat dalam satu gerakan.

Su Xi-er beruntung karena berhasil merasakan sebuah tusuk rambut di laci dari meja panjang tersebut, dan baru saja akan menggunakan senjata pembunuhnya saat ia mendengar jeritan pedih pria itu.

Ketika ia menatapnya lagi, ia melihat pundak pria itu terluka, pria lainnya, mengenakan jubah putih berdiri di belakangnya.

Pria itu berdiri di bawah sinar bulan dengan rambutnya yang dibiarkan terurai. Rambutnya yang tak terikat sikapnya yang tenang menyatu, memberinya aura seorang bangsawan.

"Hehe, jadi kau." Suara pria yang berpakaian hitam itu dalam dan rendah. Ia melirik Su Xi-er sesaat sebelum segera menghilang, dalamnya kemampuan pria itu masih tidak diketahui.

Selagi Su Xi-er memandangi pria yang berjalan ke arahnya, ekspresinya agak termangu. Auranya sangat mirip dengan Yun Ruo Feng.

Hanya saja, pria ini tidak segagah Yun Ruo Feng.

"Serahkan." Pria yang berdiri di hadapannya berkata acuh tak acuh.

Serahkan? Kebingungan tertulis di wajah Su Xi-er.

"Tusuk rambut yang ada di tanganmu."

"Ini milikmu?" Tepat setelah ia mengajukan pertanyaan itu, Su Xi-er menyadari kalau ia sudah mengatakan sesuatu yang salah.

Ini adalah tempat dimana Permaisuri terdahulu tinggal. Menemukan tusuk rambut ini di laci, bagaimana bisa benda ini milik orang ini? Apakah ia mempunyai hubungan dengan Permaisuri terdahulu?


Chapter 11

Continue reading CTF - Chapter 12

CTF - Chapter 11

Consort of A Thousand Faces

Chapter 11 : Panah Penembus Jantung Lagi



Su Xi-er mengenakan senyuman di wajahnya, membawa mangkuk sup ke bibirnya saat diam-diam pandangannya tertuju ke arah wajah Dayang Senior Zhao. Pasti ada yang tidak beres dengan semangkuk sup ayam ini. Dayang Senior Zhao biasanya tidak banyak menunjukkan ekspresi.

"Lihatlah dirimu. Tubuhmu lemah. Dayang di Istana Samping harus lebih kuat. Hanya dengan begitu, mereka dapat mengerjakan pekerjaan kasar. Kau tidak boleh memberitahukan soal dirimu meminum semangkuk sup ayam ini. Jika dayang lainnya tahu, mereka akan mencemoohku karena tidak adil." Walaupun nada Dayang Senior Zhao tenang, matanya sungguh terpaku pada mulut Su Xi-er yang agak terbuka.

Tadinya, ia berencana untuk membuat jalan keluar bagi Su Xi-er, sembari menikmati pertunjukan. Akan tetapi, He Ying, kesukaan Ibu Suri, sudah menyinggung lebih dari sekali, orang ini tidak bisa dibiarkan. Ide He Ying merupakan ide Ibu Suri.

Aw, Su Xi-er, jangan menyalahkanku. Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri karena wanita cantik mengalami nasib yang tragis. Terdapat banyak masalah ketika kau berwajah cantik.

"Dayang Senior Zhao, Anda begitu baik padaku. Bagaimana mungkin aku menikmati semangkuk sup ayam ini sendirian? Bagaimana kalau Anda juga meminumnya sedikit?" Su Xi-er meletakkan mangkuk putih itu di hadapan Dayang Senior Zhao.

Ia sudah membauinya saksama, dan mengenali aroma campuran obat-obatan di dalam sup ayamnya. Aromanya bukanlah sup ayam obat, tetapi dari tanaman obat spesial yang ditambahkan. Kalau aku tidak salah, tanaman obat ini adalah Rumput Patah Hati.

(T/N: Tanaman beracun yang dapat ditemukan di Tiongkok.)

Seseorang tidak akan menyadari efek apa pun selama dua hari setelah mengkonsumsinya. Meskipun begitu, di hari ketiga, orang itu bisa mendadak mati, terlebih lagi, mati dengan cara yang mengerikan.

Sewaktu membunuh seseorang, akan lebih baik membiarkan orang itu dengan mayat yang utuh, tetapi metode ini menyebabkan seseorang mati dengan cara yang sangat menyakitkan. Tampaknya, orang yang berada di balik Dayang Senior Zhao benar-benar bengis.

"Ini sengaja direbuskan untuk kau minum. Jika kau tidak meminumnya, itu akan menandakan kalau kau tidak memberiku muka." Dayang Senior Zhao memberinya ekspresi kotor dan menggebrak mejanya. Nada bicaranya jadi tegas.

"Dayang Senior, jangan marah. Aku akan meminumnya sekarang." Kilatan halus berkedip di matanya. Ada begitu banyak percobaan pembunuhan di kehidupanku sebelumnya sebagai Ning Ru Lan. Aku punya caraku sendiri untuk mengatasi Rumput Patah Hati yang remeh ini.

Setelah melihat Su Xi-er mengangkat kepalanya untuk meminum seteguk penuh sup ayamnya, Dayang Senior Zhao menjadi lega. Tidak masalah, selama ia sudah meminumnya. Selama ia meminum seteguk penuh, sudah cukup untuk mengambil nyawanya!

"Hamba memberi hormat pada Pengawal Kekaisaran Wu. Anda di sini untuk ..." Suara resah seorang dayang dapat terdengar. Segera setelah itu, pintu kamar Su Xi-er didorong terbuka, memperlihatkan Wu Ling berdiri di luar sana dengan roman wajah yang tegas.

"Su Xi-er, ikut bersama pengawal kekaisaran ini."

Nadanya tenang tetapi hati Dayang Senior Zhao gemetaran. Mengapa Pengawal Kekaisaran Wu kemari lagi? Bukankah Ibu Suri memerintahkan agar urusan ini tidak diselidiki lagi?

Seulas senyuman melintas di mata Su Xi-er. Pengawal Kekaisaran Wu tiba tepat waktu!

"Dayang Senior ..." Su Xi-er berpura-pura kebingungan, mangkuk putihnya bergetar bersamaan dengan tangannya. Kemudian, mangkuk itu terjatuh ke atas lantai dan sup ayamnya berceceran di seluruh lantai.

Saat Wu Ling melihat sup ayam di lantai, tatapan di matanya tanpa sadar jadi mendalam.

"Su Xi-er, ada apa denganmu? Kau tidak sopan di hadapan Pengawal Kekaisaran Wu. Cepat pergi keluar!" Dayang Senior Zhao takut kalau Wu Ling akan menemukan sesuatu dan mendorong Su Xi-er keluar dengan kedua tangannya.

Sebenarnya, Su Xi-er tidak meminum seteguk pun sup ayam itu. Ia hanya membuat gerakan menelan saat bibirnya bergerak mendekat ke sup ayamnya.

Su Xi-er menatap Wu Ling dan tampak tidak sehat, suaranya bergetar. "Pengawal Kekaisaran Wu, hamba tiba-tiba saja merasa tubuhku tidak nyaman. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa pusing, dan napasku tidak lancar." Di saat bersamaan, ia menekankan tangannya ke dadanya.

Dayang Zhao panik. Efek Rumput Patah Hati tidak akan bereaksi secepat ini! Apa yang sebenarnya terjadi? Jika Su Xi-er pingsan sekarang juga, aku tidak akan bisa membebaskan diriku dari tanggung jawab!

Meskipun kematian seorang dayang di istana adalah hal yang tidak penting, apabila penyelidikan membuktikan kalau aku diam-diam menyebabkan kematian seseorang tanpa alasan yang pantas, aku akan menderita akibatnya juga! Terlebih lagi, mungkin Su Xi-er adalah wanita yang menggoda Pangeran Hao semalam!

Wu Ling melirik Su Xi-er sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia berjongkok, meraih mangkuk putihnya dan membawanya tepat di depan hidungnya.

Dayang Senior Zhao mengepalkan tangannya erat-erat dengan gugup. Bawahan Pangeran Hao semuanya berkemampuan tinggi. Wu Ling adalah pengawal pribadinya dan lebih kuat lagi. Ia pasti akan menyadari kalau ada yang tidak beres dengan sup ayamnya!

"Dayang Senior Zhao, sup ayam ini ..."

Dayang Senior Zhao menyesuaikan pikirannya dan mengubahnya menjadi ekspresi keraguan. "Pengawal Kekaisaran Wu, apakah ada yang salah dengan sup ayamnya? Itu tidak mungkin. Aku sendiri yang merebusnya."

Berdiri di luar pintu, Su Xi-er mengambil saat yang tepat. "Sup ayam yang direbuskan sendiri oleh Dayang Senior Zhao tidak akan ada masalah apa pun. Tubuhku saja yang lemah. Sup ayamnya terlalu bernutrisi dan tubuhku tidak mampu menahan tonik yang luar biasa ini. Aku akan baik-baik saja sebentar lagi."

Ada nada tambahan yang jelas dalam perkataannya. Sementara tidak ada kesalahan yang dapat ditemukan di permukaan, pernyataan Su Xi-er sebenarnya diam-diam mengejek Dayang Senior Zhao.

Wu Ling berbalik ke arah Dayang Senior Zhao, nada suaranya keras. "Dayang Senior Zhao, aku tidak peduli kau menerima perintah dari siapa, tetapi kau tidak boleh menyentuh dayang ini sekarang. Jika kau ragu, silakan pergi dan tanyakan pada Pangeran Hao."

Dayang Senior Zhao tersentak. Di satu sisi, Ibu Suri, dan sisi lainnya adalah Pangeran Hao. Orang cerdas tahu dimana mereka harus berdiri. Aku benar-benar tidak bisa menyentuh Su Xi-er sekarang.

"Su Xi-er, ikut bersama pengawal kekaisaran ini." Wu Ling berjalan ke depan.

***

Dalam satu jam, masalah mengenai Su Xi-er dibawa pergi oleh Wu Ling sudah menyebar di seluruh Istana Samping. Meskipun Mu Tao juga dibawa pergi dengannya, perhatian mereka terhadap Su Xi-er jauh lebih besar.

Di sebuah istana terpencil di sudut barat laut istana kekaisaran, Su Xi-er dan Mu Tao tinggal di ruangan terpisah.

Angin di luar ruangan menjadi lebih kencang dan melolong saat meniup pintu dan jendelanya, menghasilkan suara gemerincing.

Pencahayaan di sekitar sangat redup. Selagi Su Xi-er melihat sekeliling dan dengan hati-hati mengamati keadaan sekitarnya, ia kagetkan oleh suara seorang pria yang tiba-tiba saja terdengar entah darimana.

"Wanita, kemarilah."

Suaranya dalam dan rendah, dipenuhi dengan kekuatan meneror.

Wajah Su Xi-er menggelap. Ia mampu mengetahui dari suaranya, itu adalah Pangeran Hao!

Akan tetapi, ia tahu, sudah pasti ia tidak boleh membiarkannya tahu kalau ia mengenali Pangeran Hao.

Su Xi-er sengaja memperlihatkan ekspresi ketakutan. "Siapa ... siapa kau?"

Pei Qian Hao terkekeh. "Kemarilah."

Tidak ada pilihan. Aku harus berpura-pura menjadi seorang dayang yang lemah dan malu-malu sekarang.

Oleh karenanya, ia berjalan menuju Pangeran Hao selagi tubuhnya bergetar.

Meski begitu, sebelum ia berhasil berada sangat dekat dengannya, lengan panjang tiba-tiba saja meraih dan memeluk pinggangnya.

"Kau ... Tidak pantas bagi pria dan wanita untuk melakukan kontak fisik." Su Xi-er mengutuknya lusinan kali di hatinya tetapi masih berpura-pura memasang penampilan ketakutan.

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya, napasnya memercik di ujung hidungnya. "Kau ada di hutan di sebelah Istana Samping semalam."

Nada bicaranya penuh keyakinan dan mendominasi.

"Jangan memfitnah hamba. Hamba bukanlah orang yang menyinggung Pangeran Hao. Siapa sebenarnya dirimu?" Su Xi-er menahan dirinya mencoba mendorong pria itu menjauh dan sebaliknya, sengaja membuat tubuhnya bergetar.

"Bagaimana kalau kau mengikuti pangeran ini ke Istana Kecantikan?"

Su Xi-er sengaja melebarkan matanya. "Kau ... kau adalah Pangeran Hao?"

"Bukankah luar biasa bagimu bisa melayani pangeran ini bersama dengan saudari baikmu?" Pei Qian Hao terkekeh rendah dan memeluk pinggangnya erat.

"Hamba tidak menyinggung Anda. Aku tidak ingin pergi ke Istana Kecantikan dan tidak ingin bertemu He Xiang Yu."

"'Aku tidak ingin' yang luar biasa." Kilatan berbahaya muncul di mata Pei Qian Hao. Ia hanya memancingnya saja barusan.

Wanita ini begitu ketakutan, semantara wanita di hutan sangat pemberani.

Kedua orang ini tidak mirip di aspek ini.

"Pangeran Hao, ada suara seorang wanita yang menangis dari luar sana." Su Xi-er sengaja mengubah topiknya.

Pangeran Hao mendengarkan dengan saksama. Memang ada suara seorang wanita menangis.

"Istana Dingin tidak jauh dari sini. Kau akan mendengarkan suara wanita-wanita menangis di malam hari." Pangeran Hao menjelaskan perlahan dan mengamati Su Xi-er.

Di setiap kerajaan, sudut barat laut istana merupakan tempat yang paling muram dan suram; alasannya adalah karena Istana Dingin selalu terletak di sana.

"Yang terkurung di sana adalah para selir dari Kaisar Shin Min. Banyak Selir Kekaisaran mati di sana tanpa kejelasan maupun alasan. Di malam hari, akan ada ..." Ia berhenti dan menatapnya. Su Xi-er memejamkan matanya ketakutan.

Su Xi-er mengetahui Kaisar Shin Min adalah Kaisar Bei Min sebelumnya.

Kaisar ini terampil memerintah kerajaan, satu-satunya kelemahannya adalah ia mempercayai hal-hal gaib. Ia merasa ada Teknik Mempertahankan Keawetmudaan, agar ia dapat mempertahankan masa mudanya selamanya dan tidak pernah menua ataupun mati.

Anginnya jadi lebih kencang. Pada akhirnya, meniup pintunya terbuka. Tidak lagi ada suara wanita menangis, tetapi malahan suara Mu Tao.

"Aku. Akulah yang berada di hutan sebelah Istana Samping semalam!"

Ia baru saja menyelesaikan pernyataannya ketika sebuah anak panah cepat dan ganas melayang dan langsung menembus jantung Mu Tao.

Pei Qian Hao mengernyitkan alisnya dan melepaskan Su Xi-er. Ia berjalan keluar ruangan dan tiba di halaman.

Apa yang sebenarnya terjadi di ruangan lainnya? Mengapa Mu Tao tiba-tiba saja berlari keluar dan menyatakan kalau ialah wanita yang ada di dalam hutan sebelah Istana Samping semalam?

Su Xi-er berjalan keluar dari ruangan. Saat pandangannya mendarat di wajah Mu Tao, tubuhnya tanpa sadar menegang saat ia menatap kosong ke luka panahnya. Panah tajam itu menembus tepat di jantung Mu Tao.

Menembak dengan presisi yang luar biasa. Panah Penembus Jantung ... Berbagai adegan menyerbu pikirannya. Lautan api yang menyala dan Panah Penembus Jantung!


Chapter 10         |        TOC         |        Chapter 12

Continue reading CTF - Chapter 11

CTF - Chapter 10

Consort of A Thousand Faces

Chapter 10 : Hubungan yang Abnormal


Di dalam Istana Kedamaian Penuh Kasih, seorang wanita dengan gaun merah muda elegan berbaring di atas kursi malas. Penampilannya halus dan cantik, kulit sehalus porselennya, ditambah dengan sepasang mata cerah di bawah alis melengkung berbentuk daun dedalunya. Tangan kanannya melambaikan sebuah kipas tangan bundar kecil maju dan mundur dengan ringan.

Contoh alis daun dedalu.

Kipas tangan bundar kecil.

"Ibu Suri, Pengawal Kekaisaran Wu sudah tiba."

"Suruh ia masuk," suara samar menyelinap keluar dari bibir wanita itu. Ia masih mengibaskan kipas bundar itu di tangannya.

Siapa yang akan menyangka, kalau wanita yang tampak polos ini sudah mencapai posisi setinggi Ibu Suri.

"Hamba memberi hormat pada Ibu Suri. Bolehkah aku tahu untuk urusan apa aku dipanggil kemari?"

Wu Ling membungkuk dan menyapanya. Meskipun ia bersikap sopan, dapat terdengar dari perkataannya kalau ia bukanlah bawahan Ibu Suri, dan ia tidak perlu menerima perintah darinya.

"Lancang! Berani sekali kau berbicara pada Ibu Suri seperti ini!" He Ying melotot. Kilatan cerah melintas di matanya saat ia memelotot setajam belati ke arah Wu Ling.

"Xiao He, minggirlah. Pengawal Kekaisaran Wu, Ibu Suri ini tentu saja memanggilmu kemari karena ada yang ingin kutanyakan."

(T/N : Nama panggilan akrab untuk He Ying.)

Pei Ya Ran berdiri dari kursi malasnya dan mengayunkan kipas bundarnya saat ia berjalan ke arah Wu Ling.

"Pengawal Kekaisaran Wu, dimana kau menemukan Pangeran Hao pagi ini?" Ia berbicara sembari tersenyum dengan nada bertanya.

"Hutan di sebelah Istana Samping."

Beberapa kata sederhana ini menyebabkan Pei Ya Ran mengerutkan alisnya. Ia pun berhenti mengayunkan kipasnya.

"Tidak diduga, suasana hatinya begitu bagus dan berlari ke sana."

Pei Ya Ran terkekeh. Ekspresinya kaku selama beberapa detik sebelum kembali normal.

"Ibu Suri, jika Anda punya pertanyaan, silakan tanyakan langsung. Hamba masih ada urusan untuk ditangani."

Pei Ya Ran mencibir, suaranya nyaring. "Menangkap seorang wanita disebut dengan menangani urusan? Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi mengungkit urusan ini. Menciptakan keributan hanya untuk seorang wanita benar-benar sebuah lelucon!"

"Ibu Suri, masalah ini diinstruksikan oleh Pangeran Hao. Apabila Anda tidak puas, Anda dapat memberitahu Pangeran Hao." Wu Ling tidak congkak maupun merendahkan diri, dan memasang ekspresi yang tegas. Inilah penampilan yang benar-benar membuat Pei Ya Ran geram.

"Kau!" Ia mengangkat tangannya. Wajahnya penuh kegusaran. "Baiklah, Ibu Suri ini akan memberitahu Pangeran Hao. Xiao He, pergi dengan Ibu Suri ini ke Istana Kecantikan."

"Ibu Suri!" He Ying resah. 72 selir Pangeran Hao tinggal di Istana Kecantikan. Bagaimana bisa Ibu Suri pergi ke tempat semacam itu?

"Pangeran Hao tidak berada di Istana Kecantikan." Perkataan Wu Ling melegakan hati He Ying.

Pei Ya Ran melemparkan kipas bundar itu dengan keras ke tanah. "Dimana dia?"

Ia sudah mencemaskannya saat Pangeran Hao minum-minum kemarin, segera memerintahkan orang untuk mencarinya segera setelah ia menghilang. Mereka mencari sepanjang malam tetapi tidak ada hasilnya. Pagi-pagi sekali hari ini, ia menerima kabar bahwa Pangeran Hao pingsan di hutan di sebelah Istana Samping semalam, bahkan sampai menginstruksikan Wu Ling untuk menemukan wanita yang ditemuinya di dekat Istana Samping semalam.

Ia memanggil Wu Ling untuk memastikan kebenaran kabar ini.

Sebelumnya, ia mengambil seorang dayang dari Istana Samping, masuk ke Istana Kecantikan. Dulu, ia akan menutup mata pada 72 selir di Istana Kecantikan, tetapi ia tidak mampu menahannya lagi sekarang!

"Sejak kapan Pangeran Ini membutuhkanmu untuk ikut campur dalam urusanku?" Suara dalam dan rendah seorang pria pun terdengar. Ketika ia melihat ke arah datangnya suara, ada seorang pria mengenakan jubah ungu dengan motif ular. Rambutnya terikat dengan seutas sutra biru, giok bundar berukir tergantung di pinggangnya.

Contoh giok bundar berukir.

Saat ia bergerak, sikapnya yang mengesankan itu sampai pada titik terasa menindas.

Aura ini menyebabkan semua kemarahan Pei Ya Ran menguap. Ketika He Ying menyadarinya, ia segera membungkuk dan mengundurkan diri.

"Wu Ling, mundurlah."

"Hamba mengikuti perintah."

Hanya tersisa Pei Qian Hao dan Pei Ya Ran di Istana Kedamaian Penuh Kasih.

Sifat garang Pei Ya Ran langsung menghilang, tingkah laku dari seorang gadis kecil pun muncul di raut wajahnya. Ia mengangkat tangan kanannya untuk menggenggam tangan Pei Qian Hao.

"Kakak, aku ataukah para wanita di Istana Kecantikan yang lebih penting di hatimu?"

Pei Qian Hao menatapnya dan mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya.

"Kakak ..." Pei Ya Ran mengambil kesempatan untuk memeluknya dan meletakkan kepalanya di dadanya.

"Kau adalah adik perempuanku. Bagaimana mungkin para wanita itu dibandingkan denganmu?" Ia mendorongnya pergi dan berjalan ke sebuah meja, menuangkan secangkir teh hijau untuk dirinya sendiri.

Pei Ya Ran mengigiti bibirnya kuat-kuat. Adik perempuan. Adik perempuan lagi! Aku tidak punya hubungan darah sama sekali dengannya! Bagaimana bisa aku dianggap sebagai adik perempuan! Apa yang paling tidak kuinginkan adalah menjadi adik perempuannya. Aku ingin menjadi wanitanya!

"Hao ..." Ia mengubah caranya memanggil dan perlahan-lahan mendekatinya.

Pei Qian Hao berbalik untuk menatapnya dan langsung mundur selangkah, memperbesar jarak di antara mereka.

"Entah aku akan mengejar masalah mengenai dayang istana itu, akan tergantung pada suasana hatiku. Apabila kau bosan di Istana Kedamaian Penuh Kasih, bawalah Xiao He untuk menemanimu ke Taman Kekaisaran. Bunga Ungu Harum yang ditanam dari Xi Liu tahun lalu sudah mekar." Lalu ia meletakkan cangkir tehnya dan berbalik pergi.

Memperhatikan sosoknya yang pergi, Pei Ya Ran tidak sanggup berbicara dan mengepalkan tangannya erat. Sebenarnya, ia menyukaiku atau tidak? Atau, apakah ia takut pada Tiga Panduan Kardinal dan Lima Kebajikan Konstan?

(T/N: Jenis etika tradisional China. Silakan kunjungi link ini jika berminat mengetahui lebih banyak.)

"Ibu Suri, Pangeran Hao sudah pergi." He Ying merasakan sesuatu mencengkeram hatinya. Ia sangat jelas tentang niatan Ibu Suri terhadap Pangeran Hao.

"Xiao He, aku baru berusia delapan belas tahun. Mengapa ia harus melakukan ini padaku?" Air mata mengalir turun tiada henti dari mata Pei Ya Ran.

He Ying mengigiti bibirnya, merasa kasihan padanya. "Aku memahami rasa sakit Anda. Dengan berapa banyak tahunnya kalian bersama-sama, Pangeran Hao sudah pasti menyukai Anda. Tetapi, dengan keadaan sekarang ini, Pangeran Hao tidak punya pilihan lain selain menjaga jarak dengan Anda. Istana Kecantikan hanyalah tipu muslihat lain untuk mengecoh publik."

Istana Kecantikan digunakan untuk mengecoh publik? Mata Pei Ya Ran bersinar. "Xiao He, kalau memang begitu ..."

"Ibu Suri, setelah menyingkirkan Commandery Prince Xie dan pangeran-pangeran kekaisaran lainnya, tidak akan ada lagi orang di pengadilan yang berani mengatakan tidak pada keluarga Pei. Pada saat itu, Pangeran Hao akan menikahi Anda."

"Xiao He, jika ia sungguh-sungguh berpikir demikian ..." wajah Pei Ya Ran penuh suka cita.

"Ibu Suri, hamba sudah menyelidikinya. Dayang yang dibawa Pangeran Hao bersamanya dari Istana Samping itu berhubungan dengan Commandery Prince Xie."

"Hm? Berhubungan dengan Xie Yun? Jelaskan lebih spesifik." Ekspresi Pei Ya Ran tegas. Kesengsaraan sebagai seorang wanita menghilang, dan auranya sebagai seorang Ibu Suri muncul kembali.

"Dayang itu adalah He Xiang Yu, orang yang Anda disiplinkan. Sebelumnya, ia menyinggung Commandery Prince Xie, tetapi saudari baiknya, Su Xi-er menanggung kesalahan itu untuknya. Hanya setelah itulah, He Xiang Yu bertemu dengan Pangeran Hao dan masuk ke Istana Kecantikan."

Saat He Ying berbicara sampai di sini, ia menjeda. "Commandery Prince Xie adalah seseorang yang akan membalas dendam walaupun hanya keluhan kecil. Mana mungkin ia memaafkan seseorang yang benar-benar menyinggungnya? Sementara, untuk masalah Su Xi-er menanggung kesalahan itu, Commandery Prince Xie tidak menindaklanjutinya."

"Xiao He, instruksikan dayang yang bertanggung jawab di Istana Samping untuk menyingkirkan Su Xi-er secepat mungkin. Biarkan dulu nyawa He Xiang Yu." Sudut mulut Pei Ya Ran terangkat sementara matanya dipenuhi kejahatan.

"Hamba telah menginstruksikan dayang yang bertanggung jawab di Istana Samping. Su Xi-er akan segera sepenuhnya menghilang."

"Kerja bagus! Aku akan memberikanmu hadiah besar!"

***

Sementara itu, Su Xi-er tidak mengetahui bahwa Ibu Suri sudah 'memperhatikan' tentang dirinya. Setelah menggosok pispot semalaman kemarin malam, tubuhnya lemah dan satu-satunya pikirannya adalah istirahat yang cukup.

Akan tetapi, tepat setelah ia memasuki kamarnya, seseorang membuka pintunya dari luar. Dayang Senior Zhao masuk ke dalam kamar sambil membawakan satu mangkuk putih.

"Su Xi-er, duduk. Aku sendiri yang menginstruksikan seseorang untuk merebuskan semangkuk sup ayam untukmu. Minumlah selagi masih panas dan jagalah tubuhmu." Kemudian, Dayang Senior Zhao meletakkan mangkuk putihnya di atas meja.

Su Xi-er melihat isi mangkuk putih itu. Sup Ayam Jamur Kuping. Terdapat tiga potong besar daging ayam dengan beberapa iris daun bawang bertaburan di atasnya.

Sup Ayam Jamur Kuping

Seseorang hanya bisa makan daging sekali setiap bulannya di Istana Samping, itu pun tumisan dengan hidangan sayuran. Tidakkah Dayang Senior Zhao terlalu baik hati, secara pribadi menyuruh seseorang untuk merebuskan sup ayam untukku?

"Minumlah selagi masih panas." Wajah Dayang Senior Zhao dipenuhi senyuman selagi ia mendesak Su Xi-er untuk cepat-cepat meminumnya.


Chapter 9        |        TOC        |        Chapter 11

Continue reading CTF - Chapter 10